BAB 49 - END

10K 232 18
                                        

Are you ready?

Happy reading!!!

***

Empat tahun kemudian....

Tok tok tok!

Aku menoleh pada pintu yang diketuk lembut, hanya untuk mendapati seraut wajah Papa yang memerah. Seketika senyumku tertarik lebar. "Papa!" Aku beranjak berdiri, memeluk tubuh Papa dengan erat.

Terdengar suara isakan lembut dari pundakku. Aku merenggangkan pelukanku. "Papa nangis?" tanyaku geli.

Pertanyaan retoris, karena wajah Papa sekarang sudah merah padam, berusaha menahan isakannya dengan mengatupkan bibir erat-erat. Ekspresi Papa begitu lucu, hingga membuat tawaku menyembur. "Papa kenapa nangis sih!" Ibu jariku mengusap pipinya. "Senyum dong, masa anaknya mau nikah nangis?"

Nafas Papa tersendat-sendat. "Tavishaa...anak Papa satu-satunya, hiks, Papa nggak nyangka harus menikahkan anak Papa yang baru berumur 22 tahun."

Aku tertawa, Papa sudah mengulangi kalimat yang sama setidaknya puluhan kali sejak kemarin.

Papa memegangi kedua bahuku, sorot matanya serius sekali. "Vi, masih belum terlambat. Kalau kamu mau batal nikah, bilang sama Papa sekarang juga, biar Papa langsung kirim kamu ke luar negeri. Papa sudah siapkan passport dan visa kamu sejak dua hari yang lalu." tuturnya panjang lebar.

Aku memukul pundaknya dengan jengkel. "Papa ih!" seruku. "Aku udah cantik-cantik begini, masa disuruh batal nikah?!" Aku memamerkan gaun pengantin putih yang sedang kukenakan.

"Makanya, ayo kita pergi sebelum terlam--wadaww!! Sakit, Ma!" Papa mengaduh kesakitan tatkala telinganya dijewer oleh Mama.

Mama tampak begitu cantik dengan dress berwarna biru yang membalut tubuhnya yang masih kencang. "Papa ini! Daritadi dicari-cari malah ngajak anaknya kabur! Sana dicari sama besan!"

Papa langsung misuh-misuh. Aku tertawa, memeluk Mama dengan sayang. "Ututu..cantiknya anak Mama." tukasnya sambil mengusap kepalaku.

"Kamu udah siap?"

Aku mengangguk.

"Benar-benar sudah siap? Hidupmu besok tidak akan sama lagi, Vi."

Aku mengerang kesal. "Mama! Aku sudah mempersiapkan diri buat menikah sama Tama sejak usiaku delapan belas!"

Mama tertawa renyah. "Mama cuma bercanda. Selamat menjalani kehidupan pernikahan dengan Tama. Mama harap kalian berdua selalu bahagia. Oh ya." Mama maju selangkah, berbisik di telingaku. "Selamat menikmati malam pertama juga, ingat jangan terlalu berlebihan."

"Mama!" Wajahku terasa terbakar. Hanya Mama seorang-lah yang bisa mengeluarkan lelucon memalukan seperti ini.

Aku menjalin kedua tanganku dengan gugup. Perkataan Mama membuatku jadi teringat, sejak dua hari yang lalu, aku gugup sekali, takut kalau ternyata aku tidak bisa melakukannya dengan baik, takut kalau nanti aku akan mengacaukan semuanya.

Mama meraih kedua tanganku dengan lembut. "Jangan takut. Anak Mama pasti bisa! Mama sudah melihat bagaimana Tama mencintai kamu, dan Mama yakin dia pasti akan membahagiakan kamu." sahutnya yakin.

Perkataan Mama hampir membuatku mewek.

Aku tidak sempat bermanja-manja untuk terakhir kalinya dengan Mama, ketika pintu kembali diketuk.

Seraut wajah cewek yang jutek muncul. Aku memekik girang. "Megaaaa!!!!"

Cewek itu semakin tinggi, rambutnya juga dibiarkan panjang hingga ke pundak. Auranya semakin dewasa, tapi wajah datarnya yang terkesan jutek sama sekali tidak berubah. Ya ampun, rindunya aku pada sahabat yang sudah tidak kutemui setahun ini.

Look At Me ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang