(Fifty Five) Bangun

4.2K 369 18
                                        

Hari terus berganti tanpa terasa. Lami enggan melakukan apapun. Ia hanya berdiam diri di kamarnya. Meskipun suara ketukan pintu berulang kali terdengar, Lami sama sekali tidak mengindahkan panggilan itu.

"Lami, nak? ayo keluar. Kau belum makan selama berhari-hari" rayu Sooyeon.

"aku dan Sooyeon sudah menyerahkan semuanya pada polisi, bagaimana pun Taeyong harus bertanggung jawab. Setidaknya temui kakakmu sebentar" ujar Kyunwoo. "jangan keras kepala, Lami. Bukan hanya kau yang kecewa, kita semua kecewa dengan apa yang dilakukan Taeyong"

Lami semakin mengeratkan pelukannya pada boneka beruang miliknya. Isakan lirih mulai terdengar.

apakah ini yang kau maksud, oppa? kau datang dalam mimpiku, memelukku dan menangis. Apa ini semua firasat?

***

Jaehyun memarkirkan mobilnya, namun ia tak kunjung keluar. Ia memantapkan hatinya untuk masuk ke rumah tahanan. Jujur saja ia belum siap dan tidak akan tega untuk bertemu seseorang di dalam sana.

Jaehyun menghela nafas lalu dengan pasti keluar dari mobil. Matanya lalu menangkap seseorang yang ada di depan pintu masuk. Gadis itu nampak ragu untuk melanjutkan langkahnya.

"Kim Lami!" panggil Jaehyun.

Mendengar namanya disebut, Lami menoleh. Ia terkejut atas kehadiran Jaehyun disana. Gadis itu justru terlihat ketakutan dan hendak berlari menjauh dari pintu masuk. Melihat itu Jaehyun sontak mengejar Lami.

grep

"ya! kau ini kenapa?!" sentak Jaehyun setelah berhasil meraih tangan Lami. "Kim Lami, aku bicara padamu!"

"oppa... maaf" lirih Lami.

Sebenarnya Jaehyun tidak menyukai Lami lagi sejak gadis itu membenci dan terus menyalahkan adiknya atas kematian Minhyung. Tapi berkaca pada keadaan sekarang, Jaehyun tidak tega membenci Lami.

"kau ingin bertemu kakakmu kan? ayo kita masuk bersama"

"kau akan menemui Taeyong oppa?"

"tidak, aku belum siap bertemu Taeyong hyung. Aku ingin menemui Irene noona"

Lami menunduk. Ya mana mungkin Jaehyun mau menemui seseorang yang melukai kedua adiknya. Dan mungkin Jaehyun melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang dilakukan Taeyong pada Jaemin dan Jeno.

"Lami?" panggil Jaehyun, Lami mendongak. "ayo" ajaknya.

Sampai di dalam keduanya terpisah di ruangan yang berbeda. Lami menemui Taeyong dan Jaehyun menemui Irene. Mungkin juga Lami akan menemui Irene nanti.

Lami meremas tangannya gugup sembari menunggu sang kakak keluar. Suara deritan pintu menyita perhatian Lami. Di ruang yang tersekat oleh kaca di tengahnya itu muncul Taeyong bersama satu petugas.

Tatatapan Taeyong menyendu melihat adik kecilnya disini. Taeyong menyentuh kaca hidapannya dengan kedua tangannya yang diborgol. Ingin sekali menyentuh adik kecilnya.

"halo sayang" sapa Taeyong berusaha menahan air matanya, namun justru Lami yang menitihkan air matanya. "jangan menangis. Maaf kau harus menemuiku seperti ini"

"kenapa oppa melakukan ini?" tanya Lami dengan intonasi yang begitu dingin, Taeyong menyeringai.

"aku melakukan ini untuk Minhyung dan keluarga kita"

"apa yang kita dapatkan setelah ini, oppa? Minhyung oppa tidak suka kau melakukan ini"

"siapa yang meracuni otakmu? Jaemin?"

"tidak! oppa, aku menyesali apa yang aku lakukan semua ini. Aku mencoba mengikhlaskan Minhyung oppa dan mencoba memahami bahwa ini semua adalah takdir"

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang