MAFAZA 18

29 1 0
                                    

Hari ini adalah hari anak StoRa tampil di cafe coffee. Bunda Mafaza yang mengundang anak StoRa karena ini sistem pemasaran yang Bunda buat.

Mafaza masih bergulat di kamarnya. Setelah selesai mandi dia memilih baju yang sudah berserakan di atas kasur.

"Lama nggak shopping ya kayak gini." gerutu Aza sambil memilih baju yang cocok.

Setelah 5 menit dia menimbang nimbang baju mana yang dia pilih. Dia memoles mukanya dengan make up tipis dan lipstik nude. Rambutnya dia biarkan tergerai cantik.

Bunda duduk santai di ruang keluarga bersama Naresh. Naresh yang sudah dekat dengan Bunda menjadi bebas bercanda.

Bunda beranjak ke dapur dan mengambil minuman dan buah-buahan untuk Naresh. "Tuh anak lama banget dandannya." omelnya sambil jalan ke ruang keluarga.

Naresh terkekeh. "Namanya juga cewek Bun."

Bunda duduk di samping Naresh. "Tapi Bunda nggak gitu loh."

"Masak Bun? Bukannya melebihi Aza ya?!" goda Naresh.

Bunda terbahak mendengar ucapan Naresh. Bunda merasa nyaman bicara dengan Naresh. Selain dengan Byakta dan Gasta. Bunda sangat setuju jika Naresh dengan Aza anaknya menikah. Memang sangat terburu-buru. Tapi itulah orang tua yang sudah merasa pas dan cocok dengan pasangan anaknya.

"I'M COMING." teriak Aza dari anak tangga. Dia memakai jumsuit lengan panjang berwarna biru dengan dalaman berwarna hitam dan boots heels yang tidak terlalu tinggi.

Naresh dan Bunda melihat Aza dan menggelengkan kepalanya.

"Hush...anak gadis teriak-teriak." omel Bunda.

"Kamu lama banget sih." tambah gerutu Naresh. Dia melihat Mafaza dari bawah lalu naik ke atas. Dia terpesona dengan kecantikan Mafaza.

Mafaza memanyunkan bibirnya. Dia duduk di samping Naresh. "Bang Afkar jadi ikut nggak Bun?"

Bunda mengambil irisan buah yang sudah siap di santap . "Katanya mau nyusul nanti. Udah sana nanti Naresh telat." usir Bunda.

Naresh dan Aza beranjak dan mencium punggung tangan Bunda. "Assalamu'alaikum." ucapnya bersamaan.

"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya. Kalo Aza ngomel kasih aja cemilan pasti langsung diem." Bunda memainkan kedua alisnya naik turun menggoda Aza.

Aza berhenti. Kepalanya menengok ke belakang. Menyipitkan matanya. Pandangannya tajam. Bibirnya manyun.

Naresh tertawa melihat komunikasi Aza dengan Bundanya. Dia merasa terhibur.

***

Di cafe coffee Kipi dan Zavarasha kecuali Aza sudah kumpul dan duduk di sofa pojok paling belakang. Sofa itu hanya untuk teman-teman Aza saja. Meja dan kursi yang lain sudah di simpan membuat cafe terlihat semakin luas.

Ava yang duduk berdekatan dengan anak Kipi. Dia menjauhi anak Zavarasha. Ava duduk di pojok samping Gasta.

Faris menatap teman Ava satu persatu. Dia mengerutkan keningnya penuh tanya. Dia pernah menanyakan kedekatan anak Zavarasha yang sudah tidak seperti dulu ke Ava tapi Ava hanya menjawab dengan kata "nggak papa"

Safura dan Ayesha hanya bisa melihat Ava tanpa bertanya ke Ava. Mereka tidak mau merusak suasana.

"Ta....lo nggak ngajak pacar lo?" tanya Ayesha yang duduk di samping Byakta.

"Nggak...dia lagi ada kelas dance katanya."

"Duh pacar lo anak baik-baik deh kayaknya."

Rauf menengok ke kanan melihat Ayesha. "Iya nggak kayak lo." ejeknya dengan tawa.

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang