(Eighteen) Pilihan

3.7K 364 7
                                        

Jaemin menghela nafas berat kesekian kalinya. Kakaknya terus saja mengomel tentang dia yang ditampar oleh Lami. Jaemin terlalu malas membahas hal yang menurutnya tidak penting, tapi bagi Jaehyun ini adalah hal yang penting karena menyangkut adik kesayangannya.

"Sudah?" Tanya Jaemin saat Jaehyun berhenti bicara. "Hyung, wajar Lami marah dan bahkan menamparku. Dia khawatir pada Jeno. Lagi pula... Lihat, tidak ada yang kurang dari tubuhku. Tanganku masih dua, kaki, mata, telingan, semuanya utuh. Jangan berlebihan"

"Aku tidak bisa membiarkan ini semua berlanjut, Jaem. Kau adalah hartaku yang paling ku lindungi. Tak akan ku biarkan seseorang menyentuhmu apa lagi menyakitimu"

Mata Jaemin mendadak berembun mendengar kata-kata Jaehyun yang begitu tulus.

"Aku bisa mati jika terus menerus melihatmu terluka seperti ini" suara Jaehyun semakin lirih.

Jaehyun memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melihat Jaemin yang sudah siap dengan air matanya. Begitupun dengan dirinya, hingga tepukan di pundaknya membuat Jaehyun kembali memusatkan perhatiannya pada Jaemin.

"Hyung" panggil Jaemin. "Aku janji tidak akan terluka" katanya.

"Janji?" Tanya Jaehyun bermaksud memastikan perkataan Jaemin.

Jaemin tersenyum kecil sambil mengangguk. Detik itu juga Jaehyun memeluk Jaemin.

"Ku pegang janjimu, kau tidak boleh terluka"

Jeno merasa risih dan rasanya ingin mencabut infusnya karena gatal. Sesekali ia menggaruk bagian yang gatal sambil menggerutu.

"Hati-hati, nanti infusnya lepas" kata Junho.

"Tapi gatal sekali disini" gerutu Jeno sambil menunjuk area sekitar infusannya.

Junho mengambil alih tangan Jeno yang kemudian dielusnya perlahan. Rasa bersalah tiba-tiba hinggap begitu saja di hati Jeno tatkala merasakan sentuhan lembut ayahnya.

"Ayah"

"Hm?"

"Ayah pernah memintaku untuk tinggal bersama dengan ayah"

Junho mendongak, menghentikan aktivitasnya. Ia menatap manik Jeno lekat.

"Ayah maaf, tapi aku ingin bersama Jaemin dan Jaehyun hyung"

Junho masih terdiam. Jeno menunggu jawaban sang ayah atas keputusan yang telah ia buat. Ia yakin keputusannya telah melukai perasaan ayahnya, tapi Jeno lebih yakin lagi ayahnya akan mendukung apapun keputusannya.

"Ayah tau, kau sedang berjuang untuk sesuatu. Ayah juga merasa tenang kau berada di keluarga yang luar biasa. Apapun keputusanmu, ayah selalu ada di sampingmu dan tak akan pernah meninggalkanmu sendiri. Ayah janji"

"Terima kasih ayah"

Junho tersenyum lebar melihat putra kesayangannya begitu bahagia. Bahkan Jeno sekarang sudah merubah posisinya yang tadi berbaring kini duduk dan memeluk Junho erat.

"Tapi janji pada ayah, kau tidak akan pernah terluka" kata Junho.

"Iya, aku janji!"

***

Hina termenung. Pengakuan Jaemin padanya benar-benar membuatnya shock. Ini bukan perkara sepele, pikirnya. Tapi disatu sisi Hina senang Jaemin mempercayainya untuk mengetahui rahasia yang dengan rapi ditutupi oleh Jaemin.

"Hina?"

Hina terbangun dari lamunannya. Ah, dia baru sadar bahwa sekarang sedang bersama Lami di rumahnya untuk mengerjakan tugas. Tapi sejak tadi Lami hanya sibuk bermain ponsel, mungkin berbalas pesan dengan Jeno.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang