"Jaemin sangat terguncang, kau harus memperhatikannya lebih intens"
"Maksudmu, putraku gila?"
Chilhyun emosi tatkala kalimat itu terlontar dari lawan bicaranya. Sunghee menggenggam erat tangan sang suami.
"Aku tidak mengatakan Jaemin gila. Aku pengacara, buka psikolog atau psikiater apalagi dokter jiwa. Jangan biarkan Jaemin melalui ini sendiri, dia butuh orang dewasa yang selalu ada di sampingnya" ujar Junho.
"Kau pikir aku ini apa? Tak mampu menjaga putraku, hah?! Aku sudah memperhatikannya, dan juga-"
"Apa? Ada Sunghee? Tidak semudah itu Jaemin bisa terbuka pada Sunghee. Dan kau memang sudah memperhatikannya, tapi tidak dari hati ke hati. Jeno mengatakan padaku kau sering pulang terlambat dan diam-diam mengamati ketiga putramu saat malam. Kau hanya memandang fisiknya" Junho mulai tersulut emosinya. "Disini... Disinilah yang harus kau perhatikan" sambungnya sambil menujuk hatinya.
"Chilhyun oppa sudah berusaha, aku pun juga melakukan hal yang sama. Jaehyun, Jeno, kami semua berusaha ada untuk Jaemin" kata Sunghee.
"Jangan libatkan anak-anak. Aku tau Jaehyun sudah dewasa untuk mengerti semuanya, tapi mentalnya tak seperti kalian sebagai orang tua. Jaehyun dan Jeno juga seorang anak, sama seperti Jaemin. Mereka membutuhkan kalian. Yang harus kalian lakukan adalah memberi apa yang mereka butuhkan"
"Junho-ssi, kau mengajariku sebagai orang tua?"
"Tidak, sama sekali tidak"
"Lalu apa maksudmu mengatakan itu padaku?"
"Aku yakin kalian adalah orang tua yang terbaik untuk anak-anak. Tapi, sudahkah kalian dapatkan keadilan untuk Jaemin? Khususnya kau, Chilhyun-ssi"
Chilhyun dan Sunghee terdiam. Terutama Chilhyun yang kini memutar balik ingatannya. Saat nenek dan mendiang kakek memperlakukan hal buruk pada Jaemin, Chilhyun hanya mampu menjauhkan Jaemin dari situasi itu. Chilhyun tak pernah berfikir tentang cara menghentikannya dan keadilan yang harusnya Jaemin terima.
"Jaemin terluka karena sampai kakeknya meninggal, Jaemin tak dianggap cucu dan justru semakin dibenci"
Chilhyun gusar, mengusap wajahnya kasar. Mulai bangkit dari duduknya. Bukan seperti ini yang ia inginkan tapi justru inilah yang terjadi. Dan semuanya bukan salah Jaemin, tapi dirinya yang tak mampu memberikan yang terbaik untuk Jaemin.
"Argh!!!"
Bugh
Sunghee sontak mendekat pada Chilhyun yang telah melukai tangannya sendiri setelah meninju dinding. Wanita itu memeluk suaminya dari belakang dengan lembut berusaha memberikan ketenangan dan meredam amarah yang ada dalam diri Chilhyun. Chilhyun marah pada dirinya sendiri, ia kecewa.
"Aku gagal"
Sunghee menggeleng samar saat mendengar ucapan Chilhyun.
"Kau bahkan belum memulai apa-apa, mari kita jalani bersama. Ada aku, Jaehyun dan Jeno. Mari kita jemput kebahagian bersama, untuk Jaemin. Dan kita semua juga akan bahagia" ujar Sunghee.
Chilhyun berbalik. Pria itu menggenggam tangan sang istri dan menciumnya beberapa kali berakhir dengan rengkuhan yang membawa Sunghee hanyut dalam dada bidang Chilhyun.
"Kapanpun kalian membutuhkan aku, hubungi saja. Ini juga menyangkut putraku Jeno. Karena Jaemin sudah menjadi bagian dari Jeno" suara Junho mengintrupsi hingga Chilhyun tersadar dan melepaskan pelukannya pada Sunghee.
"Oppa, terima kasih"
"Terima kasih, Junho-ssi. Kau sangat berjasa bagi keluargaku dan untukku pribadi. Aku tak tau harus bagaimana membalasnya"
"Cukup dengan menjaga anak-anak dengan baik. Baiklah, aku permisi"
Junho meninggalkan ruangan Chilhyun setelah berpamitan. Jeno sudah menunggunya di ruang tamu.
"Ayah bangga padamu" ucap Junho pada Jeno. "Kau melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang kakak"
"Aku hanya bisa mengandalkan ayah" balas Jeno tertunduk.
"Hahaha, kau tau ayahmu ini hebat dan bisa diandalkan"
Jeno berdecak mendengar kalimat Junho yang mulai membanggakan dirinya sendiri. Terkadang sifat percaya diri ayahnya itu sedikit menjengkelkan bagi Jeno.
"Dan kau tau, sigapnya ayah dalam melakukan sesuatu telah kau warisi. Itulah yang membuat ayah sangat bangga"
"Karena aku adalah putra ayah yang paling tampan, jangan dibandingkan dengan Jaehyun hyung"
Tawa Junho kembali terdengar. Tak hanya sifat sang ayah yang dapat diandalkan yang mengalir dalam darah Jeno, melaikan juga sifat percaya diri dan menjengkelan pun diwarisi oleh Jeno.
"Jeno, jaga ibumu, adikmu dan seluruh keluarga yang kau punya dengan kemampuan yang kau miliki. Jangan berharap apapun selain kebahagian untuk keluargamu, kau paham?"
"Iya aku sangat paham"
"Baiklah, ayah pergi. Sampai jumpa"
***
Gadis itu duduk seorang diri di bawah pohon. Membiarkan angin membelainya, membuat rambutnya terangkat begitu indah. Lami masih dalam perasaan kecewa. Semuanya berbohong bukanlah masalah bagi Lami. Tapi kali ini yang berbohong adalah sahabat dan pacarnya sendiri.
Bukan Hina namanya jika ia menyerah pada Lami. Gadis itu diacuhkan tapi tak sedikitpun ia mengacuhkan Lami. Jika ia membalas perlakuan Lami maka tak akan pernah berakhir masalah saat ini.
"Lami, kita perlu bicara" kata Hina.
Lami masih tetap dengan sifat acuhnya. Gadis itu memasangkan earphone. Hina adalah sahabat Lami dan tentunya Hina tau Lami tak pernah mendengarkan musik. Hina tetap berbicara.
"Aku juga tidak mengerti. Beberapa hari yang lalu saat Jeno sakit, Jaemin menceritakan semuanya padaku. Ini memang keinginan Jaemin untuk menyembunyikannya"
"Kau membelanya?" Suara Lami terdengar dingin di telinga Hina.
"Aku tidak membela Jaemin, aku hanya ingin menjelaskannya"
"Maaf Hina, aku tidak butuh itu darimu"
"Lalu, kau akan datang pada Jeno dan meminta dia menjelaskan semuanya dengan amarah besarmu? Lami sadarlah, mereka sedang berduka"
Lami tergugun atas apa yang dikatakan Hina. Sahabatnya tak sepenuhnya salah mengatakan itu. Lami memang ingin mendengar semuanya dari Jeno, tapi untuk saat ini tentu tak mungkin.
"Jaemin melakukan ini karena dia tak ingin orang-orang juga membenci Jeno. Terlebih saat dia sadar Jeno menyukaimu. Bukankah mereka sepasang saudara yang manis? Jaemin mengorbankan perasaannya untuk Jeno dan Jeno selalu ada untuk Jaemin. Impas, bukan?"
Lami masih diam mencerna semua yang dikatakan Hina.
"Lami, aku tak tau apa yang akan terjadi padamu dan Jeno selanjutnya. Tapi ku harap kau akan mengerti"
Hina melangkah pergi meninggalkan Lami. Membiarkan gadis itu memikirkan keputusannya untuk tetap bersama Jeno atau mengakhirinya. Rasa kecewanya tak terbendung, tapi ada sesuatu yang memberatkan hatinya untuk melepas Jeno.
*
*
*
Tbc
Ahahahhaa... Aku kembali
Kali ini pendek hehe...
Aku kalo ngetik sebatas 900-1000 karakter. Dan kali ini dapat 900an.
Tungguin next chapternya yorobun💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
