Haloo, maaf ya aku lama apdetnya. Habisnya kuliah membuatku gila.
Apa ada yang kangen sama Tama?
Selamat menjalani ibadah puasa.
Jangan lupa tekan ⭐ dan selamat membaca 😊
"Lo masih nggak mau balik juga?"
Aku mengabaikan ocehan Mega dan berpura-pura mengerjakan soal Matematika.
Mega berdecak kesal, tidak tahan lagi menghadapi sikap anehku beberapa hari ini. "For God's sake, ini udah hari ketiga lo nggak pulang, Vi! Mau sampe kapan lo disini? Kalo lo memang lagi ribut sama Tama, cerita kek ke gue!"
"Gue nggak apa-apa."
Aku memang belum menceritakan apa yang terjadi pada Mega, lebih tepatnya...tidak sanggup. Takut kalau aku sudah membocorkan semuanya, maka apa yang aku hindari akan terjadi.
Bahwa aku tidak bisa lagi menatap Tama seperti biasanya.
Maka inilah pelarianku. Belajar di sekolah sampai sore, lalu lanjut belajar hingga malam, begitu terus setiap harinya. Berpura-pura menyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa aku dan Tama akan kembali seperti dulu. Aku hanya perlu menjauhkan diri sejenak, mendinginkan kepalaku, agar aku tidak lagi bersikap tak wajar, agar aku kembali menjadi Tavisha yang dia kenal.
Mega merebut semua buku yang ada digenggamanku dan melemparnya asal. Aku melotot marah, tapi bukan Mega namanya kalau dia tidak bisa memaksaku melakukan apa yang dia inginkan.
Dia mencengkram daguku dengan telapaknya dan membaliknya ke kiri dan kanan, matanya memicing tajam. "Kantung mata lo tebel, dan muka lo pucat banget. Ini yang lo namain nggak apa-apa?"
Aku menepis tangannya dan terkekeh. "Ini yang dinamakan kurang asupan Tama."
"Terus kenapa kalian nggak ngomongan?" erangnya kesal.
"Just...nothing."
"Vi, ini nggak lo banget, diam galau gini. Tavisha yang gue kenal bakalan terus maju ke depan buat dapetin yang dia pengen tanpa peduli konsekuensi yang harus dia tanggung!"
Aku mencibir namun bibirku membentuk seulas senyum. "Cara lo ngomong seakan-akan gue nekat tanpa pake otak."
"Memang."
Ini Mega, sahabat yang senantiasa menghujat di depan tapi selalu bisa bikin aku senyum.
"Nah, sekarang coba lo cerita apa yang terjadi."
"Gue..." Aku menghela nafas. "Gue...gue hampir nyium Tama, Meg."
Baru kali ini aku melihat mata Mega sebesar ini. "WHAT?! Nyium as in...in the lips?"
Aku mengangguk.
Hening sejenak, sebelum tiba-tiba Mega memukul punggungku begitu keras, nyaris membuatku terjungkal ke depan.
"Apaan sih?!" cibirku sambil mengusap punggungku yang berdenyut perih.
"Bagus dong! Gila nggak nyangka sohib gue yang paling liar akhirnya ambil action juga! Terus kenapa lo galau-galauan kayak gini?"
Aku mengacak rambutku frustrasi. "Ini beda, Mega! Gue bingung sama perasaan gue sendiri!"
"Lah, lo udah kejar dia dari dulu dan ketika udah hampir dapet gini, lo malah galau, gue bener-bener nggak ngerti lo sumpah!"
"Iya, gue tahu! Gue ngerasa udah makin deket sama Tama, tapi semakin dekat, semakin gue ngerasa takut, dan gue nggak tahu kenapa."
"Oh, jadi lo berubah pikiran?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Look At Me ✔
Roman pour Adolescents[Completed] [16+] Lebih dari setengah eksistensi hidupnya dihabiskan seorang Tavisha Kaelyn untuk mencintai Adhitama Dirgantara, duda yang lebih tua tiga belas tahun darinya. Hingga akhirnya Tavisha merasa bahwa cintanya sudah berbalas, ternyata sos...
