Hari Senin, hari dimana orang paling sering mengutuk. Terutama aku.
Dimulai dari pertama kali membuka mata, pasti orang-orang sudah menggerutu dalam hati, membayangkan harus bersekolah selama 6 hari penuh sebelum weekend datang menjemput.
Belum lagi ketika guru killer yang membuat semua murid keder dan tidak berani telat sedetikpun masuk ke kelas, mendadak absen dikarenakan harus membawa kucingnya yang diare ke dokter.
Padahal aku sudah berangkat setengah jam lebih awal supaya tidak telat dan bisa mencontek peer Mega. Bayangkan saja betapa dongkolnya aku.
I mean, 17 tahun hidupku, pernah aku terkena diare selama seminggu berturut-turut bahkan tidak sekalipun aku berkonsultasi kepada dokter hanya karena penyakit perut itu. Dan ini hanya seekor kucing?!
Yah, lo mah nggak bakal ngerti perasaan jomblo.
Maksud lo apa?
Yang nganggep kucing sebagai pendamping hidup gitu lho.
Ohh gitu, pantesan aja kalau ada orang yang sepanik itu.
Dasar.
Jones banget sih.
Oke, fix, abaikan sebelum aku dicakar para pembaca yang merasa tersinggung disini.
Halah jangan banyak bacot, Vi, elo juga jones tuh.
Ups, hehe.
Intinya, dalam hati aku setengah gembira setengah dongkol, gembira karena aku tidak perlu menahan nafas dan menahan boker sambil berpura-pura mencoret sesuatu di catatan setiap kali guru killer itu mengintai mangsanya untuk disuruh mengerjakan soal di depan.
Dan dongkolnya karena aku sudah mengerjakan peer guru itu dengan sepenuh hati tapi ternyata tidak dikumpulkan.
Tuh lihat, tulisan gue bahkan udah kayak kaligrafi saking bagusnya.
Alhasil hari ini kami dipulangkan jam 1 siang karena kelas dibatalkan secara mendadak. Aku juga tidak punya kegiatan ekstra hari ini, kalau tidak mungkin aku bisa tiba di rumah sekitar jam 7 malam.
Habis itu makan, mandi dan tepar sampai besoknya.
Belajar?
Haha.
Otakku sudah mandet kalau disuruh membuka buku pelajaran lagi, sama sekali nggak bisa diajak kompromi.
Halah nggak usah sok suci, pasti kalian juga sering gitu 'kan? Ngaku aja deh.
Baru saja aku keluar dari kelas, sudah ada seorang cowok yang mencegat langkahku, membuatku mengerutkan dahi pelan.
Bukannya tidak kenal, tapi aku sudah sangat sering melihatnya, dia sering menyapaku waktu pagi, sering bergabung denganku untuk makan di kantin dengan Mega, sering mengirimiku sms yang kadang kuabaikan, terlalu sering hingga aku merasa agak bosan.
Gibran bukannya cowok bejat kayak cowok kebanyakan, dia kuanggap juniorku yang lucu, yang selalu mempunyai senyum fresh yang menyegarkan hati, dan menyegarkan dompet juga karena tak terhitung berapa kali sudah ia mentraktirku makan.
Tentu saja aku terima, rejeki nggak boleh ditolak 'kan?
"Kak Avi."
Seperti biasa aku pun tersenyum sopan dan menghampirinya. "Iya, kenapa Bran? Lo nggak kelas?"
Cowok yang tingginya sekepala dariku itu terlihat gugup, berkeringat dan matanya melihat kesana kemari. Aku jadi takut, sepertinya apa yang ingin dia katakan padaku sangat rahasia.
Gibran menggeleng pelan dan berbicara dengan suara agak kecil. "Kak habis ini punya waktu senggang 'kan? Aku mau ngomong bentar boleh?"
Ya ampun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Look At Me ✔
Roman pour Adolescents[Completed] [16+] Lebih dari setengah eksistensi hidupnya dihabiskan seorang Tavisha Kaelyn untuk mencintai Adhitama Dirgantara, duda yang lebih tua tiga belas tahun darinya. Hingga akhirnya Tavisha merasa bahwa cintanya sudah berbalas, ternyata sos...
