[Completed]
[16+]
Lebih dari setengah eksistensi hidupnya dihabiskan seorang Tavisha Kaelyn untuk mencintai Adhitama Dirgantara, duda yang lebih tua tiga belas tahun darinya.
Hingga akhirnya Tavisha merasa bahwa cintanya sudah berbalas, ternyata sos...
Mataku membelalak takjub menyaksikan pemandangan mengejutkan di hadapanku. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan rumput hijau yang menutupi tanah, hijau itu terlihat begitu lembut, begitu memanjakan mata. Namun bukan hanya itu saja, pemandangan itu dipercantik dengan adanya bulan purnama yang sedang menampakkan pesonanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nyalanya begitu terang, hingga tanpa bantuan lampu atau senter pun, hamparan hijau itu terlihat jelas, dan sama sekali tidak menakutkan.
Sebuah pemandangan yang tidak pernah aku bayangkan bisa ada di balik pepohonan yang begitu angker.
Aku menarik nafas. "Dari....dari mana kamu tahu tempat seperti ini?" bisikku, masih terpana.
Bukannya menjawab, Tama mengambil tempat di sebelahku dan terkekeh pelan. "Beautiful, isn't it?"
Aku mengangguk setuju. Lebih dari cantik, pemandangan itu berhasil mencuri nafasku, membuat mataku tidak bisa berpaling barang sejenak. Tidak pernah aku melihat hamparan rumput sehijau dan seasri ini, rasanya semua lelahku menguap seketika.
Tama mengeluarkan sebuah kain yang dilipat rapi dari sebuah kotak dengan ukuran lumayan besar.
Alisku berkerut heran. "Dari mana pula datangnya kotak itu?"
Pria itu terbahak. "Aku membawanya dari mobil, Avi. Saking takutnya, kamu bahkan tidak sadar ada kotak sebesar ini di tanganku?" tanyanya dengan geli.
Aku terperangah. Benarkah? Sebuta itukah aku pada keadaan di sekitarku hingga Tama harus membawa kotak besar itu sambil menggendongku?
"Maaf, aku nggak sadar." ringisku penuh rasa bersalah.
Tama menggeleng. Ia membuka kain itu, menggelarnya di atas rumput hijau lembut, menjadikannya sebagai alas. Tangannya menepuk ruang kosong di sebelahnya. Aku meringsut duduk, masih tidak bosan menikmati kecantikan alam di depan mataku.
"Ini indah sekali." desahku.
"I know you will like this."
Aku menoleh. "Jadi, kamu bawa aku buat ngeliat pemandangan ini?"
Tama mengangguk. "Sudah lama aku ingin membawamu kemari. Tapi pas sekali...malam ini tepat bulan purnama sempurna, malam paling cocok untuk piknik."
Mataku mengerjap bingung. "Piknik?"
"Tadaa!" Tama mengeluarkan isi dari kotak besar itu. Ada banyak sekali kotak-kotak makanan, ukurannya beragam, ada yang kecil, ada juga yang besar, isinya sudah pasti buatan tangan pria di sebelahku ini. "Tepat sekali kita belum makan malam."
Jadi ini sebabnya dia menarikku keluar dari acara makan-makan sekolah? Aku mendengus geli. "Dasar perhitungan." ejekku.
Tama membuka kotak makanan pertama dan mengangsurkannya padaku. Aku memekik gemas melihat sushi-sushi mini yang sudah disusun sedemikian rupa hingga memenuhi setiap jengkal kotak itu.