Jaemin dan Jeno duduk di salah satu kursi di depan mini market. Jaemin menyodorkan air mineral pada Jeno. Jeno langsung meneguk air mineral itu hingga setengah botol diakhiri dengan batuk pelan karena tersedak.
"dasar ceroboh" gerutu Jaemin sembari menepuk punggung Jeno pelan. "Jeno?"
"hm?"
"dari mana kau tau tentang Minhyung hyung?"
Jeno menelan ludahnya, mendadak ia gugup. Takut jika salah menjawab Jaemin akan marah lagi padanya. Apalagi hubungan mereka sedikit membaik. Jeno bersyukur ada hikmah dibalik sakitnya.
"kau tidak dengar ya? aku tanya" tanya Jaemin lagi dengan sedikit kesal.
"sudah ku bilang aku berpacaran dengan Lami untuk mencari tau alasan dia membencimu" jawab Jeno.
Jaemin mengepalkan erat tangannya. Ingin sekali memukul Jeno saat ini juga. Tapi ia berusaha meredam emosinya.
"kau mengikutinya?"
"aku memiliki cara lain, kau tidak perlu tau itu. Lagipula itu semua sudah berlalu. Tidak penting untuk dibahas"
"apa kau sudah tau-"
"semuanya. Aku sudah tau semuanya, apakah tidak boleh?"
Kini giliran Jaemin yang merasa gugup karena pertanyaan Jeno. Jaemin merasa Jeno sedang menyindirnya.
"aku tidak seperti mereka, Jaemin. Itu adalah hal terkonyol yang pernah ku dengar. Hanya orang yang tidak percaya akan adanya takdir yang berpikir seperti itu"
Hati Jaemin menghangat mendengar itu. Tapi tetap saja ia merasa kecewa dengan tindakan Jeno. Kendati demikian ia juga merasa bersalah menjadikan Jeno seakan adalah orang lain di keluarganya sendiri.
***
Hina membalas tatapan tajam Lami dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada getar kecewa antara Lami dan Hina. Sungguh hari ini Hina serasa tidak ingin berbicara dengan Lami.
"ada apa?" tanya Hina terkesan dingin. Berbeda dengan setiap saat ia selalu bersikap hangat terhadap Lami. Entahlah, Hina hanya merasa Lami sudah begitu keterlaluan karena membenci semua orang yang ada bersama Jaemin.
"aku memiliki kesalahan padamu? kau berubah Hina" tanya Lami sarkas.
Hina tersenyum kecut. "aku hanya mencoba untuk sadar diri sebelum keadaan mengusirku"
"apa maksudmu?"
"kau tau aku berhubungan baik dengan Jaemin, dan kurasa kau akan membenciku karena itu. Sama seperti yang kau lakukan pada Renjun dan Haechan, juga Jeno. Lebih baik jika aku pergi lebih dulu setelah tau aku juga akan berakhir seperti mereka"
Lami tersenyum menanggapi ujaran Hina. Lebih tepatnya tersenyum getir. Meruntuki takdir buruk yang selalu menimpanya. Lami berusaha menghalau tangis yang seakan ingin pecah saat ini juga.
"harusnya aku tau kau tak pernah tulus berteman denganku" ucap Lami.
"dan harusnya kau berpikir dua kali untuk mengatakan itu padaku. Semua berawal dari ketulusan, Lami. Tapi kau membiarkan amarah dan egomu berkuasa. Jaemin juga tulus bersahabat denganmu, bahkan hingga saat ini dia tulus mencintaimu"
Lami terkesiap. Ia tak menyangka Hina akan mengatakan itu. Lami kini mulai tergugah, apakah dia salah?
"kau harusnya bersyukur. Kau memiliki apa yang tidak ku miliki, yaitu kesetiaan. Kau beruntung dicintai oleh Jaemin dan Jeno. Tapi kau bertingkah seakan kau paling menderita di dunia ini. Apa kau tau kesaksian dari saksi mata di restoran? Apa kau menghadiri persidangan dimana keluargamu sempat menuntut Jaemin? Jaemin yang baru saja sadar dari koma, ia tak tau apapun, ia tak tau sahabatnya pergi dan harus menerima tuntutan yang tidak masuk akal. Kau tau kenapa ayah dan ibumu menerimanya? karena mereka mendengar semuanya. Mereka menerima kesaksian seseorang tentang kakakmu dan Jaemin saat itu. Sekarang Jeno, dia juga tidak bisa memilih harus bersaudara dengan siapa. Kau tidak bisa menyalahkan dia hanya karena dia adalah saudara Jaemin. Kau tau bagaimana masa lalu Jeno? kau tau Jeno bertengkar dengan Jaehyun oppa dan Jaemin karena merasa berbeda?"
Lagi, Lami tak bisa berkata-kata. Ternyata banyak yang tak diketahuinya. Banyak yang ia lewatkan.
"kau hebat, Lami. Kau bisa membuat sepasang saudara bertengkar" pungkas Hina.
Ia berdiri dari duduknya, beranjak meninggalkan Lami seorang diri disana. Hina menangis dalam pelariannya, ia sakit mengatakan semua itu pada Lami. Ia merasa menjadi sahabat yang terburuk.
Hina berakhir di salah satu ayunan setelah berlari cukup jauh. Hina meluapkan semuanya, ia menangis. Dan ia terus menggumamkan kata maaf sambil menyebut nama Lami. Biarlah malam ini Hina berlaku tidak adil pada Lami. Hina hanya menginginkan semua kembali sepertu dulu. Persahabatan yang utuh bersama Jaemin, Renjun, dan Haechan. Hina juga ingin Lami bahagia dan tak terus larut dalam dendam.
"Hina-chan?" seseorang menepuk pundak Hina membuat gadis itu terkejut.
"Jeno?" Hina buru-buru menghapus air matanya meski masih meninggalkan jejak di pipi.
Jeno mengedarkan pandangannya kesekeliling playground yang sepi. Ia lalu duduk di ayunan sebelah Hina, mengeluarkan sapu tangannya.
"air matamu, sangat menganggu pengelihatanku" gurau Jeno sambil mengisyaratkan agar Hina menghapus air matanya. "ku kira kau hantu saat aku mendengar suara tangis"
"sedang apa kau kemari?" tanya Hina.
"aku? rumahku di dekat sini. Aku selalu lewat sini" jawab Jeno mengundang ekspresi bingung Hina. "maksudku rumah ayah kandungku di dekat sini"
Suasana canggung tercipta. Memang mereka tidak akrab satu sama lain. Jeno dan Hina sama-sama larut dalam pikiran mereka sendiri sambil mengayukan pelan ayunan yang mereka duduki.
"kau kenapa?" tanya Jeno mengakhiri kecanggungan mereka.
"aku baik-baik saja, hanya ada yang menganggu pikiranku" jawab Hina.
"hingga kau menangis sesenggukan seperti itu? kurasa bukan masalah sepele"
"kau pandai menebak ya"
Jeno tertawa garing menanggapi. "sama seperti Jaemin, kau bisa percaya padaku. Kau bisa bercerita jika kau mau. Jujur saja aku benci melihat seseorang menangis. Apalagi menangis cukup keras sepertimu tadi"
"sayangnya aku bukan seseorang yang mudah bercerita"
Jeno memilih diam. Bingung harus memulai percakapan. Hina juga sepertinya sedang tidak ingin bicara, tapi ia juga tidak beranjak dari sana meskipun ada Jeno. Jeno menunduk mengalihkan pandangannya ke sepatu. Ia lelah, ingin istirahat. Tapi tidak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian disini. Ia menghela nafas berat.
"kalau lelah pulang saja. Kau juga baru sembuh kan?" ucap Hina sukses membuat Jeno mendongak.
"kau pulang, maka aku juga pulang. Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendiri disini"
"kau keras kepala ya ternyata" Jeno terkekeh mendengarnya. "aku menangis karena Lami"
Jeno terpaku. Ingin sekali ia bertanya semuanya yang memenuhi kepalanya, namun ia bingung mulai dari mana.
"aku marah padanya karena dia hanya memikirkan kesakitannya sendiri. Dia tidak menyadari ada orang lain yang lebih tersakiti dibanding dirinya. Aku marah pada Lami, aku kecewa"
Jeno tak sedikitpun mengalihkan atensinya dari Hina. Gadis itu kini justru tersenyum kecut, ingin menertawai kebodohannya sendiri.
"tidak tidak, Lami tidak salah. Aku berpikir seperti itu karena aku iri padanya. Iya, aku sangat iri dengan Kim Lami. Karena Jaemin sangat mencintai dia, aku membenci Lami karena itu. Kau dan Jaemin mencintai Lami. Wah... beruntung sekali dia"
"apakah sedangkal itu pikiranmu?"
Hina semakin ingin menertawai dirinya sendiri atas pertanyaan Jeno.
"entahlah. Aku sedih melihat Jaemin seperti ini terus menerus. Aku juga sedih memikirkan Lami dikemudian hari. Aku hanya ingin dia kembali menjadi Lami yang dulu, melupakan dendamnya yang tak masuk akal. Aku hanya... hanya..." Hina tak bisa melanjutkan kalimatnya. "hiks..."
Jeno terenyuh mendengar isakan Hina. Ia berdiri dan mendekati Hina. Lalu memeluk gadis itu sembari menepuk pelan punggung Hina untuk menenangkan.
"aku sangat menyayangi Lami, hiks... dia sahabatku..."
"aku tau, aku sangat memahami itu"
*
*
*
tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
