Jeno masih tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita Jaehyun tentang masa lalu keluarganya. Mulai dengan Jaemin yang dicap sebagai pembunuh dan pembawa sial karena ibunya meninggal saat menghampirinya, perubahan sikap Jaemin yang ceria dan manja menjadi seseorang yang pendiam dan terkesan lemah, Chilhyun menjadi seorang workholic. Banyak perubahan yang terjadi setelah Yujin meninggal, itu yang Jeno tangkap dari cerita Jaehyun.
Tapi ada satu yang belum terjawab. Minhyung, Jeno tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Dan Jaehyun beberapa kali menyebut nama Minhyung dipercakapannya tadi. Jeno ingin bertanya tapi situasi tidak memungkinkan karena Jaehyun juga masih diselimuti luka kehilangan figur seorang ibu. Mungkin nanti, Jeno akan menemukan Jawaban yang ia cari.
"oh, sudah pulang? dari mana?" tanya Junho setelah selesai menyiapkan hidangan makan malam dan melihat Jeno masuk di kediamannya dengan gontai. "kenapa Jeno? kau sakit lagi?"
"tidak ayah, aku baik-baik saja. Aku bertemu dengan Jaehyun hyung tadi"
"lalu?"
"dia menceritakan tentang ibu Yujin"
Junho hanya bergumam tanpa bertanya kelanjutannya. Mengingat ia juga bukan siapa-siapa dan tidak berhak untuk mengetahui tentang keluarga Chilhyun. Jeno duduk di meja makan bersama Junho. Rasanya ada yang aneh dengan suasana ini. Meja makan yang lebar cukup untuk empat sampai lima orang hanya terisi dua kursi saja.
"ayah, apa aku keterlaluan?"
"tentang apa?"
"aku meninggalkan rumah ayah Chilhyun dengan masalah. Seharusnya aku tidak diam"
"jika kau merasa seperti itu, pulang dan minta maaf. Kau sudah besar, ayah percaya kau tau mana yang harus dilakukan. Jeno, ayah akan mendukungmu"
Jeno akhirnya tersenyum menanggapi Junho. Selera makannya tiba-tiba muncul. Ia mengambil sumpit dan mulai memasukkan makanan ke mulutnya. Junho senang melihat Jeno seperti ini.
"enak sekali, bibi Song terima kasih makanannya. Terima kasih juga sudah memasakkan ayah makanan yang lezat setiap hari!" seru Jeno membuat bibi Song senang.
"makan yang banyak" ucap Junho.
"tapi ayah, apa ayah tidak merasa kesepian?"
"kenapa? kan ada kau"
"jika aku pulang ke rumah ayah Chilhyun bagaimana?"
"ya pulanglah kesana. Ayah yakin meski kau pulang ke rumah Chilhyun, kau juga tetap akan meninggalkan sesuatu untuk ayah. Entah perasaanmu saja atau yang lain. Kau juga akan sering berkunjung kan"
"ayah?"
"hm?"
"menikah lah"
***
Jaemin diam menatap jasad ibunya yang masuk ke krematorium. Pandangannya kosong, bingung harus bagaimana. Air matanya seakan habis tak tersisa. Suara raungan, tangis histeris memekik telinganya hingga menyebabkan sakit luar biasa. Jaemin tiba-tiba menjambak rambutnya sendiri saat ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit yang mendera kepalanya.
"ibu..." lirihnya. "ibu!"
Iris coklat itu terbuka sempurna disusul suara deruan nafas tak beraturan. Jaemin terbangun, menatap sekitar yang ia yakini ini bukan kamarnya. Jaemin memilih bangkit sambil mengusap keningnya yang basah. Netranya menangkap seseorang yang tengah berdiri di depan lemari sambil menatapnya bingung.
"Jeno?"
Jaemin kembali memperhatikan sekeliling kamar. Benar, ini kamar Jeno. Jaemin tertidur disini semalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
