(Fifty Eight) Bangun 2

3.8K 337 32
                                        

Jaemin merapikan selimut yang digunakan Jeno. Haechan dan Renjun hanya memperhatikan itu, mereka terharu tentu saja.

"sudah Jaem, biarkan dia istirahat" kata Haechan.

"dia sudah istirahat lama. Sudah hampir satu bulan. Harusnya ia bangun, aku yakin punggungnya akan sakit karena terus tidur seperti ini" ujar Jaemin.

"eh iya, kau benar juga"

Haechan berdiri mendekati Jeno. Ia tatap lamat-lamat sahabatnya yang pulas dalam tidur panjangnya. Lantas ia mencubit pipi Jeno yang sudah lebih tirus padahal sebelumnya cukup gembul untuk sekadar di cubit.

"ayo bangun Jeno, yuhuu"

pletak

"aw" ringisan lolos dari bibir Haechan saat Renjun menyentil kepalanya dari belakang. "kenapa?!" protes Haechan.

"yang ada kau menyakiti Jeno bodoh!" sergah Renjun.

"hei kids! apa yang kalian lakukan?" tanya Jaehyun yang baru saja datang.

Mereka tidak menjawab hanya tersenyum kikuk. Jaehyun mengendikan bahu. Ia lalu menatap meja kecil di dekat sofa terdapat beberapa botol obat yang ia tau itu milik Jaemin.

"sudah makan?" tanya Jaehyun pada ketiga remaja di depannya.

"belum"

"ya sudah kalian makan dulu, Jaemin juga setelah itu harus minum obat. Biar aku yang menjaga Jeno disini"

Tak ada protes atau apapun, Jaemin, Renjun dan Haechan bergegas ke kantin rumah sakit untuk mengisi perut mereka. Tak lupa Jaemin membawa botol obatnya. Ia masih harus meminum obat secara rutin untuk pengobatan paru-parunya.

Jaehyun tersenyum kecil melihat adik tirinya, masih dalam keadaan koma tentu saja. Terkadang Jaehyun akan dihantui oleh rasa penyesalan dan bersalah mengingat Jeno yang menyelamatkannya saat itu. Jaehyun juga terkadang merasa dendam pada seseorang yang melukai adiknya. Tapi dengan penuh sadar diri ia berusaha melupakan semuanya.

apakah seperti ini yang dirasakan Jaemin? menyesal dan bersalah?

apakah seperti ini yang dirasakan Taeyong hyung? melihat adiknya terluka, ah tidak. Minhyung bahkan meninggal?

apa aku sama saja seperti Taeyong hyung jika menyimpan perasaan marah ini?

Seperti itulah hal-hal yang muncul dalam pikirannya. Jaehyun berpindah ke sofa, mendudukkan tubuh lelahnya. Tak menunggu lama, matanya terpejam.

Sebuah gerakan kecil tercipta. Jemari itu bergerak pelan dan kaku. Semakin lama semakin terasa. Tak hanya telunjuk, kelima jari itu bergerak. Kelopak mata yang tertutup pun juga menunjukkan pergerakan. Butuh beberapa menit hingga kelopak mata dengan bulu mata panjang dan lentik itu mulai terbuka. Sedikit saja hingga sang empu merasakan cahaya yang menyilaukan mata. Ia kembali menutup matanya.

Lalu kembali membuka matanya dengan lebih lebar. Tak memperdulikan sinar yang begitu menyakiti matanya. Yang ia rasakan adalah sakit dan tubuhnya yang kaku. Tenggorokannya terasa panas dan sangat sakit jika ia berusaha melenguh. Suaranya tidak bisa keluar, ia sadar itu.

Cahaya itu perlahan menghilang bergantikan pandangannya yang kabur. Ia berkedip beberapa kali. Sungguh ia ingin berteriak meminta tolong sekarang. Ia tidak bisa menggerakkan kepalanya untuk sekadar menoleh. Semua terasa menyakitkan.

Jeno menangis.

Setetes air mata mengalir dari ujung mata bulan sabitnya.

"ibu" batin Jeno menjerit. Siapapun tolong Jeno.

Jaehyun terbangun karena merasa tidurnya kurang nyaman. Ia menggerutu sendiri. Ia lalu menatap adiknya yang berbaring di ranjang persakitan itu. Ada yang berbeda.

