(Sixteen) Salah

3.8K 356 26
                                        

Hari demi hari berganti. Perubahan kian dirasakan oleh orang-orang di sekeliling Jaemin. Mulai dari Jaemin yang tak peduli sekitar, menjadi semakin pendiam, bahkan ia jarang keluar dari kamar dan bersantai bersama keluarganya. Chilhyun sebagai seorang ayah merasa bingung menghadapi sikap Jaemin yang berubah drastis. Mau bagaimana lagi, yang terpenting baginya sekarang Jaemin baik-baik saja walaupun ia hanya melihat secara fisik.

Malam ini Jeno menghabiskan waktu bersama ayahnya, Junho. Ia menginap di rumah minimalis namun mewah milik ayahnya. Jeno terlihat bosan terus mengganti saluran televisi sedangkan sang ayah hanya sibuk dengan tumpukan berkas dan laptop.

"Matikan saja televisinya" ucap Junho tanpa mengalihkan perhatiannya.

"Aku bosan. Ayah sejak tadi hanya bekerja" balas Jeno.

"Tunggu sebentar lagi kita makan malam. Lagi pula pekerjaan ayah sudah hampir selesai" jelas Junho.

Merasa tak ada respon dari Jeno, pria yang hampir menginjak kepala empat itu menutup laptopnya. Ia tersenyum pasrah begitu mengetahui Jeno sepertinya memang butuh perhatiannya saat ini.

"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Junho kini menggeser tubuhnya duduk di samping Jeno.

"Ayah sudah selesai bekerja?" Bukannya menjawab Jeno justru melemparkan pertanyaam yang sedikit menyinggung sang ayah.

"Sudah selesai. Bagaimana sekolahmu?"

"Ya begitulah. Tidak ada yang menarik"

"Benarkah? Tapi ayah dengar kau memiliki pacar?"

"Ah itu-"

Junho tertawa melihat Jeno tersipu malu. Ia mengacak-acak surai hitam Jeno, gemas tentu saja.

"Ayah akan lebih takut kau tidak mengencani gadis. Karena itu indikasi pria normal atau tidak" gurau Junho.

"Ayah?" Panggil Jeno.

"Hm?"

"Apa memanfaatkan seseorang untuk mengetahui sesuatu itu benar?"

"Maksudmu?"

"Aku masih merasa asing dengan keluargaku, terutama Jaemin. Aku tidak tau apapun. Mereka bahkan ibu seperti merahasiakan sesuatu. Aku hanya ingin tau apa yang terjadi. Kenapa semuanya membenci Jaemin"

"Lalu kenapa harus memanfaatkan orang lain? Tanpa ayah jawab pun kau tau itu bukan hal baik"

Jeno merenung. Ayahnya benar, perbuatannya salah.

"Seseorang menyembunyikan sesuatu pasti ada alasannya. Begitupun keluargamu. Ini hanya soal waktu. Jangan berpikiran buruk tentang keluargamu. Hanya sekali bertemu, ayah yakin mereka semua adalah orang yang baik" ujar Junho.

"Ayah terima kasih"

Jeno merapatkan tubuhnya pada Junho. Tidak peduli lagi berapa usianya, Jeno hanya ingin memeluk ayahnya selagi ia bisa.

***

"Nanti ayah jemput. Jangan lupa ajak Jaemin" kata Junho yang dibalas anggukan oleh Jeno.

Jeno memasuki ruang kelasnya dan mengedarkan pandangannya. Jaemin belum datang rupanya.

"Jeno!" Panggil Lami yang langsung membuat Jeno berjingkat kaget. Lami tertawa.

"Kau, ada apa?" Tanya Jeno.

"Eh, kau marah?" Balas Lami.

"Ya, aku marah"

"Kenapa?"

"Kau tidak membalas pesanku semalam. Tau kah aku menunggu balasanmu hingga larut malam"

Lami gemas dengan tingkah Jeno yang terkesan manja padanya. Ia mencubit pipi Jeno hingga empunya kesakitan. Bertepatan dengan itu Jaemin datang. Tak menoleh atau menggubris Jeno dan Lami yang masih di depan pintu. Ia hanya mengambil celah untuk masuk kelas.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang