MAFAZA 44

16 4 2
                                    

"Kamu masih sama Javas?" Bunda mulai mempertanyakan yang selama ini membuat Mafaza cemas.

"Udah nggak kok Bun. Kita nggak balikan kok." jawaban Mafaza sedikit melegakan Bunda.

Mereka berdua sedang di taman. Bunda sedang sibuk memotong rumput yang sudah sedikit panjang. Mafaza setelah pulang dari sekolah langsung berganti pakaian dan duduk di kursi taman di temani secangkir susu panas menemani Bunda.

"Syukur lah kalo gitu. Bunda lega dengernya. Gimana sekolah kamu?"

"Alhamdulillah lancar kok Bun. Oh iya Bunda ada acara fashion lagi kapan?"

"Tahun ini nggak ada lagi kayaknya. Bunda masih sibuk buat desain gaun di korea sama jepang. Bunda kan juga harus sering bolak balik sana juga."

"Jaga kesehatan Bun. Jangan terlalu capek."

"Iya sayang. Kan ada Ayah yang selalu temenin Bunda." Bunda terkekeh.

Kedua bola mata Mafaza berputar malas. "Emang Ayah nggak ngurus kantor?"

"Nggak. Kan tangan kanan Ayah udah banyak. Jadi udah ada yang handle semuanya."

"Bilang aja mau honeymoon terus."

"Ya iya dong. Makanya buruan nikah."

"Bundaaaaa....Aza masih belum cukup umur." teriak Mafaza kesal.

Bunda tertawa keras. "Oh iya Bunda lupa. Kamu masih kecil."

"Bundaaaaaa.....Aza udah dewasa."

"Loh tadi kamu bilang kamu belum cukup umur."

"Tau ah...Aza mau ke kamar dulu." Mafaza beranjak dan pergi meninggalkan Bunda. Bunda hanya melihat dan tawanya semakin pecah.

Mafaza jalan dengan langkah pelan. Bibirnya tersenyum dengan hati yang lega.

"Gila lo?" tanya Afkar yang duduk di sofa ruang tv bersama Ayah dan Gasta.

Ya Gasta di rumah Mafaza karena dia mengharuskan dirinya mengantar Mafaza pulang sampai rumah. Dan sampai sekarang dia masih betah kumpul bersama keluarga Afkar dan Ayah Simran.

Pertanyaan Afkar membuat mood Mafaza buyar. "Lo yang gila." Dia jalan mendekat dan duduk di samping Gasta.

"Bunda mana?" tanya Ayah.

"Itu masih bersihin taman."

"Aku di sini sayang." suara Bunda dari  pintu pembatas taman.

Afkar dan Mafaza memasang muka malas. Mereka berdua sudah sangat kenyang mendengar gombalan-gombalan dari kedua orang tuanya.

Bunda gabung dengan mereka. Bunda duduk di samping Ayah. Mereka bercanda. Membahas setiap adegan sinetron. Tawa mereka selalu ada.

"Aza sayang besok kita sekeluarga mau ketemu sama temen Bunda. Sekalian mau kenalin kamu sama anak temen Bunda yang mau Bunda jodohin ke kamu." ucapan Bunda menegangkan Mafaza, Afkar dan Gasta. Afkar dan Gasta menatap Mafaza. Dan Mafaza bergantian menatap Afkar dan Gasta.

Tangan Mafaza mulai tidak tenang. Kedua jemarinya saling bermain tanda gugup. "Tapi Bun...."

"Dandan yang cantik ya. Bunda cuma pengen kamu ada yang jagain aja. Dia baik kok."

"Kan ada Afkar Bun." jawab Afkar yang merasa heran dengan maksud Bunda.

"Kamu kan sekarang sibuk tugas kuliah. Bunda sama Ayah juga bolak balik luar negeri."

"Tapi kan ada sahabat-sahabat aku Bun." Mafaza cepat menjawab pernyataan Bunda.

Bunda mulai berfikir. Bunda mulai kehabisan akal untuk beralasan. Bukan seperti ini yang Bunda inginkan.

MAFAZATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang