Jaemin masih enggan untuk beranjak dari tempatnya sekarang. Hanya duduk di lantai bersandar pada pinggiran ranjang sambil menatap kotak berukuran sedang berwarna biru. Sejak tadi Jaemin mengunci diri di kamar. Bukan apa apa, dia hanya memastikan tidak ada orang yang masuk ke kamarnya. Setelah lebih dari lima belas menit berdiam diri menatap kotak biru itu, Jaemin memutuskan untuk membuka kotak tersebut.
"ini milik ibu, untukmu dan untukku"
"Yujin, istriku tercinta, ibu kalian... satu tahun ini sudah menyiapkan ini untuk kalian"
"aku tidak mau, jika aku buka kotak ini artinya ibu tidak ada. Aku tidak mau"
Jaemin menghela nafas berat, matanya mendadak buram karena air matanya yang menggenang. Jaemin membuka kotak biru yang sudah ia simpan sejak dua tahun lalu. Kotak yang sebenarnya tak pernah ingin ia buka.
"ibu" lirih Jaemin.
Jaemin menenggelamkan wajah dalam lipatan tangannya. Ia berusaha meredam tangisnya meski ia tidak bisa. Kotak itu berisi tiga tabungan, kotak kecil yang merupakan brand berlian terkenal, beberapa foto, dan sepucuk surat. Jaemin mengambil sepucuk surat yang ditulis di kertas putih itu.
Jaemin, sayang...
ini ibu. Kau tau kan kalau kau tak pernah mau dibedakan. Jadi ibu membuat dua kotak dengan isi yang sama untukmu dan Jaehyun.
Entahlah, sepertinya ibu merasa harus menyiapkan ini.
Untuk putra ibu, Jaehyun dan Jaemin.
ibu sangat mencintai kalian. Maaf, ibu tidak bisa memberikan hadiah sederhana ini secara langsung, mungkin ibu malu. kkkkk
sayang, jadilah seseorang yang kuat. Untuk dirimu sendiri juga untuk orang lain. Putra ibu yang terbaik. Ibu sangat mencintai kalian.
putraku, putra suamiku, adik Jaehyun ku...
Jaemin sayang, ibu mencintaimu
Selamanya....
berbahagialah sayang
"ibu"
tangis Jaemin pecah seketika. Membaca surat ini, Jaemin tidak sanggup menahan rasa sakit dan rindu yang menghantam dadanya sekaligus. Surat ini, mungkin Yujin sudah tau bahwa tahun yang akan datang adalah tahun terakhir ia bersama keluarga kecilnya.
Setelah sedikit lebih tenang, Jaemin mengeluarkan satu per satu isi kotak biru itu. Yang pertama adalah beberapa foto masa kecilnya bersama Jaehyun, ayah dan ibunya. Jaemin tersenyum hambar melihat foto yang menunjukkan begitu bahagianya dia saat itu. Dan foto terakhir yang diambil sebelum ibunya pergi jauh. Jaemin meletakkan foto itu di pigura kecil yang ada di nakas. Ia mengganti fotonya bersama teman seperjuangannya dengan foto terakhir bersama keluarga kecilnya yang utuh.
"maaf hyung" ucap Jaemin pada foto yang sebelumnya ada di pigura.
Jaemin tersenyum melihat foto yang menampakkan dirinya dan temannya tengah tersenyum sambil memamerkan medali yang mereka bawa. Jaemin lalu menyimpannya di kotak biru.
Selanjutnya Jaemin membuka kotak kecil dengan brand berlian ternama. Jaemin semakin tersenyum hambar melihat gelang hitam dengan desain sederhana dan sedikit pernik. Gelang ini, Jaemin ingat saat Yujin liburan ke paris seorang diri ibunya itu mengirim foto gelang itu dengan menanyakan apa Jaehyun dan Jaemin menyukai gelang itu. Jaemin tak menyangka ibunya benar benar membelikan gelang super mahal itu untuknya, dan mungkin untuk Jaehyun pula.
Jaemin memasangkan gelang itu di tangan kanannya. Sangat pas dan cocok di tangannya. Harus Jaemin akui selera ibunya itu tidak main main. Lalu Jaemin beralih pada tiga buku tabungan yang masing masing bertuliskan sekolah, bermain, dan menikah. Jaemin tersenyum, lucu memang. Ibunya sudah menyiapkan semuanya untuk masa depannya juga Jaehyun. Apalagi jumlah di tiap tabungan yang tidak main-main. Jaemin menghela nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
