(Twenty Two) Hilang

3.7K 378 33
                                        

Jeno memandang pantulan dirinya di cermin. Matanya cukup sembab dan bibir pucatnya yang tak bisa ia sembunyikan. Jeno sedih, tentu saja. Ia baru mengenal kakek dan sekarang pria baya itu telah tiada. Namun itu bukan satu-satunya alasan mengapa Jeno begitu kacau saat ini, melainkan Jaemin adalah alasan utamanya. Sejak semalam Jaemin hanya diam di satu ruangan yang digunakan oleh keluarga yang berduka tanpa makan dan minum. Ia bahkan tak mengganti pakaiannya dengan tuxedo hitam yang menujukkan rasa duka.

"Jeno" panggil Jaehyun.

"ada apa hyung?"

"Ayo bujuk Jaemin keluar, ayah sedang sibuk mengurusi upacara dan para pelayat"

Jeno menghela nafas lalu mengenakan jas hitamnya dan sedikit merapikan rambutnya. Jaehyun dan Jeno sudah berada di depan ruangan itu. Belum sempat membuka, pintu itu sudah terbuka dan menampakkan Jaemin yang telah mengenakan setelan tuxedo hitam.

"Ku pikir kau tak akan keluar" kata Jaehyun.

"Aku belum memberikan penghormatan terakhir" ucap Jaemin.

Jaehyun, Jeno, dan Jaemin memasuki ruangan dimana terdapat foto sang kakek dikelilingi oleh bunga-bunga yang telah tertata rapi dan beberapa lilin juga perlengkapan lainnya. Nenek masih berada dalam dekapan Sunghee. Melihat ketiga cucunya memberikan penghormatan pada sang suami, tatapan nenek tertuju pada Jaemin.

"Pergi!" nenek bangkit dan langsung mendorong Jaemin begitu saja hingga menarik perhatian para pelayat. "Bahkan suamiku tidak sudi menerima penghormatan darimu, pergi!"

"Nek, aku mohon jangan seperti ini" pinta Jaehyun sembari membantu Jaemin berdiri.

Tapi justru Jaemin enggan berdiri. Ia menatap neneknya dengan tatapan tajam dan mata yang telah basah.

"Apa yang harus ku lakukan agar nenek berhenti memperlakukan aku seperti ini?" tanya Jaemin dengan suaranya yang tercekat.

Para pelayat mulai berbisik. Dari mereka yang menebak siapa Jaemin hingga tak tega melihat anak itu berlutut di hadapan neneknya sambil berurai air mata.

"Aku selalu ada di samping nenek juga kakek, tapi kalian buta terhadapku. Kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? kenapa aku? kenapa?!" erang Jaemin.

"Jaemin sudah, ayo berdiri" bisik Jeno.

"Biarkan aku seperti ini, hyung!" sentak Jaemin sambil menepis Jeno yang membantunya berdiri. Jaemin menatap lekat manik Jeno. "Biarkan aku seperti ini sampai nenek sadar cucunya bukan hanya Jaehyun hyung dan kau!"

Plak

"Kau bukan cucuku!"

***

Hina menggenggam ponselnya erat dan berharap mendapatkan notifikasi pesan dari Jaemin. Semalam ia mengirimkan pesan pada Jaemin untuk datang ke pertandingannya. Tapi ia tak mendapatkan balasan apapun dari Jaemin, jujur saja Hina takut Jaemin lupa dan tak akan datang nanti.

"Hina-chan, kenapa?" tanya Lami. Hina tersenyum kemudian menggeleng pelan. "Memikirkan dia?" tanya lami lagi yang sukses membuat Hina membeku. "pertandinganya sebentar lagi. Sudah jangan pikirkan yang lain"

"Iya, terima kasih sudah menemaniku sejak kemarin" ujar Hina.

Kembali ke rumah duka, Jaehyun bingung menyusuri setiap tempat di rumah duka. Sedikitpun ia tak menemukan tanda keberadaan Jaemin yang kini membuatnya begitu cemas.

"Ayah, lihat Jaemin?" Tanya Jaehyun tanpa basa-basi. Tak peduli ayahnya kini berada di samping nenek.

"Tidak" jawab Chilhyun.

"Tadi dia ke toilet" jawab Jeno.

"Sudah ku cari kemanapun itu bahkan di rooftop, aku tidak menemukannya" kata Jaehyun putus asa.

Chilhyun menegakkan tubuhnya dan segera mencari putra bungsunya. Semuanya cemas kecuali nenek. Beberapa menit berlalu tak menghasilkan apa-apa. Jaemin menghilang dan sukses membuat panik orang tua dan saudaranya.

"Jaemin kau dimana nak?" Desis Chilhyun.

"Apa sudah coba menghubunginya?" Tanya Sunghee.

"Sudah, ponselnya aktif tapi dia tidak angkat telfonku" sahut Jeno. "Hina!" Sebuah nama terlintas dipikiran Jeno.

Pertandingan berlalu selama dua jam untuk kelas putri. Hina sudah berada di akhir babak dan ia belum melihat Jaemin datang. Hanya ada Lami dan dua sahabat Jaemin, Haechan dan Renjun. Meski hanya beberapa saat lagi pertandingan usai, Hina tetap memupuk harapan Jaemin datang dan memberi semangat untuknya.

"Semua peserta segera memasuki lapangan!"

Hina memasuki lapangan dan mendengar sorakan penonton yang banyak meski tak sampai memenuhi arena. Bahkan suara Haechan terdengar jelas di telinganya.

"Bersedia... Siap...Ya!"

Hina melajukan sepatu rodanya dengan cepat. Kepawaiannya membuat Hina berhasil memimpin pertandingan. Sorak riuh penonton yang hadir dan komentator menggema di gedung saat itu. Hingga tiba-tiba gadis jepang itu kehilangan keseimbangan.

"Hina!"

Sorakan-sorakan yang tadi terdengar kini berganti bisikan saat melihat Hina masih dalam posisi duduk setelah jatuh.

"Hina, tak apa!" Teriak Lami yang tertangkap indera pendengar Hina.

"Hina fighting!"

Beberapa penonton meneriakkan itu padanya saat peserta lain telah menyalip Hina. Entahlah, tapi Hina ingin marah saat ini.

"HINA-CHAN, FIGHTING!"

Suara seseorang menggema dan menarik perhatian penonton. Hina tau itu suara siapa, gadis itu mendongak dan mendapati Jaemin yang berdiri di tribun sambil mengacungkan jempol padanya. Hina tergugah, ia tersenyum lebar dan kembali bangkit melupakan kakinya yang sakit. Hina bertekad memenangkan pertandingan ini.

Renjun dan Haechan ikut bahagia Jaemin datang. Mereka hendak menghampiri Jaemin tapi tertahan oleh kerumunan. Disisi lain Hina berhasil mengejar ketertinggalan. Tinggal beberapa meter lagi dan sampai di garis finish.

"Juara 1 Koeun, juara 2 Gong Hina, juara 3 Kim Yeri"

Hina melambaikan tangan pada Lami yang tengah menahan haru. Lami sangat bangga pada Hina yang mampu bangkit dan mengejar ketertinggalan meski harus berhenti di juara dua. Kemudian Hina menoleh pada Jaemin yang juga tersenyum bahagia. Dan Hina melihat sesuatu yang aneh dari Jaemin, pakainnya.

"Kau adalah keberuntungan untukku" batin Hina sambil membalas senyuman Jaemin.

Renjun dan Haechan berkeliling mencari Jaemin yang tiba-tiba menghilang dari tribun. Sampai mereka menemukan Jaemin duduk bersandar di kursi panjang yang terletak di sebelah toilet.

"Jaemin!" Seru Renjun dan Haechan.

"Akhirnya kau datang juga" ucap Haechan duduk di sebelah Jaemin dan merangkul pundak sahabatnya itu. "Tunggu, kenapa kau pakai..."

"Jaemin, ada apa?" Tanya Renjun.

Jaemin membenturkan perlahan kepala belakangnya ke dinding dan memejamkan mata. Melihat itu Renjun segera menghentikan Jaemin dengan meletakkan tangannya di kepala Jaemin.

"Katakan, ada apa?" Ulang Renjun.

"Jaem, siapa yang meninggal?" Tanya Haechan lirih.

Setetes air mata lolos dari ujung mata Jaemin yang tertutup.

"Kakek" ucap Jaemin.

Haechan dan Renjun tertegun mendengar itu. Mereka tak merespon dan membiarkan Jaemin melanjutkan ucapannya. Jaemin membuka mata dan tersenyum kecut.

"Kalian tau, aku bersama kakek disaat-saat terkahirnya. Aku berada disisih kakek, aku melihat kakek begitu sakit. Tapi, hatiku jauh lebih sakit. Haha"

Renjun membuang muka karena tidak ingin melihat raut wajah Jaemin dan Haechan mengepalkan tangannya erat.

"Kalian tau lagi apa yang membuatku sakit?"

*
*
*

Tbc...

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang