Selamat pagiiii
*
*
*
Jeno sebagai penonton dari drama keluarga barunya ini tak berkomentar apapun. Ia masih duduk manis menikmati suasana pahit yang terjadi. Jaemin sudah mengunci diri di kamar. Jaehyun entah kemana setelah menyambar jaket dan kunci mobil.
Matanya tak lepas dari sang ibu yang kini tengah memberikan ketenangan untuk ayah tirinya. Tampak jelas memang Chilhyun yang begitu payah. Ini bukan hal sepele, pikir Jeno.
"Jeno" lirih Chilhyun saat ia hendak beranjak. "Kau pasti bertanya-tanya ada apa ini"
"Aku akan menunggu sampai semuanya siap untuk berbicara. Ayah jangan pikirkan hal yang lain tentangku. Aku tak apa" balas Jeno disertai senyuman tulusnya.
Chilhyun menghampiri Jeno. Mendekapnya, belum pernah ia melakukan ini pada Jeno.
"Maaf, nak. Ayah belum bisa memberikan kebahagiaan untukmu juga ibumu"
"Ayah, jangan bicara seperti itu. Aku mohon"
Jeno yang masih dalam dekapan Chilhyun menatap ibunya yang kini tersenyum padanya. Tapi ada satu yang ingin Jeno tanyakan pada Sunghee.
Apa ibu tau semuanya?
***
Jaehyun memilih bermalam di apartment. Ia tidak siap bertemu dengan Jaemin besok. Jaehyun tak habis pikir menghadapi sikap Jaemin yang semakin menjadi, terus menyalahkan diri sendiri padahal Jaehyun tau bukan itu kenyataannya. Tapi apa yang bisa Jaehyun lakukan? Tak sedikit pula orang yang menyalahkan Jaemin.
Jaehyun membuka sebuah kardus kecil. Ini barang-barang adik temannya. Barang yang dibawa adik temannya itu saat mengalami kecelakaan bersama Jaemin. Jaehyun menyimpannya.
"Mark, bantu aku membuktikan Jaemin tak bersalah" lirih Jaehyun sembari menatap foto seseorang yang ada di kardus itu.
"Ibu, bantu aku" lirihnya lagi.
Tak lama terdengar isakan Jaehyun. Membenamkan wajahnya di antara lututnya.
Ting
Jaehyun melirik ponselnya
Apa kabar?
***
Lami berjalan seorang diri di lorong sambil membawa tumpukan buku tebal. Sialnya ia terlambat pagi ini.
"Biar ku bantu" kata seseorang merebut begitu saja buku dari Lami.
"Eh" Lami tertegun. Jeno sudah sejauh lima langkah dari Lami. "Lee Jeno, biar ku bawa sendiri. Kau terlambat"
"Apa bedanya denganmu? Kau juga terlambat. Lagipula kelas kita dekat, apa salahnya ku bantu?" Balas Jeno. "Kau ingin memarahiku karena membantumu?"
"Eh, bu-bukan begitu"
Entah Lami merasa begitu gugup berada di dekat Jeno. Jeno tetap bersikap baik meski Lami kasar padanya. Lalu apa bedanya dengan Jaemin? Bukankah Jaemin juga demikian? Itu karena Lami membenci Jaemin dengan alasan apapun.
"Ya! Lami! Jeno!" Seru Park saem menghentikan langkah Jeno dan Lami.
Mereka berbalik sembari menunduk. Jeno juga terdengar menggerutu. Meruntuki dirinya sendiri yang terlambat.
"Iya, saem" balas mereka bersamaan.
"Pukul berapa ini?" Tanya Park saem.
"7.20 saem" jawab Jeno.
"Kenapa baru datang?! Ke lapangan!"
"Ah saem!"
"Cepat!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
