BAB 20

4.1K 177 4
                                        

WARNING: Some content may be inappropriate for underage. You have been warned.

Trrrr...Trrrr...Trr-Klik.

"Halo?"

"Tavisha."

Aku menyeringai senang. "Ini siapa ya?" isengku.

Bisa kubayangkan wajah terperangah Tama saat ini. Matanya akan melotot sedikit, kemudian dia akan mengusap tengkuknya sekilas. "Kamu serius nggak kenal suaraku?"

Tawaku menyembur keluar. Aku benar-benar tidak bisa bertahan lama kalau mengisengi Tama. Reaksinya sangat menggemaskan dan membuatku ingin mencubit pipinya.

"Tamaaa." Akhirnya aku pun mengaku. "How can I not know your voice?" sahutku geli.

Tama menghembuskan nafas dengan keras, sedikit agak berlebihan. "Dasar, selalu saja mengerjaiku. Kamu dimana? Kayaknya sebentar lagi hujan."

Tepat setelah itu, petir menyambar dengan keras, dan butiran-butiran air jatuh membasahi bumi dengan deras. "Ah, hujan." desahku.

"You okay?" Suara Tama terdengar khawatir. "Mau kujemput?"

Aku menggeleng kecil. "Tidak, nggak usah, Tama." Aku menjepit gadget diantara telinga dan pundakku dan membuka paying lipat yang ada di ranselku. "Aku sudah dekat, sebentar lagi aku akan sampai."

"Really?"

Aku tertawa kecil. "Really."

"Okay, hati-hati di jalan. Perhatikan langkahmu, jangan kepeleset."

"Iya, iya."

"Serius, mau kujemput saja? Hujannya benar-benar deras, aku khawatir,"

Hatiku menghangat akan perhatiannya. "It's okay." ujarku menyakinkannya.

Tama terdiam sejenak. "Oke, hati-hati di jalan."

Aku memutuskan panggilan dan mendongak. Benar kata Tama, hujannya benar-benar deras. Memang sih, aku sudah dekat dengan rumah, tapi kalau nekat menerobos hujan begini, tetap saja aku akan basah kuyup.

Tak punya pilihan lain, aku pun berjalan dengan cepat sambil memegang gagang payung dengan kedua tanganku. Serius, kalau aku melonggarkannya sedikit saja, maka payungku pasti akan terbang akibat angin yang sangat kencang.

Kaus kakiku basah akibat air yang meluap, merembes masuk ke dalam melalui sepatuku. Arah anginnya membuat seragamku basah. Sepertinya payung tidak berguna di saat-saat seperti ini.

Sudut mataku menangkap sebuah bangunan dengan atap yang lumayan. Aku pun melangkahkan kakiku kesana, berteduh sebentar, hendak menunggu hujan agak reda. Aku menepuk pundakku dan kepalaku yang basah.

Sebenarnya seluruh tubuhku sudah basah kuyup, Benar-benar payung yang tak berguna. Aku pasti akan membuangnya begitu aku sampai di rumah.

Angin berhembus, membawa gigil yang menembus tulang. Aku memeluk diriku sendiri dan menggosok-gosok lenganku dengan telapak tangan, berusaha menciptakan setitik rasa hangat.

Seorang pria berpakaian hitam-hitam berlarian menerobos hujan menuju kearahku. Refleks aku pun bergeser memberinya ruang. Sambil tetap mengusap-usap lenganku, aku mendongak menatap tetesan-tetesan air menggelantung di atap sebelum jatuh ke Tanah. Senyumku mengembang membayangkan pria yang akan menungguku ketika aku sampai di rumah.

Tama akan menyambutku dengan pelukannya yang hangat, dan mungkin saja dengan masakannya yang lezat dan gurih. Duh, haruskah aku menerobos hujan saja sekarang? Pasalnya aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Tama.

Look At Me ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang