(Fifty Two) Jebakan yang Sesungguhnya

3.7K 365 44
                                        

Jaemin mempercepat langkahnya begitu ia sampai di apartmen Jaehyun. Sudah lama dia tidak kemari. Jaemin mencoba membuka pintu dengan menekan beberapa digit angka. Dan benar saja, password pintu tidak berubah.

"ulang tahun ibu" gumam Jaemin.

Ia lantas masuk, melihat sepatu Irene tertata rapi di rak sepatu. Jaemin melangkah pelan dan sedikit mengendap. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tengah yang nampak sepi.

"noona?" panggil Jaemin.

Hening.

"noona?!"

"eoh, Jaemin? aku di dapur!"

Jaemin menghela nafas lega mendengar sahutan dari Irene yang berada di dapur. Ia lantas menghampiri Irene yang sibuk memasak sesuatu. Jaemin tersenyum lega. Irene baik-baik saja dan ia bisa menepati janjinya pada Lami besok agar bertemu dengan Irene.

"eoh, kau sudah datang?" tanya Irene tanpa menatap Jaemin karena masih sibuk dengan masakannya.

Jaemin juga masih berdiri di dekat dinding yang menyekat dapur dan ruang tengah.

"iya. Aku khawatir karena kupikir noona tadi-"

"bagaimana bisa ponsel Jaehyun ada padamu? dimana dia?"

"Jaehyun hyung pergi dengan Jeno dan ponselnya tertinggal. Aku akan menyusul tapi noona menelpon hyung lebih dulu" Jaemin mengrenyit melihat hidangan yang tersaji di meja makan. "Kenapa noona menyiapkan ini semua?"

Irene tak lantas menjawab. Ia membawa sepiring hidangan yang akan ia letakkan di meja. Jaemin melihat sesuatu yang janggal pada tatapan Irene. Gadis itu memang sedang tersenyum, tapi Jaemin melihat ada kebohongan disana.

"noona, kau kenapa?"

bugh

pyarr

"aaa!!!"

"argh"

Irene mentup mata dan telinganya. Piring yang ia bawa sudah pecah berserakan di lantai. Ia perlahan membuka matanya dan melihat Jaemin sudah tergeletak di lantai. Irene membekap mulutnya sendiri untuk meredam tangisnya karena melihat Jaemin kesakitan.

Kesadaran Jaemin masih utuh. Yang ia rasakan punggung dan lehernya yang nyeri akibat pemukul baseball dengan cukup keras mengenainya.

"bagaimana? sakit?"

Pertanyaan itu membuat Jaemin berusaha bangkit dan memfokuskan pandangannya. Matanya melebar, ia terperangah oleh kehadiran seseorang di depannya.

"Tae...yong h-hyung" lirih Jaemin.

"oh tidak, tidak. Aku bukan hyungmu, aku juga tidak sudi dipanggil hyung oleh pembunuh sepertimu!"

Taeyong membuang pemukul baseball itu ke sembarang arah. Ia lantas menarik Jaemin dan memaksanya berdiri. Tak peduli dengan ringisan kesakitan dari Jaemin akibat lengan kanannya yang ditarik paksa juga punggungnya yang terasa nyeri.

"lama tidak bertemu, pembunuh"

"aku bukan pembunuh, hyung"

plak

Jaemin terhuyung saat Taeyong menampar pipinya dengan keras. Taeyong kembali menariknya.

plak

satu tamparan lagi mendarat di pipi Jaemin hingga membuat pipi Jaemin memerah dan sudut bibirnya berdarah.

"Taeyong, sudah..." lirih Irene bergetar.

Ia tidak sanggup melihat Jaemin disakiti oleh kekasihnya sendiri.

"sudah? apanya yang sudah? ini baru saja di mulai" kata Taeyong.

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang