(Twenty Three) Mimpi Buruk

4K 408 24
                                        

"Sampai nafas terakhirnya, kakek tak sudi menggapku cucu. Bukankah aku begitu mengerikan?"

Jaemin kembali membenturkan kepalanya ke dinding dan kali ini lebih keras.

"Jangan begini, Jaem. Aku mohon" cegah Renjun yang langsung memegang kedua pipi Jaemin.

"Katakan sesuatu, kau boleh menangis sepuasmu. Tapi jangan menyakiti dirimu sendiri" ujar Haechan. "Aku dan Renjun bersamamu"

"Aku ingin menyerah, sungguh" lirih Jaemin dan Haechan tau kali ini tak main-main.

"Tidak mungkin..." Desis Hina.

Ia telah mendengar semuanya. Hina dan Lami berdiri tak Jauh dari ketiga laki-laki itu berada. Lami sendiri tak menyangka dengan apa yang terjadi pada Jaemin, orang yang paling ia benci. Tapi jika boleh jujur, Lami ikut bersedih.

"Akhirnya aku menemukanmu!"

"Paman?"

Junho mengatur nafas tatkala berdiri dihadapan Jaemin. Raut wajahnya tampak cemas. Pria setengah baya itu berjongkok di depan Jaemin yang masih duduk dan tersendu.

"Kenapa kau pergi? Kau buat semua khawatir. Syukurlah ayah menemukanmu disini"

Ayah?

Lami membeku melihat orang yang dikenalnya sebagai ayah kekasihnya, kini pria itu menyebut dirinya sebagai 'ayah' pada Jaemin.

"Ayah sangat panik saat Jeno bilang kau hilang dan memintaku mencarimu kemari. Ayo pulang dan istirahat di tempat ayah" ujar Junho.

"Pulanglah, hubungi aku atau Haechan kapanpun kau mau" sahut Renjun.

"Ayah..." Lirih Jaemin sambil menatap pria di hadapannya.

"Katakan nanti saat di rumah. Sekarang ayo pulang" ajak Junho.

"Terima kasih, paman. Kami mohon jaga Jaemin" Haechan membungkuk diikuti oleh Renjun.

"Aku yang berterima kasih, kalian lebih banyak menjaga Jaemin"

Junho menuntun Jaemin meninggalkan gedung speedskating. Hina menundukkan kepala karena merasa gugup. Lami pasti menyadari sesuatu. Lami menatap Hina sejenak kemudian dengan langkah pasti menghampiri Haechan dan Renjun. Melihat itu, Hina mengikuti dari belakang.

"Tunggu!" Seru Lami saat Haechan dan Renjun hendak pergi.

Haechan dan Renjun berbalik, memperhatikan Lami yang kini mendekat dengan tergesah dan sorot mata tajam. Kedua remaja itu tau ini tak akan baik, Lami melihat semuanya. Melihat pria yang notabennya adalah ayah kandung Jeno juga dipanggil 'ayah' oleh Jaemin. Tapi satu hal yang Lami tak mengerti. Jaemin tak lagi memiliki ibu, tapi bagaimana bisa pria tadi dipanggil ayah oleh Jaemin.

"Bukankah pria tadi adalah ayah Jeno?" Tanya Lami dengan tatapan penuh kecurigaan. "Ada apa sebenarnya? Siapa Jaemin dan Jeno sebenarnya?"

Renjun tak mampu berkata. Entah dia yang terlalu takut rahasia yang disimpan baik-baik oleh sahabatnya terkuak, atau memang ia bingung harus menjelaskan seperti apa. Namun tidak dengan Haechan.

"Kau perlu tau dari Jaemin dan Jeno sendiri. Bukan dari kami"

Penjelasan singkat yang diakhiri senyuman miring oleh Haechan membuat Lami mundur satu langkah. Gadis itu kini beralih pada sang sahabat yang mematung di dekatnya.

"Kau mengetahui sesuatu?"

Hina mendongak saat suara Lami kini terdengar mengintrogasinya. Hina menggeleng pelan tapi Lami tak mendapatkan celah dimana ia menemukan kejujuran Hina. Hina berbohong padanya, Lami tau betul itu.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang