(Twenty Five) Aku Ada

3.5K 398 15
                                        

Jaehyun memutar knop pintu kamar yang sejak kemarin tak terbuka. Matanya beredar ke setiap sudut kamar dan menemukan seseorang yang sedang duduk di meja belajar. Jaehyun tau Jaemin tak benar-benar belajar, anak itu hanya melamun dan Jaehyun tak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Jaemin.

"Jaemin" panggil Jaehyun.

"Eh, hyung" Jaemin tersadar dari lamunannya.

"Seberapa nyaman kamarmu hingga kau tak ingin keluar?" Jaemin terkekeh mendengar pertanyaan Jaehyun.

"Apa yang bisa aku lakukan di luar? Jeno sepertinya marah padaku"

"Tentu saja. Aku pun seharusnya juga marah padamu setelah kau buat kegaduhan dengan menghilang begitu saja sebelum upacara pemakaman"

Jaehyun sadar kata terakhir dalam kalimatnya membuat Jaemin mengingat hal yang menyakitkan. Pria dua puluh tahun itu merangkul pundak Jaemin.

"Jangan khawatirkan apapun. Paman Jungmo sudah memberitahu semuanya. Kau sudah berusaha sebaik mungkin"

"Hyung, kau percaya padaku?"

"Tentu. Aku akan tetap percaya padamu disaat semua orang sudah tidak mempercayaimu" Jaemin kembali terkekeh mendengar ucapan Jaehyun. "Kenapa tertawa? Aku serius"

"Kalimatmu mirip dengan kalimat ayah"

"Ya itu karena aku putranya, putra yang paling tampan"

"Jadi kau pikir aku tidak tampan?" Dengus Jaemin.

"Jaemin, kau ingat janjimu?"

Mendadak suasana hening saat Jaehyun melontarkan pertanyaan itu. Mata Jaehyun tak lepas dari Jaemin yang terdiam menatapnya. Ingin Jaemin mengalihkan pembicaraan Jaehyun namun ia tau kakaknya paling tidak suka diajak bercanda saat sedang serius.

"Kau dengar aku, Jaem? Kau ingat janjimu?" Ulang Jaehyun sedikit menekan kata janji.

"Kau lihat sekarang aku baik-baik saja" seulas senyum terpancar dari bibir Jaemin saat mengatakan itu.

"Bukan, Jaemin. Tapi disini..." Jaehyun menunjuk dada Jaemin. "Apakah disini baik-baik saja?"

"Selama kau dan ayah ada dan kalian yang menyayangiku masih di sampingku, aku akan selalu baik-baik saja"

Jaehyun menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Dapat Jaehyun rasakan tubuh Jaemin yang lebih kurus dari sebelumnya. Jaehyun tak pernah tau seberapa berat beban yang dipikul oleh Jaemin hingga ia seperti saat ini. Jaemin sendiri masih berusaha menahan senyumnya agar tak hilang, ia juga mengelus punggung Jaehyun pelan untuk menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.

"Kalau begitu, aku akan selalu bersamamu. Janji"

***

Jeno masih sedikit kesal dengan Jaemin. Alhasil dia bersikap acuh pada adik tirinya itu. Semua merasa ini adalah hal yang lumrah kekhawatiran seorang kakak pada adiknya. Baik Chilhyun, Sunghee, maupun Jaehyun menanggapi sikap Jeno sambil tersenyum gemas karena setiap Jaemin mengajaknya berinteraksi, Jeno akan bersikap acuh namun terlihat menggelikan.

"Aku minta maaf!" Teriak Jaemin.

Mereka baru saja sampai di sekolah. Setelah turun dari mobil, Jeno bergegas meninggalkan Jaemin.

"Jeno, sampai kapan kau begini?" Kesal Jaemin begitu sampai kelas dan Jeno masih tidak menggubrisnya sedikitpun.

"Hei hei... Ada apa?" Tanya Haechan.

"Jeno, dengarkan aku. Aku minta maaf, aku sedang kalut saat itu. Aku tak tau harus bagaimana dan kemana, maafkan aku" Jeno rasanya ingin tertawa mendengar rayuan Jaemin, tapi ia masih kesal. "Jeno... Hyung"

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang