{Fall in Love}

2K 94 4
                                        

26. FALL IN LOVE

~HAPPY READING EVERYONE!~

Ada waktu ketika kita sudah tak saling mengenal, tak saling menyapa dan hanya bisa bertatap dalam hembusan luka.

🔥🔥🔥

Elang berdiam diri di kamar dengan memainkan gitarnya asal. Sejak tiga hari yang lalu ketika Elena datang untuk menjenguk, dan berucap pada papanya yang membuat dadanya ngilu dia tak bertemu lagi dengan gadis itu. Selain karena dia juga belum masuk sekolah, sejak insiden dimana papanya menghajarnya. Dia juga enggan menghubungi gadis itu via telepon, chat dan lainnya. Rasa sakit yang ditorehkan Elena memang sungguh menyakitinya.

Walaupun seharusnya dia tahu hal itu dari awal. Tapi sayangnya dia tetap bersama gadis itu. Jika sudah seperti ini dia tak bisa lagi menatap Elena dengan pemandangan yang baik. Dia sudah keterlaluan dalam hal mempermainkan perasaan.

Elang tersenyum mengingat pertama kali pertemuannya dengan Elena. Jika bukan takdir yang berbicara mungkin sampai sekarang dia tak pernah mengenal gadis yang sudah berstatus mantannya itu.

Di tengah lamunannya, ponselnya bergetar. Awalnya dia enggan membuka tapi getaran itu terjadi beberapa kali. Dia pikir dari Elena karena gadis itu selalu mengirim spam chat. 

Rahang Elang mengeras ketika mendapati foto-foto Elena sedang berangkulan mesra sembari tertawa, bermain ayunan dan makan bersama di restoran. Elang tak akan semarah itu jika bukan Aldi, cowok yang ada di foto itu dan bersama Elena.

Elang meletakkan gitarnya asal sampai menghasilkan bunyi kencang gesekan dengan badan gitar dan kursi di sebelahnya.

Elang keluar dari kamar dengan menggunakan jaket. Pikirannya kalut, rasanya tidak rela ketika Elena sedekat itu dengan Aldi.

Aldi! Kenapa cowok itu sedari dulu selalu mengibarkan bendera perang padanya. Kenapa dia selalu merebut apa yang dia miliki termasuk Elena.

"Elang mau kemana kamu!" Tanya Irwan.

"Pergi," jawab Elang singkat ini kali pertama Elang berucap tak hormat pada Irwan. Mungkin karena pikirannya bercabang memikirkan banyak hal. Sebagai laki-laki normal dia juga tak mau kalah dari orang lain.

"Kembali ke kamar kamu sekarang!"

"Elang cuma sebentar." Jawab Elang kemudian.

"Keluar dengan perempuan murahan itu? Iya!" Irwan berdiri mendekat ke arah Elang.

"Iya, Elang hanya ingin meluruskan semuanya!"

"Apa kemarin semuanya belum clear, dia hanya mempermainkan kamu, dia hanya ingin mempengaruhi kamu Lang! Kembali ke kamar dan jangan pernah temui dia kembali atau jika tidak..?

"Jika tidak apa pah? Papa kirim aku sekarang ke London seperti keinginan papa? Iya pah?"

PLAKKKK!!

Satu tamparan keras Elang terima di pipi kanannya, luka kemarin saja belum sepenuhnya hilang sempurna. Kini papanya berniat kembali mengukir luka itu kembali.

Elang menatap papanya dengan tatapan datar, kemudian berlalu pergi keluar. Teriakan papanya pun dia abaikan begitu saja. Predikat good boy rasanya ingin dia hilangkan saat ini juga.

Tak berniat membangkang dan membuat dosa. Tapi papanya sendiri yang menginginkan hal ini.

Elang mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata, menuju kemana dia tidak tahu.

ELANG & ELENATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang