MAFAZA 27

23 3 0
                                    

Suasana lorong sekolah yang ramai. Banyak murid-murid sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Jam istirahat sekolah sangat berpengaruh untuk para murid.

Ayesha hampir seminggu ini sibuk dengan kegiatannya. Dia di tunjuk sebagai brand ambassador sekolahnya untuk mempromosikan sekolahnya ke dinas pendidikan yang sedang mengadakan lomba visi dan misi seluruh SMA se-ibukota.

Bukan hanya kecantikannya. Ayesha juga sangat berbakat dalam berbicara. Walaupun kalo sama temen lebih sering ketus.

Nggak cuma Ayesha saja yang jadi brand ambassador. Nia pun juga ikut. Menemani Ayesha. Memang mereka berdua sudah di akui kecantikan parasnya.

Setelah dari ruang guru untuk mengikuti meeting, Ayesha jalan melewati lorong di temani Wastu. Tangannya selalu memeluk lengan Wastu. Canda dan tawa selalu ada di setiap obrolan mereka berdua.

"Kamu nggak makan?" tanya Wastu yang sedari tadi belum liat pacarnya makan.

"Aku bawa bekal. Nanti makan di kelas aja sekalian nemenin Aza."

"Dia masih trauma?"

Ayesha menganggukkan kepala.

Hari ini Mafaza mulai mengikuti pembelajaran seperti biasa. Setelah satu minggu dia di rawat. Semua permintaan Mafaza sendiri. Dia merasa dirinya sudah lebih baik. Berkat sahabat-sahabatnya yang selalu menemaninya.

Sampai di depan kelas. Ayesha dan Wastu berdiri di depan pintu kelas. Ayesha pamit dan berpisah dengan Wastu.

"Sayang kamu kira nggak sakit apa?!" omel Ayesha yang kesal dengan kebiasaan Wastu mencubit hidungnya.

"Aku kan gemes." Wastu semakin memencet hidung Ayesha dan membuat hidungnya semakin merah.

"Cie pacaran mulu. Ini tempat umum kali." ejek Mafaza yang sudah berdiri di samping Ayesha.

Wastu menurunkan tangannya. Dia tersenyum malu. "Yang penting kan nggak di wc umum." ucap Wastu mengangkat kedua alisnya ke Ayesha. Dan di balas Ayesha dengan merangkul pinggang Wastu.

"Udah sono pergi." Mafaza kesal dengan keromantisan kedua temannya itu.

Mereka tertawa. Dan Wastu pergi ke kelasnya meninggalkan Ayesha dan Mafaza yang masih berdiri di depan pintu.

Ayesha melihat di dalam kelasnya. Hanya ada Mishall, Rahseti, dan Javas. Mereka bertiga asik mengobrol di bangku paling depan.

Ayesha mengambil bekalnya di tas miliknya yang berada di bangku depan. Dia dan Mafaza duduk di bangku belakang milik Mafaza. Ayesha duduk di samping Mafaza.

"Kipi sama yang lain kemana?" tanya Ayesha mengernyitkan keningnya.

Mafaza mengambil bekal makanannya di dalam tasnya. "Tadi mau ke kantin katanya."

"Sialan. Aza malah di tinggal." batinnya marah.

Mafaza melirik Ayesha yang sudah memasang muka marah. Dia tau kenapa Ayesha marah. "Tadi mereka ngajak gue tapi gue nggak mau. Kan udah bawa bekal." ucapnya tersenyum dan menarik bibir Ayesha ke atas.

Ayesha tersenyum lepas melihat tingkah sahabatnya yang konyol. "Javas tuh." ucapnya. Dia menunjuk Javas dengan kepalanya.

"Terus kenapa?" Mafaza sok tidak perduli.

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang