Kukira Tama bercanda ketika dia mengatakan itu.
Tapi ternyata tidak. Dia serius.
Ya Tuhan, jadi selama ini Papa dan Mama sudah tahu hubungan aku dan Tama? Sejak kapan? Arrgh, pantesan Mama selalu cengar-cengir tidak jelas setiap kali aku menceritakan tentang hubungan cintaku. Kenapa aku tidak pernah sadar?!
Dan kapan pula Tama berkesempatan untuk membicarakan tentang hubungan kami dan bahkan mendiskusikan tentang lamaran?!
Priaku gercep banget, ngebet banget mau nikah sama aku. Ternyata dia sebegitu terpesonanya ya sama aku?
Mama sih jelas setuju seribu persen tentang hubungan kami. Apa yang perlu dipermasalahkan? Mama sudah kenal Tama selama puluhan tahun, Tama sudah dekat denganku dari dulu, beliau sudah yakin bahwa Tama adalah pria baik-baik.
Tama sudah dianggap seperti anak kandungnya sendiri. Meskipun dia tidak pernah menyangka bahwa suatu hari nanti Tama akan benar-benar menjadi anaknya.
Tapi aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang Papa.
Papa sebenarnya tidak begitu setuju. Alasannya sederhana, karena Tama sudah pernah membina rumah tangga dan dia gagal. Tapi Tama sudah belajar banyak dari pengalamannya, dan lagi pernikahannya dengan Adel tidak berdasar cinta, jadi wajar saja kalau rumah tangga mereka tidak bisa bertahan lama.
Aku tidak tahu cerita lengkapnya karena Tama tidak mau memberitahuku, tapi aku sempat mendengar sebagian dari Mama. Mereka tidak mau menceritakan secara lengkap padaku, membuatku curiga kalau ada sesuatu yang terjadi saat Tama bicara dengan Papa Mama.
Tapi intinya, karena Mama yang terlalu hype dan terus membujuk Papa, akhirnya Papa pun luluh dan mengizinkan hubunganku dengan Tama.
Tidak usah diberitahu pun, aku tahu bahwa Papa sebenarnya sangat menyukai Tama. Dia hanya mengalami pergulatan batin, mengingat bahwa dia sering menyuruh Tama menjagaku selagi mereka tidak ada. Papa mengira bahwa cinta kami tumbuh karena keseringan berdua.
Intinya, Papa tidak menyangka bahwa Tama akan jatuh cinta padaku.
Enak saja, emangnya apa yang kurang dari aku? Cantik iya, pinter lumayan, seksi nggak usah dibilang lagi.
Tapi aku tidak menyalahkan Papa, siapa yang bisa menyangka bahwa Adhitama yang dewasa dan mapan bisa jatuh cinta pada anak ingusan yang baru berumur delapan belas sepertiku? Tama bisa saja mendapat pasangan lain yang dewasa, mandiri, dan bisa mengimbangi hobinya.
Memang salah pesonaku yang terlalu mahadahsyat.
Oke, mari hentikan ajang tebar pesona ini sebelum aku ditimpuk massa.
Papa mengizinkan hubungan kami, dengan tiga syarat.
Pertama, aku harus tetap kuliah. Poin ini sama sekali tidak menyulitkanku, karena aku memang berencana untuk tetap melanjutkan jenjang pendidikanku. Aku sudah memutuskan setelah berpikir selama sebulanan, kalau aku tidak akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. Aku memilih universitas swasta di kota yang sama, jurusan bisnis dan managemen. Sekali tepuk kena dua lalat. Aku bisa belajar untuk tetap melanjutkan bisnis keluarga, dan aku tidak perlu berjauhan dengan Tama.
Tapi ini artinya aku akan berpisah dengan Mega dan Adipati. Karena keduanya sudah mengikuti SNMPTN dan bersiap untuk SBMPTN.
Well, sedekat apapun kami, suatu hari nanti perpisahan tetap akan datang cepat atau lambat.
Sedih sih, tapi apa boleh buat. Mimpi dan cita-cita setiap orang berbeda, hanya karena persahabatan, bukan berarti kami harus berdekatan setiap waktu 'kan? Lagipula persahabatan itu tidak akan terputus hanya karena jarak dan waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Look At Me ✔
Teen Fiction[Completed] [16+] Lebih dari setengah eksistensi hidupnya dihabiskan seorang Tavisha Kaelyn untuk mencintai Adhitama Dirgantara, duda yang lebih tua tiga belas tahun darinya. Hingga akhirnya Tavisha merasa bahwa cintanya sudah berbalas, ternyata sos...
