MAFAZA 22

23 2 2
                                    

"Ayah sama Bunda mau kemana?" Mafaza melihat Ayah dan Bundanya keluar dari kamar membawa koper besar.

"Habis acara nanti selesai. Bunda sama Ayah mau langsung ke Singapur. Salah satu rekan kerja Ayah ngadain meet up disana." Ayah duduk di samping Mafaza yang masih menonton tv dan yang pasti dengan tangan memegang cemilan.

"Holiday mulu. Anaknya nggak pernah di ajak." protes Mafaza manja. Kepalanya bergelanyut di bahu Ayahnya.

Bunda jalan ke dapur dan membuatkan teh untuk suaminya. "Kamu nunggu Naresh?" tanyanya setelah selesai dan duduk di samping Mafaza.

"Nggak. Ini Aza mau ke rumah Naresh."

"Naik motor?"

"Nggak dong. Ini udah pesen ojek online. Di maps sih udah nyampe di depan rumah." Mafaza berpamitan dan menyalami tangan kedua orang tuanya.

Setelah menempuh waktu 15 menit. Mafaza tiba rumah Naresh. Dia di sambut hangat oleh Mamanya Naresh. Mereka berdua duduk di ruang tamu di temani secangkir teh panas.

"Kamu masuk aja ke kamar Naresh. Naresh lagi beli makanan buat kamu katanya." perintah Mamanya Naresh setelah 10 menit nunggu Naresh yang belum datang.

Mafaza datang naik ojek online. Karena dirinya tidak mau merepotkan Naresh. Dia ingin mengenal orang tua Naresh karena Naresh sudah sangat baik. Dan karena Naresh udah kenal dekat dengan orang tuanya. Biar impas.

"Nggak enak tante." jawabnya malu-malu.

"Nggak pa-pa. Nanti biar tante kasih tau kalo Naresh udah dateng." Mamanya sangat ramah dan sangat baik.

Mafaza beranjak ke kamar Naresh. Dengan langkah hati-hati dan agak sedikit tidak enak. Baru kali ini dia masuk ke kamar pacarnya.

Dia melihat sekeliling kamar Naresh. Sangat rapi untuk kaum adam. Dindingnya penuh dengan poster maroon 5 . Band kesukaan Naresh.

Tiba-tiba tubuhnya mengarah jalan ke meja belajar Naresh. Ada beberapa lembar foto yang tergeletak di sana. Dan membuat Mafaza penasaran. Dia jalan mendekat dan melihat foto siapa itu.

Tangannya menutup mulutnya. Dia sangat shock. Tidak menyangka Naresh masih menyimpan fotonya bersama Gifa. Pose mereka yang sangat mesra.

"Tenang Za

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Tenang Za....ini semua nggak akan ngefek buat lo. Bukannya lo masih belum ada rasa buat Naresh." batinnya menahan emosi

"Sayang....ini aku beliin martabak bandung buat kamu." Naresh masuk tanpa mengetuk pintu. Ya namanya juga kamarnya sendiri.

Mafaza membalikkan badannya dan tersenyum. "Makasih sayang....tau aja kalo aku laper. Tapi makan di mobil aja ya. Nanti keburu udah mulai acaranya." Dia jalan mendekati Naresh. Dia berusaha agar Naresh tidak tau apa yang dia liat tadi.

"Sebentar....rambut kamu agak berantakan dikit. Kamu naik apa kesini?" Naresh menaruh martabak bandungnya di atas kasur dan merapikan rambut Mafaza dengan kedua tangannya.

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang