(Fourty Seven) Teror

3.3K 341 14
                                        

Jeno nggeliat, merasa tidurnya terusik karena cahaya matahari yang masuk ke kamarnya. Yang pertama ia lihat adalah Jaehyun yang pulas tertidur di sampingnya. Ah, iya... Jeno lupa ini kamar Jaehyun. Ia tidur di kamar Jaehyun beberapa hari setelah kembali ke rumah Chilhyun.

Jeno membiarkan Jaehyun melanjutkan tidur nyenyaknya. Ia keluar dari kamar Jaehyun lalu melihat kamar Jaemin yang sedikit terbuka. Jeno mengintip, yang ia lihat adalah Jaemin sedang fokus bermain game di laptop. Jeno tersenyum.

"kau bisa seperti itu juga" gumam Jeno.

"sudah pagi ya ternyata" kata Jaehyun keluar dari kamar dengan tampang kusutnya.

"untung hari minggu hyung" sahut Jeno.

Jaehyun tersenyum, menunjukkan dimple di pipinya yang mempesona. Jeno memilih pergi ke kamarnya dan mandi, sedangkan Jaehyun berjalan ke kamar Jaemin.

PYAR

"akh!"

Suara pecahan kaca diikuti pekikan dari kamar Jaemin menyita atensi Jaehyun dan Jeno. Keduanya sontak berlomba memasuki kamar Jaemin.

"astaga!"

"Jaemin!"

Jaehyun mendekati Jaemin yang duduk di lantai sambil memegang pelipis kanannya. Di sela-sela jarinya mengalir sedikit cairan merah yang membuat Jaehyun dan Jeno begitu khawatir.

"kenapa bisa begini?" tanya Jaehyun entah pada siapa.

Jaehyun membantu Jaemin duduk di ranjang. Jeno mengalihkan perhatiannya pada serpihan kaca yang berceceran di lantai. Kaca dari gelas yang pecah dan kaca jendela, juga batu berukuran cukup besar ada disana dengan sedikit bercak darah. Jeno beralih pada jendela yang pecah, melihat ke bawah untuk mencari pelaku yang melemparkan batu itu.

"Jeno siapkan mobil!" suruh Jaehyun, Jeno kembali memusatkan perhatian pada Jaemin sebelum ia mengangguk atas perintah Jaehyun.

"jangan ke rumah sakit hyung" tahan Jaemin sebelum Jeno benar-benar keluar.

"aku panggilkan ibu saja ya?" tawar Jeno.

Meski belum mendapat persetujuan, Jeno segera berlari keluar kamar Jaemin dan tak lama terdengar suara teriakannya yang memanggil ibu dan juga ayahnya.

Jaehyun mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah di pelipis Jaemin. Ia sesekali meringis seakan ikut merasakan sakit saat Jaemin merintih. Chilhyun dan Sunghee masuk dan betapa terkejutnya mereka melihat keadaan di kamar Jaemin. Lalu disusul Jeno sambil membawa kotak obat.

"apa yang terjadi sayang?" tanya Sunghee khawatir.

"ke rumah sakit ya?" tawar Chilhyun.

Jaemin menggeleng pelan menanggapi ayah dan ibunya.

"obati di rumah saja bu" pinta Jaemin.

Sunghee mengambil alih Jaemin. Dengan telaten dan cekatan, Sunghee mengobati Jaemin. Sesekali Jaemin memekik kesakitan, namun akhirnya ia bisa menahannya. Luka di pelipis Jaemin kini terlilit perban.

"kalau merasa pusing atau apapun itu katakan pada ayah, hm?"

"iya ayah"

"bagaimana bisa ini terjadi Jaemin?" Jaehyun bersuara.

"aku ingin minum tadi. Tapi tiba-tiba seseorang melempar batu ke Jendela dan mengenaiku" jelas Jaemin.

"siapa pelakunya?! berani-beraninya..."

"kita cek cctv di depan, Jaehyun. Jaemin istirahat di kamar ayah saja" kata Chilhyun.

"aku ikut!" ucap Jeno.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang