(Fifty) Menyadari

3K 324 12
                                        

Jaemin dan Lami sama-sama menatap guci abu di hadapan mereka. Tak ada yang berbicara. Namun demikian Lami sesekali melirik Jaemin yang sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari guci abu milik Minhyung. Lami lalu melirik lengan Jaemin yang masih berdarah, ingin sekali Lami menarik anak itu keluar dan mengobati lukanya.

Cukup berdiam diri, Jaemin menautkan kedua tangannya dan menutup mata. Ia berdoa untuk sang sahabat selama beberapa menit.

"terima kasih, kau mengizinkanku bertemu Mark hyung hari ini" ucap Jaemin tanpa menatap Lami. "aku memesan taksi yang akan menunggumu di depan. Pulanglah dengan itu, jangan jalan sendirian. Maaf aku tidak bisa mengantarmu" Jaemin beranjak.

"persahabatan kalian begitu kuat ternyata" ucap Lami menghentikan langkah Jaemin. "oppa datang di mimpiku. Ia menangis. Menangisimu, Jaemin. Oppa sedih memiliki adik pendendam seperti ku"

Jaemin menoleh pada Lami yang sekarang menunduk dalam. Lami membiarkan air matanya jatuh mengingat mimpinya semalam.

"oppa, maaf" lirih Lami syarat dengan penuh penyesalan.

Lami lantas menatap Jaemin yang masih dalam posisinya.

"apa dengan bersikap baik padamu akan mengembalikan semuanya? apa Hina akan kembali menjadi sahabatku?"

Jaemin membeku.

"Jung Jaemin, tolong aku. Bantu aku mengembalikan Hina, sahabatku. Hanya dia yang aku miliki sekarang dan aku malah merusak persahabatan ini"

Jaemin mendekat. Ia merengkuh Lami yang kemudian semakin terisak. Untuk pertama kalinya Jaemin melakukan ini pada Lami. Karena setelah Minhyung pergi, Jaemin sama sekali tidak bisa meraih Lami.

***

Junho dan Chilhyun gemas melihat Jaehyun yang cemas karena Jaemin belum pulang. Padahal tadi Jeno sudah bilang Jaemin akan pulang terlambat karena ada urusan.

Junho ada di kediaman Chilhyun untuk membicarakan bisnis yang akan dijalankan bersama. Selain itu mereka juga membahas tentang teror yang sedang mereka perkarakan diam-diam. Jeno juga ada disana, duduk bersandar di kaki Junho yang saat ini sedang duduk di sofa.

"aku pulang"

Jaehyun mengalihkan perhatiannya pada Jaemin yang baru saja masuk.

"wajahmu kenapa- Ya Tuhan! tanganmu?!" saking terkejutnya Jaehyun menarik lengan Jaemin kasar hingga membuat anak itu mendesis merasakan sensasi sakit yang menjalar di lengannya.

"ssshhhh"

"siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Chilhyun.

"kau tidak terlibat tawuran kan?" sergah Junho.

Daripada ikut menghujani Jaemin pertanyaan, Jeno lebih memilih memanggil ibunya.

"aku membantu seseorang tadi. Ada Preman yang mengganggunya" jelas Jaemin sambil tersenyum kikuk.

Ia hanya memaksakan senyumnya karena tidak ingin semuanya khawatir. Meski sebenarnya dia juga sedang dilanda sedih luar biasa.

"ini perlu jahitan sayang. Astaga ini bisa infeksi" kata Sunghee khawatir.

Baiklah mau tak mau Jaemin harus berurusan dengan dokter. Bersyukur dokter pribadi keluarga Chilhyun bisa mampir ke rumah dan mengobati Jaemin. Akhirnya anak itu mendapatkan tiga jahitan di lengannya.

"mau makan? ibu buatkan" tawar Sunghee.

"aku kenyang, bu" tolak Jaemin. "aku tidur saja ya?"

"iya sudah, tidurlah disini" kata Chilhyun karena memang saat ini Jaemin berada di kamarnya karena kamar Jaemin sendiri masih proses renovasi kaca yang pecah tempo hari.

"aku tidur di kamar Jeno saja"

"eh? jarang-jarang kau mau masuk kamarku"

"boleh kan, hyung?"

"iya boleh"

Sampai di kamar Jeno, Jaemin melepas kemeja sergamnya. Ia kesulitan karena tangan kanannya sangat sakit sekarang. Jeno begitu peka lalu membantu Jaemin melepeas kemejanya.

"apa sulitnya minta tolong" gerutu Jeno.

Setelah melepas kemeja lalu melepas kaos putih polos yang dikenakan Jaemin, Jeno menatap miris tubuh Jaemin yang memiliki beberapa bekas luka. Yang begitu terlihat ada bagian dada yang tentu saja luka bekas operasi bedah torax yang telah dilakukan.

"pakai ini saja" Jeno menyerahkan kaos slevelessnya pada Jaemin.

Jaemin berbaring sambil memejamkan matanya. Jeno memilih duduk sambil bermain ponsel.

"aku menyelamatkan Lami tadi" ucap Jaemin.

"apa?"

Jeno kini duduk tegap dan menunggu penjelasan Jaemin.

"aku pergi ke rumah abu untuk menemui Mark hyung. Di jalan Lami diganggu oleh dua orang pria dan aku menghajar mereka"

"kau sedang tidak mendongengiku kan?"

"ck, terserah kau percaya atau tidak" Jaemin kini tidur menyamping, menghadap ke kiri karena Jeno berada di sebelah kirinya. "dia menangis"

"lalu?"

"dia memintaku untuk mengembalikan sahabatnya. Dia kehilangan Hina"

"ya sudah bantu dia"

Jeno berusaha acuh meski dalam hatinya ia merasa iba pada Lami. Ingin dia berada di samping Lami agar bisa menjadi sandaran untuk gadis itu. Tapi keadaan tidak mendukung niatannya.

"kau tau? aku senang bisa bicara dengannya. Aku senang dia mau menatapku, mengizinkan aku bertemu dengan Mark hyung. Aku senang bisa memeluk dia untuk pertama kalinya"

"aku sudah kehilangan Jeno, aku tidak mau Hina juga meninggalkan aku. Aku tidak mau sendirian, Jaem"

"dan Lami sangat mencintaimu"

Jeno berdehem lalu ikut berbaring. Ia meletakkan ponselnya di nakas. Jeno menutup matanya menghindari percakapan dengan Jaemin yang sudah berubah membicarakan perasaannya.

"kau mungkin menghindar sekarang. Aku tidak tau harus memilih siapa, tapi aku yakin semua akan kembali dan berada di tempat yang seharusnya. Entah aku bersama Hina dan kau bersama Lami atau bahkan sebaliknya"

Jaemin tertidur setelahnya. Sedangkan Jeno belum, dia hanya memejamkan matanya. Ia terus memikirkan ucapan Jaemin. Apa itu artinya perasaan Jaemin sudah berubah?

***

Entah apa yang Irene lakukan, dia berada di apartment Jaehyun tanpa pengetahuan si pemilik. Irene menyiapkan segala hal sedemikian rupa dengan tangan bergetar. Ia sangat takut.

"kau akan membantu ku kan sayang?"

"a..aku akan-"

"jawab dengan benar!"

"iya aku akan membantumu, Taeyong"

"bagus, lanjutkan"

Taeyong membiarkan Irene menata beberapa hidangan di meja makan sedangkan dia berkeliling apartment. Sudah lama Taeyong tak kemari. Tempat ini masih sama disetiap sudutnya. Tatapannya menajam melihat fotonya terpajang di salah satu meja. Ia bersama adik laki-lakinya juga Jaehyun dan Jaemin. Taeyong menyeringai.

"kau tidak pantas menyimpan foto Minhyung"

Taeyong mengambil foto itu dari figura lalu menyobeknya dan membuang ke segala arah.

Irene tidak bisa berkutik. Ia takut karena semua akses untuk kabur telah ditutup oleh Taeyong. Bahkan Irene tidak membawa ponselnya karena disita oleh Taeyong, ia tidak bisa menghubungi siapapun sekarang.

"maafkan aku, Jaehyun" lirih Irene.

Taeyong menghampiri Irene dan mengelus surai Irene. Ia lalu mengeluarkan sebotol wine dari tas yang tadi ia bawa. Taeyong memasukkan sesuatu pada wine tersebut.

"pastikan dia meminum ini"

*
*
*

tbc

Crash | Book I (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang