Entah bagaimana bisa Jaemin berada disini. Berdiri di depan pintu salah satu ruang VIP sambil menyeret tiang infus. Tadi Jaemin baik-baik saja. Sungguh kondisinya memang sudah membaik hanya saja masih memerlukan istirahat total sehingga ia masih harus menginap di tempat ini. Tapi sekarang mendadak ia merasakan tremor karena membaca nama pasien yang tertempel di pintu.
Lee Jeno
Itu marga Jeno dari ayah kandungnya. Jaemin menghela nafas sejenak sebelum kemudian menggeser pintu putih itu. Harus bagaimana ia sekarang? Sungguh Jaemin tidak tau.
"kenapa bisa seperti ini?" gumam Jaemin.
Perasaannya bercampur aduk, marah, sedih, dan kecewa. Entah pada siapa. Jaemin tidak menunjukkan reaksi apapun selain hanya diam menatap lamat-lamat Jeno yang masih 'tidur' lelap. Masih seperti terakhir kali Junho menemaninya.
"dasar bodoh, harusnya kau tidak datang. Kau akan membuat Lami membenciku lagi"
Jaemin bersuara. Meski tak ada respon dari yang diajak bicara, tetap saja Jaemin terus mengumpati Jeno.
"bangun bodoh!"
hening
"Pantas saja ibu terlihat letih, ibu jarang merias wajahnya. Ibu sedih, ternyata kau seperti ini. Kau tega atau bagaimana? jika bukan untuk ku atau siapapun, bangunlah untuk ibu" ujar Jaemin.
Jaemin justru emosional mengingat wanita yang menjadi ibunya sekarang. Sunghee terlihat menyedihkan, namun tiap kali Jaemin bertanya, wanita itu akan tersenyum dan mengatakan semua baik-baik saja.
"aku akan membalasmu jika ibu Sunghee terus sedih seperti ini" lirih Jaemin yang kali ini tidak bisa menahan air matanya. "Jung Jeno bangun!"
"Jaemin?!"
Chilhyun dan Jaehyun saling menatap satu sama lain. Setelah Chilhyun dan Jaehyun panik karena Jaemin tidak ada di ruang rawatnya dan justru mereka menemukan Jaemin di ruang rawat Jeno, Jaemin diam. Enggan menatap ayah dan kakaknya.
Chilhyun bisa membujuk Jaemin dengan mudah untuk kembali ke ruang rawat karena anak itu tidak menunjukkan protes atau penolakan. Jaemin memilih diam meski tatapannya menyiratkan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam.
Disini dia sekarang. Hanya duduk bersandar di brangkar yang sengaja dinaikkan bagian atasnya. Menatap kosong ke luar jendela. Chilhyun duduk di kursi samping brangkar dan Jaehyun yang berdiri sambil bersandar di pinggiran brangkar.
"Jaemin tidak boleh menyalahkan diri sendiri lagi. Ayah minta maaf karena belum bisa memperjuangkan keadilan untukmu. Sekarang ayah janji akan melakukan yang terbaik untuk Jaemin" ujar Chilhyun.
Jaemin beralih menatap ayahnya yang menggenggam tangannya.
"semua yang terjadi, tentang ibumu tentang Minhyung, itu semua kecelakaan. Bukan salah Jaemin. Jadi ayah mohon berhenti menyalahkan diri sendiri. Itu semua takdir"
"tapi mereka akan menyalahkanku. Nenek, kakek, Lami, Taeyong hyung, dan semua orang mengganggap aku pembawa sial. Aku-"
"sssttt.... itu tidak benar. Mulai sekarang Jaemin harus berani menghadapi mereka yang membenci Jaemin, karena kau memang tidak salah sayang. Ada ayah dan Jaehyun yang akan selalu di samping Jaemin"
"sekarang Jeno sakit"
"bukan salahmu" sergah Jaehyun.
Jaehyun menangkup wajah adiknya yang sejak tadi menunduk untuk menatapnya.
"Harusnya aku yang tidur di ruang itu, bukan Jeno. Jeno menyelamatkan aku, dan itu bukan salahmu"
"tapi kalian datang karena aku"
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
