(Twenty Eight) Keadaan Yang Berbeda

4.5K 419 101
                                        

mata itu???

Batin Jaemin sebelum senggolan cukup keras dari pria itu membuyarkan lamunannya hingga membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh menggelinding di satu per satu anak tangga membuat siapapun yang menyaksikan itu memekik ketakutan. Termasuk Jeno yang masih di tempatnya tadi.

"JAEMIN!!!" Pekik Jeno.

Masa bodoh dengan pria yang diteriaki pencuri oleh warga sekolah Jeno lebih memilih mendekat pada Jaemin yang kini terkapar di lantai. Kaki Jeno melemas saat melihat Jaemin kesakitan dan pelipisnya berdarah cukup banyak.

"Jaemin, bertahan!" Pinta Jeno.

Beberapa memilih mengejar pelaku sementar siswi-siswi mengerubungi Jaemin dan Jeno. Melihat Jaemin yang seakan kesulitan bernafas membuat Jeno semakin panik hingga ia pun menangis sambil terus menyebut nama Jaemin.

Renjun dan Haechan membelah kerumunan. Melihat bagaimana kacaunya Jeno di samping Jaemin saat ini.

"Tolong" isak Jeno sambil menatap Renjun dan Haechan.

"Hhhh... Ss...se...sak" Jaemin merintih antara sadar dan tidak. Kepalanya pusing, tubuhnya terasa sakit terutama dibagian bahu dan tangannya mencekram kemejanya dibagian dada karena merasa sakit dan sesak.

"Kalian semua minggir! Beri Jaemin ruang!" Pinta Haechan.

"Mundur semua!" Suara Cho saem -dokter sekolah- mengintrupsi.

Cho saem memposisikan Jaemin setengah duduk dibantu Jeno yang menyangga tubuh Jaemin. Ia juga melonggarkan dasi yang dikenakan Jaemin agar membantu melancarkan pernafasan Jaemin. Satu persatu kacing kemeja Jaemin dibuka oleh Cho saem, menampakkan bagian dada Jaemin yang tampak kebiruan membuat Jeno juga Renjun dan Haechan semakin takut.

"Bagaimana saem?" Tanya Leeteuk saem yang baru datang setelah menghubungi ambulance.

"Saya yakin tulang rusuknya patah karena benturan di setiap anak tangga. Dadanya membiru, kemungkinan mengenai paru-parunya. Dia harus segera ditangani" jelas Cho saem sambil memberikan pertolongan pertama meski tak bisa maksimal karena peralatan medis yang dimiliki sekolah terbatas.

"Jaemin, maaf" bisik Jeno. "Maaf ini salahku. Bertahanlah aku mohon"

Sambil menunggu ambulance datang, Cho saem memasangkan masker oksigen yang memang tersedia di sekolah. Jaemin semakin lemas karena kesulitan bernafas hingga wajahnya pun memerah. Jeno yang tadi merasakan genggaman Jaemin yang kuat pada tangannya kini merasakan tangan itu dingin dan lemas.

Tak lama, ambulance datang. Petugas pun bergegas mengangkat Jaemin.

"Dia mengalami gejala pneumatorax" kata Cho saem pada petugas rumah sakit.

Jeno, Renjun, dan Haechan mengikuti kemana Jaemin dibawa. Namun tarikan pada tangan Jeno menghentikannya.

"Apa?" Tanya Jeno dengan nada tinggi.

"Jeno-"

"Tidak ada waktu untuk bicara denganmu, Lami! Adikku terluka disana!" Sentak Jeno bahkan sebelum Lami menyelesaikan kalimatnya.

Jeno menyentakkan genggaman Lami dan kembali berlari menyusul Jaemin. Padahal Lami ingin menenangkan Jeno yang tampak begitu kacau. Lami beralih pada Hina yang masih terdiam. Entah mengapa, rasa bersalah perlahan tumbuh dengan sendirinya dalam benak Lami. Padahal apa yang terjadi pada Jaemin bukan ulahnya, ini murni kecelakaan. Tapi Lami kembali mengingat tadi perdebatannya dengan Renjun yang mempermasalahkan Jaemin.

Lami memeluk Hina perlahan. Gadis itu masih diam hingga beberapa menit membalas pelukan Lami dan terisak disana.

"Tenanglah, dia akan baik-baik saja"

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang