Haechan dan Renjun merapikan seragamnya sambil melihat kamera yang terpasang di bel rumah Jaemin. hari ini genap enam belas hari Jaemin tidak sekolah, jadilah mereka menjenguk Jaemin. Di dalam rumah Jaemin terkikik geli melihat kelakuan dua sahabatnya melalui monitor yang terpasang di dekat pintu.
ding dong
"cepat buka pintunya. Kasihan mereka menunggu" kata Sunghee.
"biarkan" ucap Jaemin masih terkikik geli. "yeoboseyo?" sapa Jaemin melalui bel rumahnya.
"Ya! Jung Jaemin, cepat buka gerbangnya!" Jaemin tertawa mendengar suara cempreng Haechan yang memarahinya.
Akhirnya Jaemin membuka gerbang dan membiarkan temannya masuk. Ia duduk di sofa sambil memakan nori saat Haechan dan Renjun masuk.
"ya! kurang ajar!" seru Haechan sambil menunjuk Jaemin.
"kau membuat kita menunggu lama! sini kau!" sambung Renjun.
Renjun dan Haechan meletakkan plastik belanjanya lalu mengambur pada Jaemin yang masih duduk di sofa. Mereka kompak menggelitik Jaemin hingga sang empu berteriak minta ampun.
"ya! ya! luka ku, argh" rintih Jaemin saat Renjun dan Haechan tak sengaja mengenai bekas operasinya.
"maaf Jaemin"
"maaf aku lupa"
Renjun dan Haechan menyesal menggelitik Jaemin yang kini masih mengrenyit sakit. Jaemin tidak berbohong, luka sedikit terasa perih.
"kenapa Jaemin?" tanya Sunghee saat menyajikan minum dan makanan ringan.
"tak apa, bu" jawab Jaemin berusaha meredam rintihannya.
"ibu ke kamar ya jika butuh sesuatu panggil saja"
"iya"
"terima kasih bibi"
Sepeninggal Sunghee, Haechan dan Renjun menyalakan PS yang diambilnya dari kamar Jaemin. Hal ini sudah biasa, rumah Jaemin sudah seperti rumah mereka sendiri. Haechan dan Renjun asik dengan PS mereka sedangkan Jaemin memilih merebahkan tubuhnya di sofa.
"kalian datang hanya niat bermain PS atau apa?" gerutu Jaemin.
"bermain PS berkedok menjenguk" sahut Renjun mengundang tawa Haechan yang begitu keras.
"dasar" gumam Jaemin. "Jeno... apa kabar?"
"dia tidak menghubungimu?" tanya Renjun sambil menghentikan permainannya. Jaemin hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Renjun.
"Dia baik-baik saja. Dia juga yang menyarankan agar menjengukmu. Jangan khawatirkan dia" jelas Haechan.
"aku sempat menelponnya dan mengajaknya bertemu, tapi dia bilang tidak"
"dia butuh waktu, Jaemin"
"tidak masalah jika dia ingin tinggal dengan ayahnya, tapi setidaknya bicara sedikit. Kasihan ibu Sunghee"
"aku dan Haechan akan membantumu bicara padanya. Percayalah dia baik-baik saja"
"bagaimana Jeno dengan kalian?"
"kami baik-baik saja. Jeno berbicara seperti biasa padaku dan Renjun. Bercanda, makan bersama. Yah, seperti biasa. Sudahlah jangan khawatir. Fokus sembuh dulu"
"hm"
Jaemin menutup matanya dengan lengan kanannya. Haechan melihat gelang yang dipakai Jaemin sambil berdecak kagum.
"woah, gelangmu bagus. Ini kan sangat mahal" kata Haechan.
"omo! gelang ini kan limited edition, keluaran tiga atau empat tahun lalu. Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Renjun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
