(Fifty Four) Ancaman

4K 367 30
                                        

"keluarga Jung Jaemin"

Mereka kembali dihadapkan pada suasana tegang saat dokter lain memanggil keluarga Jaemin.

"bagaimana keadaannya dokter?" tanya Chilhyun.

"Dia masih dalam masa kritis karena luka-luka yang dia alami. Lalu apakah dia pernah mengalami pneumatorax?"

"iya. Itu terjadi beberapa bulan yang lalu"

"paru-parunya kembali bermasalah"

*
*
*

"Tapi kami mengupayakan untuk diobati tanpa melakukan operasi. Kami juga harus menunggu pasien sadar agar dapat memastikan itu. Setelah ini pasien akan di pindah ke ruang perawatan"

"terima kasih dokter"

Dokter itu kembali masuk ke ruang UGD yang kemudian tidak lama sebuah brangkar di dorong keluar. Itu Jaemin. Sama seperti Jeno dia juga tampak pulas tertidur. Beberapa luka menghias indah wajah tampannya yang tertutup oleh masker oksigen.

Setelah sampai di ruang rawat, dokter hanya mempersilakan dua orang yang masuk menemani Jaemin. Chilhyun dan Sunghee akhirnya tinggal untuk menjaga Jaemin sedangkan yang lain menunggu di luar.

"sayang..."

Sunghee menggenggam tangan kanan Jaemin yang terbebas dari infus. Belum kering luka di lengan Jaemin, sudah tercipta luka yang baru hingga membuat anak itu tertidur.

"yeobo, bagaimana jika Jeno dan Jaemin tidak-"

"ssstttt... jangan bicara seperti itu. Ayo keluar. Kita juga harus menunggu Jeno. Biar anak-anak menjaga Jaemin disini"

Chilhyun membawa istrinya keluar. Keduanya lantas disambut oleh Jaehyun dan ketiga sahabat putranya.

"Jaehyun, pulanglah dulu" suruh Chilhyun.

"aku tidak mau" elak Jaehyun.

"ganti bajumu, nak. Setidaknya bersihkan dulu dirimu lalu kembali kesini"

"lalu siapa yang akan menjaga Jaemin disini? aku tidak bisa meninggalkan dia sendiri, ayah"

"biar kami yang jaga, hyung" kata Renjun.

Jaehyun ragu untuk mengatakan iya. Tapi ayahnya tersenyum hangat pada ketiga remaja di depannya.

"kau pulang saja dulu, biar kami yang menjaga disini" ulang Renjun.

"Renjun dan Hina biar tetap disini, aku akan mengantarmu, hyung. Aku membawa mobil tadi" sahut Haechan.

"terima kasih Renjun, Hina, Haechan" kata Chilhyun. "aku dan Sunghee akan menunggu operasi Jeno selesai dulu"

"iya paman. Percayakan pada kami"

Sepeninggal Chilhyun dan Sunghee yang menunggu Jeno di depan ruang operasi bersama Junho juga Haechan yang mengantar Jaehyun pulang, Renjun dan Hina masuk ke ruang rawat Jaemin.

Hina tak mampu menahan tangisnya. Ia terisak di samping Jaemin sambil menggenggam tangan seseorang yang sangat dicintainya itu. Renjun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hati remuk melihat sang sahabat terbaring dalam keadaan seperti ini untuk yang kesekian kali.

"jika bukan Lami yang menelponku, aku tidak akan tau kau seperti ini" ujar Hina pada Jaemin yang tertidur.

"dimana dia?" tanya Renjun, Hina menggeleng.

"aku berusaha menghubunginya tadi, sudah tidak bisa"

Renjun mengeram kesal. Mendadak ia khawatir pada gadis angkuh itu. Ia takut Lami akan melakukan hal nekat. Perhatian Renjun dan Hina teralihkan oleh suara ketukan pintu. Renjun menggeser pintu menampakkan wajahnya di depan beberapa polisi.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang