BAB 18

3.4K 149 4
                                        

Selama beberapa hari ini, ada pemandangan yang tidak biasa.

Seorang gadis, yang biasanya bawel nggak ketulungan, sekarang hanya diam di kelas sewaktu jam istirahat, membuka buku pelajaran dan mengerjakan soal-soal. Gadis yang biasanya ditegur guru karena selalu menguap dan ketiduran di kelas, sekarang duduk tegak dan mendengarkan pelajaran dengan sungguh-sungguh.

Gadis yang biasanya tidak akan melepaskan kesempatan untuk mendekati Adhitama dan menempelinya bak lintah darat, sekarang hanya kalem, duduk di ruang tamu sambil belajar dengan tekun, tidak peduli seberapa dekatpun pria itu dengannya sekarang. Sungguh sangat berbeda dengan dia yang biasanya seperti cacing kepanasan ditaburi garam dan disiram cuka jika sudah berdekatan dengan pria pujaan hatinya.

Yap, that's me.

Aku, Tavisha, sedang berusaha untuk melepaskan nafsu duniawi-ku untuk sementara yang kebanyakan terdiri dari menggosip, nyinyir, membangkang guru, dan juga menggerayangi tubuh calon suamiku, demi mendapatkan nilai dan masa depan yang lebih cerah.

Selalu patuh mendengarkan pelajaran meski mataku sudah sangat amat perih bagai diperciki sambal jalapeno, tidak menggosipkan murid dan guru nyebelin bersama Mega, dan yang paling parah tidak menghiraukan keberadaan Tama di sekitarku.

Ya ampun, semua ini dipastikan membuatku mati perlahan dari dalam.

Bayangkan saja, setiap malam, mendapati pria itu memasak makanan lezat dan bernutrisi untukku, kalau biasanya aku akan memeluk punggungnya selama dia memasak, sekarang aku hanya menunggunya di ruang tamu sambil mengerjakan soal.

Apalagi Tama selalu membuatku meleleh, menyuapiku dengan telaten, membersihkan mulutku yang belepotan dan juga menemaniku belajar.

Meskipun aku tidak tahu apakah perlakuan Tama bisa disebut dengan menemani. Terkadang dia memainkan rambutku, memilinnya di antara jemari lentiknya, terkadang tiba-tiba saja dia memelukku sekilas dan menenggelamkan wajahnya di bahuku, setiap gerakan kecilnya sukses membuatku gagal fokus.

Untung saja aku tidak refleks menerjangnya bagaikan singa betina yang kebelet kawin. Kekurangan asupan kehangatan Tama plus tindakan-tindakan kecilnya yang manis, membuatku takut kehilangan kontrol di dekatnya.

Sampai suatu titik, aku tidak tahan lagi dan memutuskan untuk menginap di rumah Mega. Alasan utamanya tentu saja supaya aku bisa fokus belajar tanpa ada gangguan dari Tama.

Tama menyetujui keputusanku, meskipun dia lebih terlihat seperti anak anjing besar yang ditinggal majikannya tanpa makanan dan mainan, dia tersenyum tapi seluruh gerak tubuhnya menunjukkan bahwa ia enggan membiarkanku menginap di rumah Mega.

Seperti sekarang.

"Tama, aku nggak bisa nafas." cekatku sambil menepuk bahunya dengan keras.

Tama melonggarkan pelukannya tapi masih tidak melepaskan, hanya memberiku ruang untuk bernafas. Entah sudah berapa kali kudengar ia menghembuskan nafas panjang.

"Do you really have to go?"

Aku terkekeh, diam-diam merasa bahagia setengah mati. "Tama, aku cuma menginap semalam di rumah Mega!"

Lagi-lagi dia menghela nafas. "Kalau begitu, biarkan aku memelukmu sebentar. Akhir-akhir ini, kamu jarang memelukku."

Pertahananku melemah, dan aku melingkarkan lenganku di pundaknya, menariknya mendekat padaku. "Jadi kamu merindukan pelukanku, begitu?" godaku.

Baru saja aku akan pura-pura menepis pembicaraan itu, diluar dugaan Tama mengangguk. "...maybe."

Aku menahan nafas sejenak. Ya ampun, ini semua tidak baik untuk kesehatan jantungku.

Look At Me ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang