Mata Jeno tak lepas dari aktivitas dokter yang bertugas di sekolah kini tengah mengobati kaki Jaemin. Ya, kaki Jaemin terkilir karena terkejut bola yang mengarah padanya berakhir dengan Jaemin menghindar dan jatuh.
"Sudah" ucap dokter setelah melilitkan perban di kaki Jaemin.
"Ssaem, dia baik-baik saja kan?" Tanya Jeno.
"Ck, aku tidak apa-apa. Ini hanya terkilir biasa, pasti lekas sembuh" balas Jaemin.
Dokter hanya tersenyum menanggapi perdebatan dua remaja di hadapannya. Namun dokter itu menyadari sesuatu.
"Jaemin, akan ada baiknya kau periksakan ke rumah sakit agar pengobatannya lebih akurat. Kau pernah mengalami cidera parah dan mengingat kondisi kaki mu saat ini, jika sekarang kau biarkan kaki mu terkilir yang ku takutkan keadaannya akan bertambah buruk" jelas dokter.
"Anda tenang saja ssaem. Saya akan menyeret dia ke rumah sakit" sajut Jeno.
Jaemin tidak menggubris sahutan Jeno. Rumah sakit, kaki, cidera. Ingatannya kembali pada dua tahun lalu.
Apa aku akan lumpuh?
Pikir Jaemin. Jaemin terlalu takut untuk pergi ke rumah sakit yang hanya akan membuka luka lamanya. Kehilangan sang ibu dan seseorang yang sangat berharga baginya. Dan berakhirlah dengan Jaemin yang sekarang, si pembawa sial. Sungguh ia tidak ingin pergi ke tempat itu.
"Jaem?" Panggil Jeno membuyarkan lamunan adik tirinya itu.
"Jangan bawa aku ke rumah sakit. Suruh saja dokter datang ke rumah" ujar Jaemin. Tentu saja Jeno tak begitu paham akan maksud Jaemin.
Haechan dan Renjun sontak menghampiri Jaemin yang tengah di papah Jeno. Mungkin beberapa dari siswa lain paham bagaimana keadaan Jaemin, tapi tetap saja ada yang mencibir.
"Hanya terkilir biasa, manja sekali dia"
"Bagaimana?" Tanya Renjun.
"Apanya?" Balas Jeno.
"Kaki Jaemin tentu saja!" Sentak Renjun jengkel. Jeno hanya ber'O' ria.
"Tanyakan saja pada dia (Jaemin). Dan kurasa kau dan Haechan lebih paham keadaan Jaemin dibandingkan aku" ujar Jeno.
Sindiran yang begitu terasa oleh Jaemin dan kedua sahabatnya. Renjun dan Haechan sedikit gugup menanggapinya.
"Yasudah kalian disini saja temani Jaemin. Aku belikan makanan untuk kalian" kata Jeno kemudian pergi begitu saja.
"Jaem?" Lirih Haechan.
"Hm?" Sahut Jaemin.
"Jeno pasti kecewa. Kau saudaranya tapi dia tak tau apapun tentangmu. Kau mungkin sudah menceritakan sebagian dari kisahmu, tapi itu tak lantas membuatnya puas. Dia merasa kau menutupi sesuatu darinya"
"Lalu?"
Renjun dan Haechan tak habis pikir dengan respon Jaemin. Terlalu sulit membicarakan topik ini dengan Jaemin.
"Maksud Hae-"
"Jeno akan lebih membenciku jika ia tau semuanya. Tau siapa saudara tirinya ini yang hanya sebatas pembawa sial di mata semua orang" potong Jaemin saat Renjun akan menjelaskan.
"Kau bukan pembawa sial!" Sentak Haechan. "Ku tekankan sekali lagi, mereka salah paham padamu Jaem!"
"Kalau begitu kapan kesalahpahaman ini berakhir?"
Haechan dan Renjun kembali bungkam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jaemin disertai senyuman itu.
Sedangkan tanpa mereka ketahui Jeno masih berdiri di balik pintu kelas. Ia belum beranjak sejak tadi. Dan sekarang rasa penasarannya sampai di ujung. Rahasia apa yang disembunyikan keluarga juga teman barunya. Dari kejauhan Lami yang sedang berjalan bersama Hina tak lepaskan pandangannya pada Jeno yang berdiri bersandar di depan pintu kelas.
"Eh, kau" sapa Hina, Jeno terkesiap. "Sedang apa? Bukankah kau yang mengantar Jaemin tadi?"
"Eh itu... Aku-" Jeno gugup. Terlebih Lami menatapnya.
"Sedang apa disini? Kau bilang beli makanan?" Tanya Haechan yang keluar dari kelas.
Hina melirikkan pandangannya ke dalam, dilihatnya Jaemin yang menidurkan kepalanya di meja dan Renjun yang sibuk bermain ponsel.
"Dompetku tertinggal, aku kembali untuk mengambilnya" kata Jeno kemudian beranjak masuk ke kelas mengobrak-abrik isi tasnya.
Memang sebetulnya Jeno tadi lupa membawa dompet. Begitu mendapatkan dompetnya Jeno meninggalkan kelas dengan sekilas melirik Lami yang masih di depan pintu bersama Hina dan Haechan.
"kau mau disini saja?" tanya Lami pada Hina. "kalau begitu aku ke ruang ganti lebih dulu, kau menyusul saja"
Hina dan Haechan menatap heran Lami. Banyak perubahan yang terjadi pada gadis itu beberapa hari belakangan. Masih dengan sikap yang dingin, tapi tatapan penuh amarah dan kebencian tidak terlihat. Dan yang paling disadari oleh Hina dan Haechan juga beberapa teman yang lain adalah Lami dan Jeno yang saling menatap.
"Kau berpikir apa yang ku pikirkan?" tanya Haechan.
"mungkin. Ah, bagaimana keadaan Jaemin?" balas Hina.
"tanyakan saja pada dia"
"dia sedang tidur"
Haechan menutup pintu kelas kemudian manarik tangan Hina pelan membawanya ke tempat untuk bicara yang sekiranya tidak terdengar oleh Jaemin.
"kau masih menyimpan persaanmu?" tanya Haechan langsung.
"eh? apa yang kau bicarakan?"
"jawab saja. Kau masih menyimpan persaanmu pada Jaemin bukan?"
"Haechan, persahabatan bagiku adalah yang terpenting. Jika memang perasaan ini masih ada, tapi perasaan Jaemin pada sahabatku Lami tetaplah utuh. Harusnya kita sebagai sahabat mereka membantu agar hungan keduanya membaik dan berakhir dengan kebahagiaan"
Haechan menghela nafas dalam. Hina tak tau apapun ternyata, pikir Haechan. Sebetulnya Hina tau kemana arah pembicaraan Haechan. Tapi bagi Hina, Lami adalah satu-satunya gadis yang diharapkan Jaemin. Jadi percuma saja jika ia tetap memperjuangkan perasaannya.
"bantu Jaemin berpindah ke lain hati" ucap Haechan.
"apa maksudmu?" kali Hina tidak mengerti.
"aku tau kau adalah sahabat Lami dan tentunya kau sangat mengenal Lami. Kau paham apa arti tatapan Lami pada Jeno. Sesuatu yang perlu kau tau, Jaemin juga tau. Jeno menyukai Lami"
deg
Semiris itukah kisah Jaemin? Hina memang tau meski Lami tak mengatakannya. Tampak Jelas jika sahabatnya itu tertarik pada siswa baru yang dekat dengan Jaemin, orang yang sangat dibenci oleh Lami. Tapi ia tak tau jika Jeno pun memiliki perasaan yang sama dengan Lami.
"Hina, rebut hati Jaemin"
***
Jaemin merasa seperti menghadiri persidangan. Ayah dan kakaknya terus menatap tajam ke arahnya.
"Ayah tidak mau tau, berhenti melakukan aktifitas olahraga. Ayah akan mengurus perizinannya besok ke sekolah" ujar Chilhyun.
"Ayah, tidak perlu. Ini kesalahanku, aku tidak hati-hati. Ayolah hanya terkilir biasa. Lagipula dokter bilang ini akan sembuh dalam waktu seminggu" balas Jaemin.
"Jaemin, ayah mohon. Dengarkan ayah, sekali saja"
"Kenapa? Ayah takut aku lumpuh? Aku akan lebih menyulitkan orang lain dan membawa petaka lagi?"
"Jaemin!" Sentak Jaehyun.
Jaehyun geram dengan sikap Jaemin yang semakin tidak sopan. Sebenarnya ini bukanlah masalah serius yang harus diselesaikan dengan emosi. Tapi sejak kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa keluarga ini, sikap Jaemin berubah drastis. Emosional, sensitif, bahkan terkadang begitu lemah.
"Jaehyun, sudah nak" cegah Sunghee.
"Dia (Jaemin) harus tau jika ayah tidak menginginkan dia lebih menderita dari sekarang, bu. Jaemin keterlaluan"
"Menderita? Penderitaanku tidak ada apa-apanya dengan mereka yang telah ku hancurkan hidupnya!"
"Cukup!"
*
*
*
Tbc
Aku bingung yorobun😥
Komentarnya yaaa🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
Fiksi PenggemarPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
