Kepercayaan akan muncul ketika kita tidak menganggap remeh orang lain.
Hari libur dan tanggal merah akhirnya datang juga. Ini yang semua orang harapkan. Berhenti dari rutinitas wajibnya. Entah itu bekerja ataupun sekolah. Apalagi sekarang tanggal merah ada 2 hari. Itu semakin menambah kebahagiaan.
Cuaca hari ini sangatlah indah. Awan putih dan langit biru yang cerah serta angin yang membuat nyaman di hati dan pikiran.
Siang ini anak Zavarasha berkumpul di cafe coffe. Ya memang tempat nongkrong mereka salah satunya di cafe milik bundanya Aza. Mereka membahas masa depan mereka yang sebentar lagi akan lulus dari SMA.
"Gue kayaknya mau ke singapore deh. Disuruh nyokap. Katanya udah nggak mau pisah lagi sama gue." kata Ayesha dengan raut muka sedikit sedih.
Orang tua Ayesha memang tinggal di singapore karena Ibunya pindah tugas disana dan sudah 2 bekerja disana. Ibunya bekerja sebagai pegawai kantor dan Ayahnya berprofesi sebagai pengusaha kopi yang sebelumnya sudah terkenal di Indonesia. Dan sekarang sukses juga di Singapore juga. Sekarang ini Ayesha tinggal dengan pengasuh yang sudah di percaya orang tuanya.
"Berarti lo nggak bakal balik Indonesia lagi?" tanya Ava sambil menyeduh kopi pesanannya.
"Ya kalo libur kuliah insya allah gue sempetin main ketemu kalian deh." senyum Ayesha dengan cantiknya. "Kalo lo? Yakin mau kuliah?" tanya Ayesha dengan pandangan mengejek.
"Sialan lo. Sebenernya gue males kuliah. Pengen kerja aja deh. Tapi biasalah katanya biar ilmu gue bertambah dan wawasan gue bisa luas." jawab Ava memanyunkan bibirnya.
Tawa Aza pecah mendengar jawaban Ava. Aza tau persis gimana Ava. Memang Aza akui Ava pintar tapi dia sedikit malas kalau harus makan buku setiap hari.
"Kalo lo Sa? Lo mau kuliah dimana?" tanya Aza
"Gue pengen kuliah di UI. Tapi gue minder." Safura menatap temannya satu persatu.
"Ngapain minder? Lo itu pinter. Pinter banget malah. Pasti lo lolos kok tenang aja." Ava memegang bahu kanan Safura untuk menyemangati sahabatnya.
Safura si gadis cerdas dan mungil. Dia akan menjadi nomor 1 atau nomor 2 seangkatan setelah Yasa si ketua osis. Namun Safura tidak ingin menjadi siswi yang nerd dan tidak mau terlibat dengan aktivitas-aktivitas yang berhubungan tentang sekolah.
Safura menatap Aza yang duduk di depannya sambil memakan spagheti miliknya. "Kalo lo gimana Za?" tanya Safura.
"Yang pasti sih gue nggak akan mau di UI dan mungkin nggak akan lolos juga di UI." ejek Aza membuat tawa anak Zavarasha pecah.
"Yang pasti gue pengen ambil jurusan psikolog."
"Lo baca buku 50 lembar aja susah apalagi hafalin bukua yang beribu ribu lembar." Ava memulai sesi ejeknya dengan tawa.
"Duh bahaya nih ntar temen kita ada yang bisa baca pikiran dan raut muka kita." tambah Ayesha
"Lo pikir gue paranormal." omel Aza menatap teman-temannya serius.
"Nyokap Bokap lo belum balik Za? Ini udah sebulan lebih loh." tanya Safura.
"Biasalah...katanya kerjaannya belum kelar. Kalo lama kelamaan mereka sering berduaan gini alamat gue bakal punya adik deh kayaknya."
Tawa Safura, Ayesha, dan Ava pecah mendengar kata Aza. Aza melirik temannya satu persatu dengan senyum manisnya.
Siang semakin terik. Suasana cafe semakin ramai. Banyak remaja, dewasa, orang tua yang datang bergantian.

KAMU SEDANG MEMBACA
MAFAZA
Teen FictionKenangan bukanlah hal buruk yang harus bisa menghilang dari ingatan. Tetapi kenangan adalah warna-warni cerita kehidupan tanpa kita inginkan sekalipun. Mafaza Flor Simran gadis berusia 17 tahun memiliki keluarga dan sahabat yang selalu memberikan ka...