Lami berjalan menuju rumah kecil yang sudah tiga tahun belakangan dihuni bersama kedua orang tuanya. Tiba-tiba saja hatinya berdenyut sakit tatkala ia ingat penyebab hancurnya keluarga Lami.
Tak jauh dari rumahnya ia sudah bisa mendengar suara gaduh. Cepat-cepat Lami berlari melihat keadaan dalam rumahnya.
"Aku butuh uang!" Teriak sang ayah.
"Kau sudah mengambilnya tadi!" Balas ibu Lami tak kalah emosi. "Jangan hanya menghabiskan uang, kau juga harus menghasilkan uang!"
"Kau pikir apa yang aku lakukan hah?! Aku membayar hutang-hutang pada mereka. Gajiku bekerja tak cukup untuk kehidupan kita!"
"Sudah cukup!" Erang Lami.
"Apa kau? Apa kau pikir teriakanmu bisa menghasilkan uang? Apa kau bisa melunasi hutang-hutangku, hah?! Kau dan ibumu, berhentilah membuatku susah!"
"Kau bukan ayahku, ayahku tidak jahat sepertimu! Kau bukan ayahku!"
Lami kembali melangkah meninggalkan rumah. Menulikan telinga sejenak tanpa memperdulikan sang ibu yang terus memanggil namanya. Lami tak sanggup. Ia tak tau harus kemana dan mencurahkan semuanya. Hingga kakinya membawa Lami ke sebuah rumah elegan bernuansa jepang.
"Hina"
"Lami? Astaga, ayo masuk"
Hina mempersilahkan Lami masuk, lebih tepatnya menarik Lami. Ia tau sahabatnya tidak baik-baik saja sekarang.
"Ibu! Lami datang" ucap Hina setengah berteriak.
"Oh, Lami. Ada apa, nak? Ini sudah malam" bukan ibu Hina yang merespon melainkan ayah Hina yang tengah duduk di meja makan.
"Lami, kau baik-baik saja?" Kini giliran ibu Hina bertanya.
Lami tak mampu menjawab. Ia terlalu bingung dan malu menjelaskannya.
"Ya sudah, ajak Lami ke kamar untuk ganti baju. Setelah itu kita makan malam bersama"
Begitu masuk ke kamar Hina, Lami masih diam. Hina tak berniat untuk menanyakan sesuatu pada Lami. Lebih baik ia menunggu agar Lami sendiri yang menceritakan semua.
"Ayah bangkrut. Ayah tak memiliki apapun sekarang"
"Ayah bicara apa, tentu saja ayah masih memiliki ibu dan kami, anak-anak ayah"
Disana Lami melihat kedua kakaknya yang termenung.
"Aku belum memiliki pekerjaan untuk membantu perekonomian kita" kata si sulung.
"Hyung, kau harus sabar. Kau pikir mencari pekerjaan itu mudah"
"Tapi keluarga kita membutuhkan uang. Hutang ayah dan ibu begitu banyak. Aku harus membantunya"
"Hyung, kau lupa masih memiliki ku? Aku masih memiliki uang ditabunganku. Hyung, aku akan memanfaatkan kakiku untuk menghasilkan uang. Kau tau, bayaran menjadi seorang atlet tidaklah sedikit, apalagi jika aku menang. Uang yang aku dapat bisa membantu perkenomian kita. Dan kurasa itu cukup sembari menunggu ayah dan kau mendapat pekerjaan"
Lami tak bisa melupakan malam itu.
***
"JANGAN!"
"Jaemin? Nak?"
Jaemin membuka matanya dan deruan nafas yang tidak teratur terdengar disini. Ia melihat wanita yang kini duduk disampingnya. Jaemin mengusap wajahnya.
"Ibu..."
"Iya, ibu disini"
Sunghee mengenggam tangan Jaemin yang terasa dingin. Kemudian beralih mengusap punggung Jaemin yang kini sudah beralih duduk masih dengan mengatur nafasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanficPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
