MAFAZA 37

26 2 0
                                    

Javas merapikan kamar tidurnya yang sangat berantakan. Hari liburnya kali ini dia habiskan bersih-bersih kamar dan tempat lain di rumahnya.

Suasana hatinya sedang bahagia. Dan bibirnya selalu tersenyum walaupun keringat sudah menetes di badannya.

"Ciiieee yang lagi bahagia." goda Ibunya yang berdiri di depan pintu kamar Javas.

"Iya dong."

"Ada apa nih?" Ibunya masuk dan duduk di pinggir kasur Javas. Kedua matanya melihat kamar anak satu-satunya yang sangat rapi. "Mafaza ya?!"

Kegiatan membersihkan meja belajarnya dia hentikan. Dia duduk di kursi. Senyumnya semakin lebar. "Ibu tau dari siapa?"

"Mishall. Tuh dia masih di bawah." Ibunya Javas mengangkat kedua alisnya. Dia bahagia melihat anaknya kembali bahagia seperti dulu.

Kening Javas berkerut. "Ngapain?"

"Jangan gitu. Putus bukan berarti jadi musuh kan? Kalo ibu liat juga Mishall masih sayang sama kamu." kata Ibu membuat kebahagiaan Javas menghilang.

Javas beranjak dan meninggalkan Ibunya yang tersenyum jahil menggoda Javas. Javas melihat Mishall duduk di ruang tamu dan menikmati cemilan yang ada di atas meja.

"Ngapain lo?" tanyanya. Pantatnya terjun ke sofa depan Mishall duduk.

Mishall tersenyum. Seketika keningnya berkerut melihat badan Javas yang penuh dengan keringat. "Gue tadi ketemu Mafaza. Dia kayaknya juga masih suka sama lo." Mishall mengambil sapu tangan untuk Javas di dalam tasnya.

Javas tersenyum dan dengan senang hati mengambil sapu tangan Mishall. "Ya alhamdulillah dong. Itu berarti gue nggak bertepuk sebelah tangan."

"Tapi Jav...gue masih sayang sama lo." tatapan Mishall terlihat sangat sedih.

"Shall...kita kan udah sepakat buat putus tapi kita nggak sepenuhnya pisah. Kalo lo butuhin gue. Sebisa mungkin gue bantu. Dan itupun sebaliknya."

Mishall merasa sangat beruntung bisa kenal dengan Javas. Bahkan Mishall merasa Javas lah orang yang paling peduli dengan dirinya.

"Jav...hari ini lo ada acara nggak? Anterin gue....."

"Sorry Shall gue nggak bisa. Gue udah ada janji sama Mafaza. Setelah dia ketemu sama lo dan temen-temen lo dia mau ketemu sama gue."

Mafaza menghubungi Javas dan meminta menemui dirinya. Entah membicarakan tentang apa yang pasti Javas merasa hari ini hari keberuntungan untuknya. Dan Javas mengusulkan tempat untuk bertemu dengan Mafaza.

"Mau kemana?" tanya Mishall ingin tahu.

"Mau ke Ancol. Dia kan paling suka jalan-jalan kayak gitu." Javas tidak merasa dirinya menyakiti Mishall dengan kata-katanya. Dia merasa egois kali ini.

"Yaudah have fun ya...gue pulang dulu. Salam buat Ibu." Mishall beranjak dan keluar dari rumah Javas.

Javas tidak mencegah dan mengantar Mishall pulang. Dia langsung masuk ke kamar dan bersiap-siap untuk kencannya hari ini.

Tepat jam 13.00 Javas sudah berdiri di depan pagar rumah Mafaza. Javas memakai kaos dengan cardigan dan celana jins robek di bagian lutut. Sangat pas untuk Javas.

Javas dengan sabarnya menunggu sang bidadari datang bersama sayapnya. Javas sengaja menunggu di luar karena rumah Mafaza sepi. Orang tuanya pergi urusan kerjaan dan kakaknya sedang keluar rumah. Javas tidak ingin ada kabar yang tidak baik.

Setengah jam Javas menunggu. Mafaza keluar dari sangkarnya. Dia memakai dress selutut tanpa lengan. Cardi putih tulang dan totebag putih yang dia pilih. Rambutnya dia biarkan tergerai indah. Dan make up tipis di wajahnya. Terlihat sangat cantik.

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang