(Twelve) Berubah

3.4K 383 24
                                        

Jeno berdiri bersandar di pintu depan kelas. Tapi ini bukan kelasnya. Melainkan kelas gadisnya.

Gadisnya?

Lami keluar bersama Hina. Ia terkejut melihat Jeno yang sudah berdiri di hadapannya. Hina tak melepas pandangannya pada Jeno yang tersenyum lebar ke arah Lami. Beberapa siswa juga saling berbisik. Sedangkan Lami, dia malu dan memilih menundukkan kepala.

"Murid baru, sedang apa disini?" Tanya Hina.

"Ck, aku sudah beberapa bulan disini" balas Jeno. "Lami, pulang bersama?" Tanya Jeno yang terdengar seperti ajakan.

Hina terperangah tidak percaya. Lami melirik padanya sambil tersenyum canggung.

"Lami, kau..."

"Aku juga tidak mengerti, ini terjadi begitu saja" ujar Lami.

Jeno tersenyum melihat gadisnya yang nampak canggung menjelaskan semuanya pada sang sahabat. Hina masih menunjukkan ekspresinya tak percaya.

"Kau tenang saja. Aku akan merubah Lami yang 'angkuh' menjadi Lami yang ceria" kata Jeno menepuk pundak Hina kemudian menggandeng tangan Lami dan pergi.

Lami melambai pada Hina. Hina yang membalas lambaian Lami kini perhatiannya teralihkan pada Jaemin yang berdiri bersama Haechan dan Renjun. Keduanya juga sama seperti Hina. Tapi tidak dengan Jaemin. Dia hanya menatap Jeno dan Lami tanpa ekspresi.

Oh ayolah. Tidak mungkin sikap yang dulu dimiliki Lami menular pada Jaemin, atau bahkan berpindah.

"Jaemin kau baik-baik saja kan?" Tanya Renjun.

Jaemin menghela nafas.

"Tidak. Nenek dan kakek ada di rumah, Jaehyun hyung baru saja mengirimiku pesan" balas Jaemin, keluar dari topik yang Renjun bahas.

"Renjun kau jadi ke bandara menjemput ibumu?" Tanya Jaemin.

"Iya, kenapa?" Tanya Renjun balik.

"Haechan, kau bagaimana?" Tanya Jaemin tanpa menjawab pertanyaan Renjun.

"Di rumah, makan dan tidur" jawab Haechan.

"Aku malas pulang. Aku ke rumahmu saja" kata Jaemin, Haechan hanya mengangguk.

"Ya sudah nanti sepulang dari bandara aku akan ke rumah Haechan" ujar Renjun.

"Call"

***

Jeno begitu menikmati makanan yang ia pesan. Tapi Lami justru terlihat enggan menyantap makanannya dan memilih memperhatikan Jeno yang nampak lahap.

"Kenapa tidak dimakan? Kau tidak suka?" Tanya Jeno.

"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya tidak percaya aku bisa-"

"Aku percaya hatimu yang memilihku. Bukan kemauanmu"

Lami semakin yakin ia tak salah menerima Jeno. Dia begitu tulus.

Saat sedang asyik makan sambil sesekali bergurau, tiba-tiba ponsel Jeno menunjukkan notifikasi pesan. Dibacanya pesan dari Jaehyun.

Nenek dan kakek ada di rumah. Kau dimana? Lekas pulang.

"Ada apa?" Tanya Lami.

"Maaf Lami, sepertinya setelah ini kita harus pulang. Nenek dan kakekku datang" jawab Jeno.

"Tak masalah" balas Lami sambil tersenyum.

"Padahal aku ingin mengajakmu bermain"

"Masih ada lain waktu. Keluarga adalah yang terpenting" jangan sampai kau kehilangan moment berharga bersama keluargamu sepertiku.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang