MAFAZA 6

48 1 0
                                    

Suasana malam hari dengan gemericik air hujan membasahi jalan jalan yang membuat udara semakin dingin. Rumah mewah yang hanya berpenghuni 4 orang itu terasa semakin sunyi. Hanya ada suara keributan di dapur yang memenuhi semua ruangan dirumah.

"Bi ini gimana motongnya? Kayaknya tadi wortelnya gede tapi kenapa jadi kecil sih." omel Aza yang masih sibuk mengupas wortel.

Bi Inah dan Mang Ujang pembantu di rumah, hanya duduk dan melihat Aza dari meja dapur. Aza yang menyuruh mereka untuk melihat tanpa membantu. Karena malam ini Aza ingin memasak untuk mereka dan kakaknya.

"Duh non Aza ngupasnya jangan tebel-tebel." perintah Bi Inah dengan senyum geli.

"Udah non kalo nggak bisa biar Bi Inah sama Mang Ujang aja yang masak." sambung Mang Ujang dengan tawanya.

"Cuma masak sop sama tempe goreng aja ribet amat." gerutu Afkar yang sedang memotong buah tomat dan wortel untuk dia minum.

Ya Afkar memang hobi banget minum minuman sehat seperti jus bayam, jus jeruk campur wortel, atau jus wortel campur tomat, dll.

"Bawel deh. Bantuin kenapa." omel Aza yang masih memasukkan sayur-sayur untuk membuat sop.

Seperti biasa disaat orang tua mereka pergi bekerja atau jalan-jalan selama berbulan bulan, mereka selalu makan bersama di ruang makan. Aza dan Afkar tidak pernah memandang perbedaan derajat. Mereka menganggap semua manusia itu sama derajatnya. Sama-sama harus dihargai.

Aza dan Afkar lebih dekat dengan Bi Inah dan Mang Ujang daripada dengan kedua orang tuanya. Sering kali Aza dan Afkar cerita tentang masalah pribadinya ke Bi Inah dan Mang Ujang. Tapi yang paling sering memang Aza.

Bi Inah dan Mang Ujang sudah bekerja menjadi pembantu semenjak Afkar baru lahir sampai sekarang Afkar berumur 21 tahun. Wajar jika mereka sudah menganggap Bi Inah dan Mang Ujang seperti keluarga sendiri.

2 jam sudah Aza sibuk dengan masakannya. Kadang Aza suka membantu Bi Inah di dapur. Tapi hanya membantu memasukkan bumbu-bumbu masakan yang sudah Bi Inah siapkan saja.

Aza jalan menuju meja makan dengan membawa hasil masakannya. Sayur sop di tangan kanan dan tempe goreng beserta sambal di tangan kiri. "This is it sayur sop and tempe goreng ala Mafaza Queen." senyum Aza dan mempergakan seperti chef Fara Queen.

"Makan gini aja nunggu sampe mau mati." omel Afkar.

"Nggak pa-pa dong. Kan mau mati belum udah mati." timpal Aza dengan menjulurkan lidahnya.

"Sudah-sudah ayok makan dulu. Keburu dingin nanti." Bi inah mengambil piring untuk Aza dan Afkar.

"Pasti enak nih." puji Mang Ujang yang sudah mengambil nasi dan lauk pauknya.

Mereka mulai menyantap makanannya dengan semangat. Baru pertama suap senyum mereka sudah merekah.

"Non pinter masak."

"Aduh non belajar dari mana sih. Ini enak banget loh."

Puji Bi Inah dan Mang Ujang.

Afkar melihat ekspresi Aza yang senyum bahagia. Dia memberikan jempol tangan kanannya tepat di depan muka Aza.

Aza melihat dan mendengar semua pujian hanya tersenyum malu dengan kedua tangannya menutup mulutnya.

Jarum jam sudah berhenti di angka 21.00 . Acara makan malam pun juga sudah selesai. Bi Inah dan Mang Ujang sudah tidur di kamar mereka masing-masing.

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang