MAFAZA 16

35 2 0
                                    

Satu minggu Zavarasha tidak kumpul dan ngobrol. Entah itu di sekolah maupun di luar sekolah. Banyak anak-anak satu kelas yang mempertanyakan.

Aza duduk di bangku belakang samping kursi Gasta. Dia menatap temannya satu persatu. Pandangannya mengisyaratkan kesedihan. Hari ini Gasta tidak masuk sekolah. Bolos lagi.

"Sayang kamu kenapa? Akhir-akhir ini sering banget bengong." tanya Naresh . Dia duduk di depan Aza.

Aza mengerjapkan matanya. "Nggak pa-pa. Oh iya kamu nggak ke kantin?" tanya Aza mengalihkan pembicaraan.

"Sama kamu. Kata Bunda tadi pagi kamu belum makan loh. Nanti kamu sakit." Naresh membelai lembut punggung tangan Aza.

"Ayok." Aza tersenyum tulus. Dia beruntung memiliki Naresh.

Byakta yang duduk tidak jauh dari kursi Aza. "Resh nanti malem jadi latihan nggak?" tanyanya membuyarkan adegan romantis Naresh dengan Aza.

"Jadi. Jam 7 malem ya di tempat gue." jawab Naresh tanpa melepas genggaman tangannya.

Naresh jalan di depan Aza. Tanggannya masih saja menggenggam tangan Aza.

Pandangan Aza menatap Ava yang sedang bersama Faris. Aza melihat Ava tidak perduli dengan dirinya. Sedangkan Safura sedang bersama Yasa. Entah Ayesha kemana. Mungkin sedang berduaan sama Wastu.

Byakta, Zar, dan Rauf melihat teman-temannya yang sedang tidak baik.

Rauf menggelengkan kepalanya. Heran. "Dasar cewek. Klo ngambek lama." ucapnya.

"Kita harus turun tangan apa tetep diem aja?" Zar bertanya ke Byakta.

Byakta menatap Ava dalam. "Biarin aja. Biar mereka urus sendiri. Mereka udah tau keputusan apa yang lebih baik buat mereka." ucapnya. "Eh Gasta kemana?" Byakta mengganti topik pembicaraan. Dia menatap Zar dan Rauf satu persatu.

"Biasalah di markasnya sama katon dkk." Rauf menghembuskan nafasnya pelan.

"Dia kapan tobatnya ya? Lo aja udah tobat." Zar mengambil ponselnya di laci.

"Eh kata siapa dia udah tobat. Liat aja deh dia bakal kambuh lagi apa nggak." Rauf meninggikan nada suaranya.

Byakta terkekeh. "Tau aja lo." ucapnya santai.

"Gilaaaa....nggak jadi bangga gue." Zar menoyor kepala Byakta yang masih terkekeh.

"Kayak gue dong. Walaupun pelajaran nggak masuk sama sekali di otak gue. Yang penting kan gue masuk terus." Rauf membanggakan dirinya dengan menaikkan kerah seragamnya.

Zar menoyor kepala Rauf. "Sama aja. Lo masuk cuma pengen dapet uang saku dari nyokap."

"Sakit abang ih. Kasar mulu sama dedek." goda Rauf manja. Kepalanya bergelayut di bahu Zar.

"Najis." Zar mendorong kepala Rauf dengan kasar.

Rauf dan Byakta tertawa keras melihat Zar yang sudah emosi dengan tingkah kembarannya.

Aza dan Naresh memilih duduk di kursi pojok kantin. Karena memang cuma itu tempat kosong.

"Kamu mau pesen apa? Biar aku yang pesenin." Naresh masih membelai punggung tangan Aza.

"Aku nasgor seafood aja deh yang. Jangan lama-lama ya." Aza tersenyum manis.

Naresh membelai kepala Aza pelan. "Iya sayang. Tunggu ya." Naresh beranjak pergi untuk memesan makanan.

Aza duduk sendiri sambil memainkan ponselnya. Dia mencari kontak Whatsapp Gasta. Dia ingin memarahi Gasta karena bolos lagi hari ini.

Mafaza
Gaaaaassss.....kemana lo?

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang