Jaemin bersama Renjun dan Haechan menunggu Jeno di depan ruang guru. Tak jauh dari mereka Lami dan Hina juga melakukan hal yang sama. Hina merasa dialah sumber masalah ini, sedangkan Lami mencemaskan Jeno yang lagi-lagi terkena masalah. Lami berusaha menahan agar emosinya agar tidak tersulut kala melihat Jaemin.
"Jaemin" panggil Junho.
Jaemin menghela nafas lega melihat Junho yang datang sebagai wali dari Jeno. Padahal dia sejak tadi harap-harap cemas jika ayahnya, Chilhyun yang datang.
"A... Paman Jeno di dalam" lirih Jaemin.
Knock knock
Junho menangkap sosok putranya yang tersenyum lega akan kedatangannya. Leeteuk saem mempersilahkan Junho duduk berhadapan dengan Jun yang kini bersama kedua orangtuanya.
"Begini tuan-"
"Putra anda memukul putra saya!" Sergah ibu Jun saat Leeteuk saem hendak menjelaskan.
"Benar itu Jeno?" Tanya Junho dan dibalas anggukan tanpa ada rasa bersalah dari Jeno.
"Kenapa kau memukulnya?" Tanya Junho lagi.
"Kami juga belum tau pasti apa masalahnya, karena tadi Jeno menunggu anda untuk menjelaskan ini" ujar Leeteuk saem. "Bisa kau jelaskan sekarang, Jeno?"
"Jun mengganggu Hina saat makan. Jaemin sudah mengalah dengan mempersilahkan dia makan satu meja dengan Hina. Sebelumnya Jun mencaci Jaemin dan saat Jaemin pergi dia malah menjegal Jaemin" ujar Jeno.
"Aku tidak sengaja!" Sergah Jun.
"Hei dengarkan aku dulu!" Balas Jeno.
"Jeno! Jun!" Sentak Leeteuk saem.
"Ayah, aku memukulnya bukan karena dia menjegal Jaemin. Tapi karena mulut busuknya itu mengatakan hal buruk tentang Jaemin. Aku tidak terima sahabatku diperlakukan seperti itu" jelas Jeno lebih pada ayahnya sendiri.
"Tapi kau memukulnya, Jeno. Menurut peraturan kalian tetap harus dihukum" kata Leeteuk saem.
"Maafkan saya, saem. Saya menyesal" ucap Jeno.
"Saya juga minta maaf" sambung Jun.
"Tuan, bisakah Anda mengajari dengan benar? Tidak melakukan kekerasan untuk menyelesaikan masalah" protes ayah Jun.
"Tunggu, tadi kau(Jeno) memukul dia(Jun) karena dia mencaci Jaemin?" Tanya Junho yang dibalas anggukan oleh Jeno. "Buahahahaha"
Semua yang ada di ruangan terkejut termasuk Jeno sendiri tatkala ayahnya justru tertawa. Jeno tersenyum kikuk dibuatnya.
"Hei tuan! Apa maksud anda tertawa?" Erang ibu Jun.
"Hahaha.. Saem, anda boleh menghukum anak saya. Tapi satu hal, saya sangat bangga pada Jeno" kata Junho. "Ayah senang kau lakukan ini untuk membela, bukan semata-mata karena kau ingin memukul seseorang"
Junho mengacak rambut Jeno gemas. Jeno tak menyangka ayahnya akan merespon seperti ini. Ini benar-benar luar biasa untuk Jeno.
"Dan untuk anda, tuan dan nyonya. Anda bertanya apa saya bisa mengajari anak saya dengan baik, bagimana dengan kalian? Bisakah mengontrol lisan putra kebanggaan kalian. Jangan membela putra anda jika memang dia salah. Lagi pula perkelahian diantara remaja itu wajar, sebagai pemanis masa muda. Saya seorang pengacara, jika kalian tidak terima dengan yang saya katakan, saya siap bertemu dengan kalian di pengadilan" ujar Junho yang sukses membungkam kedua orangtua Jun.
"Ayah, keren" bisik Jeno yang dibalas junho sebuah wink.
Jeno dan Jaemin mengikuti Junho sampai di parkiran. Jaemin tak habis pikir dengan sikap Junho yang ternyata jauh dari dugaannya. Tapi Jaemin bersyukur Jeno baik-baik saja dan tidak mendapatkan kemarahan ayahnya.
"Chilhyun ada rapat dan Sunghee sedang bakti sosial jadilah mereka menelpon ku. Jika Chilhyun memarahimu(Jeno) katakan pada ayah dan akan ku minta hak asuhmu" ujar Junho.
"Ayah!" Erang Jeno sedangkan Jaemin sangat terkejut.
"Hahaha... Tidak tidak, ayah bercanda" sergah Junho. "Ya sudah ayah kembali ke kantor, ada sidang 30 menit lagi. Jeno jaga Jaemin, eoh?"
"Tentu saja aku kan kakaknya!" Balas Jeno sambil menepuk dadanya bangga.
Tanpa mereka ketahui Lami terus mengawasi. Ia curiga akan kedekatan Jaemin dengan Jeno bahkan orangtua Jeno. Tapi Lami tidak berhasil mengetahui apa yang mereka bicarakan. Kalau bukan karena Hina mungkin dia sudah marah pada Jaemin karena Jeno mendapat hukuman usai membelanya.
Jaemin dan Jeno berjalan beriringan dengan tangan Jeno yang merangkul pundak Jaemin. Sesekali mereka tertawa hingga mengundang cibiran dari mereka yang tak suka.
"Ada orang di hukum tapi bahagia" sindir Haechan yang lalu ikut merangkul pundak Jaemin.
"Ck, hukuman biasa" balas Jeno sambil tertawa.
***
"Biar aku yang kerjakan" ucap Jaemin sambil merebut alat pel yang dipegang Jeno.
"Tidak usah, kau tunggu saja ke gedung depan. Nanti aku kesana" tolak Jeno.
"Jangan seperti ini, kau dihukum karena aku-"
"Sudah cukup, Jaem!" Sergah Jeno cukup membungkam Jaemin. "Aku kakakmu, jadi menurut saja denganku. Sana pergi!"
Jaemin menghela nafas kemudian mulai menjauh membiarkan Jeno membersihkan lorong sendirian. Tapi satu hal yang membuat Jaemin tenang, Jeno terlihat baik-baik saja meski dihukum. Jaemin melangkahkan kakinya menuju gedung speedskating. Hina sudah berlatih di sana.
"Andai saja aku masih-, mungkin sekarang aku bersama Hina, melakukan pertunjukan" gumam Jaemin diikuti dengan senyuman kecil dari bibirnya.
Lusa ia akan berkunjung ke rumah kakek neneknya dan Jaemin terlalu malas untuk ikut, toh juga kehadirannya tidak pernah dianggap. Jika disuruh memilih, ia akan lebih memilih berdiam diri di gedung speedskating seharian tanpa makan dan minum daripada harus bertemu kakek dan nenek yang kini menakutkan di mata Jaemin.
Jaemin mengalihkan pandangannya kala mendengar suara langkah yang mendekat. Ia pikir itu adalah Jeno, tapi justru tatapannya bertemu dengan Lami tanpa sengaja. Ia melihat paparbag yang dibawa Lami berisi makanan dan kemungkinan itu untuk Hina.
"Maaf, aku akan pergi" ucap Jaemin sebelum melangkah pergi.
"Jaem, ayo pulang!" Seru Jeno yang baru datang.
"Jeno?"
"Lami?"
Jeno tak tau Lami ada disini, habislah ia jika sampai Lami curiga.
"Sedang apa disini? Kenapa tidak langsung pulang?" Tanya Jeno.
"Em, Jeno aku tunggu di depan ya" ucap Jaemin dibalas anggukan kecil oleh Jeno.
"Haruskah setiap hari kau pulang bersamanya?" Tanya Lami begitu Jaemin menghilang dari pandangannya.
"Dia kan temanku" jawab Jeno sambil mengusap puncak kepala Lami. "Dia baik sekali. Jika aku tidak pulang bersamanya justru ayahku akan bertanya mengapa"
"Terserah, aku sudah memperingatkanmu"
"Kau sendiri sedang apa disini?"
"Hina ada pertandingan 2 hari lagi. Aku ingin menemaninya"
"Ah, aku akan ajak Jaemin menonton" kata Jeno semangat.
Jeno berpamitan pada Lami kemudian meninggalkan gadis itu sendirian menunggu Hina di bangku penonton.
Seperti biasa Jaemin dan Jeno dijemput oleh sopir, dan seperti biasa pula Jaemin hanya diam. Rasanya Jeno sudah kehabisan akal untuk membuat Jaemin lebih bersemangat.
"Jaem, Hina ada pertandingan dua hari lagi" kata Jeno memecah keheningan.
"Aku tau" balas Jaemin singkat.
"Kau datang?" Tanya Jeno.
"Iya, aku sudah berjanji"
"Jaem?"
"Apa?"
"Kau menyukai Hina?"
*
*
*
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