Jaehyun sontak berdiri mendekati sang adik. Ia terperangah tak percaya. Jeno-nya sudah bangun.

"Jeno? kau dengar aku?" Jeno mengarahkan matanya ke Jaehyun. "Terima kasih Tuhan. Terima kasih" Jaehyun menangis, tentu saja.

Ia berlari keluar ruangan meninggalkan Jeno. Tak lama setelahnya Jeno mendengar derap langkah yang semakin mendekat. Masih dengan pandangan yang samar, ia melihat beberapa orang mengerubunginya. Masih ada Jaehyun disana.

"Jeno, kau dengar?" suara berat khas pria dewasa terus memanggil namanya. "Jeno jika dengar saya kedipkan mata satu kali"

Berkedip? itu hal yang mudah tentu saja, batin Jeno. Ia berkedip satu kali sesuai perintah dokter, sangat pelan.

"Jeno bisa gerakkan jemarimu, nak?"

Semua mata beralih pada jemari Jeno sambil memanjatkan doa.

"bagus" ucap sang dokter melihat pasien mudanya ini bisa merespon perintah yang diberikan.

Perawat yang bersama dokter meminta Jaehyun untuk keluar. Dengan perasaan senang dan cemas yang bercampur menjadi satu, Jaehyun menelpon ayahnya dan ayah Jeno bergantian. Ia bisa mendengar kebahagiaan dan rasa syukur dari dua orang yang ia telpon.

"hyung?" panggil Jaemin.

Perasaannya tak tenang melihat kakaknya di luar ruang rawat Jeno. Tapi justru Jaehyun terus tersenyum meski air mata mengalir. Jaehyun tiba-tiba merangkul Jaemin membuat anak itu, Renjun dan Haechan kebingungan.

"hyung kenapa?"

"ada apa hyung? kenapa ada dokter di dalam?"

"Jeno baik-baik saja kan?"

Jaehyun melepas pelukannya dari Jaemin. Ia menatap ketiga remaja di hadapannya secara bergantian.

"Jeno sudah sadar"

***

Sunghee tak melepaskan genggamannya dari tangan Jeno. Wanita itu menciumi beberapa kali tangan sang putra. Disisi lain Junho juga menggenggam tangan Jeno. Chilhyun berdiri di samping Sunghee sedangkan Jaehyun, Jaemin, Renjun dan Haechan menyebar di sekitar brangkar.

Jeno masih membuka matanya. Tapi lehernya terasa kaku dan sakit jika ia gunakan untuk menoleh. Selang yang tadi ada di mulutnya juga sudah dilepas, namun Jeno belum bisa mengeluarkan suaranya.

"Terima kasih sudah mau bertahan, sayang" isak Sunghee.

"ibu maaf" batin Jeno, ia seakan meruntuki dirinya sendiri karena ibunya menangis.

"Jeno istirahat ya? Pelan-pelan saja, jangan terlalu dipaksa" ujar Chilhyun. Ia tau Jeno berusaha berkomunikasi.

Jeno mengedipkan matanya satu kali menanggapi Chilhyun tadi. Ia membuka bibirnya, menggerakkannya seakan mengatakan 'Ayah' sambil melirik ke arah Junho.

"iya, ayah disini. Menemani Jeno" kata Junho, dan lagi Jeno hanya berkedip satu kali.

Chilhyun mengelus pundak Jeno lalu mencium kepala Jeno yang tertutup perban. Chilhyun lantas memberikan kode anak-anaknya agar keluar memberikan ruang untuk Jeno dan orangtua kandungnya.

"hyung, cepat sembuh"

Hanya itu yang mampu Jaemin ucapkan sebelum kemudian ikut keluar. Jeno mendengar itu. Ia sendiri ingin menanyakan keadaan kakak dan adik tirinya. Jeno senang melihat dua orang itu ada disini juga Renjun dan Haechan. Jeno tidak sendirian.

Ia kembali menutup matanya karena lelah. Tak sedikitpun ia melepaskan genggaman Sunghee dan Junho. Dalam hatinya ia berdoa semoga keadaannya akan membaik segelah ia bangun nanti.

*
*
*

tbc

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang