"Hyung!"
Bruk
"Akh"
Jaemin dan Jaehyun tersungkur di depan stand tteobokki. Melihat mobil yang melanggar aturan lalu lintas tadi hampir menabrak Jaehyun, Jaemin sontak menarik Jaehyun hingga mereka terjatuh. Di sebrang Irene nampak cemas.
"Astaga! Nak kalian baik-baik saja?" Tanya bibi penjual tteobokki membantu keduanya berdiri. "Aigoo! Pasti pengendara tadi buta hingga tidak melihat lampunya. Kurang ajar" umpatnya.
"Saya baik-baik saja, bi. Terima kasih" kata Jaehyun.
"Tanganmu terluka nak. Tapi syukurlah adikmu ini cepat menarikmu. Jika tidak mungkin tidak hanya tanganmu yang terluka"
Jaehyun tersenyum kecil mendengar gerutuan bibi itu. Benar, jika saja Jaemin terlambat menariknya mungkin Jaehyun sudah terkapar. Perhatiannya kini teralih pada Jaemin yang diam.
"Jaem, kau tak apa?" Tanya Jaehyun.
"Maaf" lirih Jaemin.
Jaehyun memiliki firasat buruk akan hal yang terjadi selanjutnya. Jaemin pasti menyalahkan dirinya sendiri. Jaehyun memberikan beberapa lembar uang pada bibi penjual tteobokki dan membawa apa yang tadi dipesan Jaemin. Kemudian ia menggandeng Jaemin kembali menyebrang dan disambut oleh kepanikan Irene.
"Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Irene. "Jae, tanganmu"
"Tak apa noona. Ayo ke mobil" ajak Jaehyun.
Sampai di mobil Jaemin masih diam dan terkesan melamun.
"Jaem..."
"Harusnya ini tidak terjadi. Kalau Jaehyun hyung tidak menyusulku, ini tidak akan terjadi" ujar Jaemin.
"Hentikan Jaem" pinta Jaehyun.
"Kau terluka hyung, karena aku"
"Cukup!"
"Tapi kau terluka karena aku! Jika kau tidak menyusulku, ini semua tidak akan terjadi. Aku pembawa sial!"
"Jaemin ku bilang cukup!" Sentak Jaehyun.
Irene mengelus bahu Jaehyun untuk meradam amarah Jaehyun. Jujur, Irene tak pernah melihat Jaehyun semarah ini. Jaehyun menatap adiknya yang duduk di jok tengah. Begitupun Jaemin yang juga menatap sang kakak dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cukup. Tidak ada yang salah disini" ucap Jaehyun lirih.
"Ayo pulang. Sebelum semua bertambah parah" balas Jaemin.
Jaehyun menutup matanya sejenak. Bersiap memarahi Jaemin tapi justru Irene menggenggan tangannya erat dan menggeleng. Irene tidak ingin kakak adik di depannya bertengkar. Jaehyun mengerang kesal kemudian melajukan mobilnya menuju sekolah untuk menjemput Jeno.
Setelah sampai di sekolah, Jaehyun memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari gerbang atas permintaan Jaemin agar tak ada yang tau Jeno saudaranya. Dari jauh Jeno sudah berlajalan dengan raut wajahnya yang sumringah.
"Darimana hyung?" Tanya Jeno kala memasuki mobil.
"Jalan-jalan. Kenalkan dia temanku" kata Jaehyun memperkenalkan Irene.
"Hai, Irene" Irene menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Jeno.
"Jeno" balas Jeno dan lagi sambil tersenyum.
Hingga Jeno sadar Jaemin hanya berdiam diri sejak tadi. Bahkan enggan hanya sekedar menoleh padanya. Mungkin karena Jaemin masih sakit, pikirnya.
"Astaga! Tanganmu kenapa hyung?" Tanya Jeno begitu melihat luka di bawah siku tangan kiri Jaehyun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
