Seorang pendeta tengah berdiri dihadapan kedua mempelai. Suasana hikmat menyeruak di gereja dengan hanya dihadiri keluarga dari kedua pihak.
Ya, tak perlu megah hanya untuk melaksanakan pernikahan kedua untuk sang mempelai pria dan wanita. Mengingat juga usia mereka yang menginjak kepala empat. Rasanya tak pantas jika melakukan pernikahan yang begitu megah. Kehadiran keluarga dan ketiga anak laki-laki itu saja sudah cukup.
Tunggu!!!
Tiga???
Hanya dua yang kini hadir, entalah dimana yang satu. Ketidakhadirannya membuat sang ayah yang kini berdiri di altar begitu gugup.
Tibalah sang pendeta mengucapkan kata-kata yang mempersatukan kedua mempelai menjadi suami istri yang sah, namun...
"Tunggu!"
Sontak semua mata memandang ke arah pintu dimana suara itu berasal. Seorang remaja tampan yang mengenakan setelan tuxedo hitam dan tatanan rambut karamelnya yang rapi, namun tidak sedikitpun senyum yang menghias bibirnya.
Sebagian mungkin mencibir dirinya yang datang dan semena-mena mengganggu upacara suci ini. Tapi tak sedikit pula yang mengucap syukur atas kedatangannya.
"Maaf aku terlambat. Pendeta bisa lanjutkan" ucapnya masih tanpa ekspresi.
"Aku yakin kau datang" bisik laki-laki lain yang tiga tahun lebih tua darinya.
Melihat anak bungsunya yang datang, rasa tenang dan percaya diri kini menguasai pria berkepala empat itu. Artinya, anaknya telah memberi restu pernikahannya.
***
"Ayo masuk" ajak Chilhyun menggandeng istri barunya, Sunghee.
Diikuti oleh kedua putranya dan putra tirinya. Jaehyun, si sulung merangkul pundak Jeno yang notabennya adalah saudara tirinya. Mereka nampak akrab. Berbeda dengan si bungsu yang diam sejak tadi.
"Kamarmu di atas, sebelah kanan kamar Jaemin" kata Jaehyun. "Ayo ku antar"
"Terima kasih, hyung. Tapi aku bisa sendiri. Kau istirahat saja" tolak Jeno. Jujur saja ia masih segan untuk merepotkan kakak tirinya ini.
"Tak apa, ayo!" Ajak Jaehyun lagi. "Jaem, bantu bawa tas Jeno ke atas" pinta Jaehyun pada Jaemin, si bungsu.
"Hm" balas Jaemin hanya dengan gumaman.
Setelah selesai membantu Jeno, keduanya beranjak istirahat. Jeno memilih membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Mengganti pakaiannya hanya dengan celana pendek hitam dan kaos putih polos. Jeno duduk dipinggiran ranjang, membuka sebuah kardus kecil. Mengeluarkan album foto dimana terdapat foto ayah dan ibunya kala mereka masih berumah tangga.
"Ayah, kau dimana?" Batin Jeno. "Ayah Chilhyun begitu baik dan menyayangiku. Kau tak perlu khawatir, aku akan bahagia seperti yang ayah ingin kan"
Jeno menunduk kala hakim mengetuk palu, mengesahkan perceraian kedua orangtuanya. Ia tak ingin menatap siapapun sekarang.
"Jeno, tatap ayah nak" pinta pria yang notabennya adalah ayah kandung Jeno.
Jeno masih enggan mengangkat kepalanya. Tak tega melihat anak semata wayangnya yang jelas menangis dalam diam, pria itu merengkuh Jeno.
"Kenapa? Jika kalian menyayangiku, kenapa harus berpisah?" Isak Jeno.
"Maaf, nak. Ayah dan ibu sudah tidak bisa bersama lagi"
Mendengar sang mantan suami berusaha menjelaskan pada Jeno, Sunghee ikut terisak di belakangnya. Ini bukanlah kemauannya. Ia dijodohkan dengan pria yang keduanya tak saling cinta. Namun bagaimana dengan Jeno? Kelahiran Jeno semata-mata hanya untuk mewujudkan keinginan kedua belah pihak untuk menimang cucu. Tapi setelah Jeno lahir kebahagiaan selalu hadir dalam keluarga kecil itu, walau tak pernah ada kata cinta.
