21. "I'M SORRY"
~HAPPY READING EVERYONE!~
Jangan begitu, aku tidak mau. Itu membuatku malu karena aku mencintaimu.
🔥🔥🔥
"Non Elena?"
Mbak Eni yang pulang dari mengambil laundry seragam Elena. Memekik terkejut ketika mendapati Elena tergeletak di lantai ruang tamu. Dia langsung jongkok menghampiri majikan mudanya itu, wajahnya begitu khawatir, dia berteriak-teriak meminta bantuan. Satpam rumah yang berada di depan tak mendengar teriakan mbak Eni. Jarak pintu utama menuju gerbang cukup jauh memang. Itu yang menyebabkan pendengaran mereka tidak berfungsi secara benar.
"Elena?" Teriak seseorang langsung mendekat ke arah Elena. Menggeser posisi mbak Eni, dia mengangkat Elena.
"Di atas Den kamarnya!"
Aldi menidurkan Elena di ranjang, wajahnya khawatir. Iya, laki-laki itu adalah Aldi. Dia mengetahui rumah Elena dari Mela, menjadi teman kelas Elena selama 2 tahun walaupun selama itu dia hanya mendapat bully dari Elena, mulai dari mengerjakan pr, disuruh ini dan itu. Mela tahu letak rumah Elena dimana, maklum saja dia selaku sekertaris kelas selalu menjadi bahan guru bertanya-tanya tentang perilaku Elena.
Awalnya dia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa Aldi meminta alamat rumah Elena. Bahkan laki-laki itu meneleponnya hampir 20 kali demi mengetahui itu. Tapi Mela tak mungkin menghalangi kebahagiaan Aldi. Aldi itu selalu menjaganya dari kecil dan selalu mengalah untuknya dalam segala hal untuk membuatnya tersenyum. Mela memang sangat membenci Elena bahkan bencinya melebihi apapun, tapi dia tak mungkin bisa mempengaruhi Aldi untuk membenci Elena. Sikap buruk apa yang belum ditunjukkan Elena pada Aldi, mabuk pun Aldi tetap mau bersama gadis itu. Walaupun dia juga tak ingin jika Aldi bersama Elena.
Kalian pikir, orang yang kalian sayang dekat dengan perempuan urakan setuju. Tentu saja tidak, bagaiamanapun Mela tetap menginginkan yang terbaik untuk Aldi dan orang itu tentunya bukan Elena, si bad girl urakan itu.
"Kenapa gak di bawa ke rumah sakit?" Tanya Aldi pada mbak Eni.
"Enggak usah, non Elena kalau kecapekan memang pingsan. Sebentar lagi juga sadar." Ucap mbak Eni.
Aldi terduduk di tepi ranjang Elena. Memegangi kedua tangan gadis itu, sesekali mengecupnya. Walaupun di tempat itu ada mbak Eni. Mbak Eni terpaksa harus menginap karena Elena sakit, dia tak tega meninggalkan majikannya itu sendiri di rumah.
"Saya Aldi, teman Elena." Ucap Aldi memperkenalkan diri, tapi posisinya masih sama duduk di ranjang dan tangannya terus menggenggam jari jemari Elena.
"Saya Eni pembantunya non Elena." Aldi mengangguk tersenyum sopan pada mbak Eni.
"Saya permisi ke dapur dulu Den, aden mau minum apa saya buatkan sekalian." Aldi menggelengkan kepalannya menolak tawaran mbak Enim
"Nggak usah mbak, makasih." Mbak Eni berlalu meninggalkan Elena dan Aldi untuk pergi ke belakang.
Aldi menyesal rasanya telah membuat gadis ini marah tadi siang. Aldi tak mendapati orang lain di rumah sebesar ini selain mbak Eni dan satpam-satpam yang ada di depan. Apakah Elena anak tunggal? Dimana orang tuanya? Kenapa dia sendiri?
Aldi tak berani menyimpulkan apapun, semua yang ada di pikirannya belum tentu benar dan berasumsi seperti ini bukan merupakan hobi untuknya. Jika Elena sendiri yang akan bercerita baru dia akan percaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELANG & ELENA
Novela Juvenil[COMPLETED] Elang cowok tampan tak tersentuh dia penyendiri. Buku buku tebal selalu menemaninya. Dia sama sekali tidak culun hanya saja dia menjauhi segala jenis manusia urakan. Termasuk Elena cewek cantik tajir primadona di sekolah, tapi sayang di...