"Kau harus janji pada ayah, kau harus bahagia. Jaga dirimu dan ibumu. Jangan buat ibumu bersedih, nak. Ayah akan pergi, suatu saat kita akan bertemu lagi dan ayah akan melihatmu dalam keadaan yang lebih baik" ujar ayah Jeno, terpaksa melepaskan pelukan Jeno dan beralih memeluk Sunghee tanpa ada rasa sungkan.
"Jaga putraku"
"Pasti..."
Tangan Jeno bergerak menghapus air matanya. Tidak, ia tak boleh menangis. Jeno harus bahagia, untuk ibu dan ayahnya. Serta keluarga barunya.
Dalam waktu yang sama, Jaemin duduk di lantai bersandar pada ranjang. Hari ini adalah hari yang istimewa bukan? Tapi justru ia merasa begitu sedih. Bukan, bukan berarti Jaemin tak menerima pernikahan ini. Tapi hari ini adalah hari dimana dua orang yang berharga untuknya, pergi ke surga.
Mungkin terdengar tak pantas melaksanakan pernikahan saat hari peringatan kematian mendiang istrinya. Tapi Chilhyun hanya melakukan apa yang diinginkan putranya, dan itu adalah Jaemin sendiri.
"Aku mimpi... Ayah dan bibi Sunghee bertemu dengan ibu. Ibu meminta kalian menikah dihari peringatan kematiannya. Dengan alasan tak ingin melihatku dan Jaehyun hyung selalu bersedih dihari itu dan berharap kebahagiaan akan menjadi pengganti dari kesedihan di keluarga ini"
Jaemin berusaha menahan kesedihannya. Ia menutup matanya menautkan kedua tangannya. Tak lama terdengar gumaman yang berisi do'a untuk mendiang ibunya agar selalu bahagia dan damai disana.
"Aku juga harus bahagia, disini bersama kalian"
Knock knock
Jaemin membuka pintu, dilihatnya saudara tirinya. Mereka diam sesaat.
"Ayo turun dan makan malam. A..ayah sudah menyiapkan makan malam" kata Jeno dan terdengar gugup kala ia menyebut ayah.
Lagi dan lagi, Jaemin hanya menjawabnya dengan gumaman. Kemudian kembali beranjak masuk ke kamar.
"Tunggu" tahan Jeno, Jaemin berbalik. "Kau boleh membenci ibuku dan aku. Tapi tolong hargai ayahmu. Dia sudah mempersiapkan makan malam ini seorang diri. Kalaupun memang kau tak menerima ibu dan aku, itu bukan masalah"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Jeno kini beranjak. Langkahnya tertahan begitu mendengar suara Jaemin.
"Aku menerima pernikahan ini. Maaf, hari ini adalah peringatan kematian ibuku. Perasaanku bercampur jadi satu antara sedih dan bahagia"
***
Pagi ini terasa berbeda. Rumah yang biasanya begitu sepi kini sedikit ramai setelah bertambahnya dua anggota keluarga.
"Kenapa ke apartment?" Tanya Chilhyun pada si sulung.
"Tugas kuliahku menumpuk. Jika aku pulang ke rumah aku hanya buang-buang waktu di jalan. Lagipula yang aku butuhkan semuanya ada di kampus dan ayah paham kan akses ke kampus dan apartment tidak begitu jauh" jelas Jaehyun.
"Bilang saja ingin berkencan dengan noona noona itu" gerutu Jaemin.
Tak
"Aw" ringis Jaemin saat Jaehyun melayangkan sendok di keningnya.
"Jangan bicara asal. Lagipula mereka bukan seleraku" sergah Jaehyun.
Melihat itu Chilhyun, Sunghee, dan Jeno hanya terkikik geli.
"Apa jauh apartmentnya, hyung?" Tanya Jeno.
"Lumayan. Lain waktu aku akan mengajakmu kesana" balas Jaehyun. "Aku bosan mengajak Jaemin"
"Aku juga tidak mau jika kau ajak. Jeno hyung, hati-hati kau diperbudak olehnya"
Semua terdiam mendengar Jaemin memanggil Jeno hyung. Polos sekali anak itu, pikir Jeno.
"Em... Jaem, kau tak perlu memanggilku hyung. Aku tidak keberatan jika kau hanya memanggil namaku, lagipula kita lahir ditahun yang sama"
"Aigoo, ayah sangat senang memiliki anak seperti kalian. Bagaimana akhir pekan nanti kita jalan-jalan. Kemanapun kalian mau"
"Call!"
*
*
*
Tbc...
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
