Jeno memperhatikan Jaemin yang berbaring di sofa ruang rawatnya. Ia sudah merasa ac disini dingin tapi justru Jaemin terlihat berkeringat.
"Jaem? kau kepanasan ya?" tanya Jeno.
"tidak" jawab Jaemin singkat.
"lalu kenapa kau sampai berkeringat seperti itu?"
"sudah jangan pedulikan aku. Kau istirahat saja"
Bukannya mengikuti saran Jaemin, Jeno justru menurunkan kakinya dari brangkar. Jaemin sontak bangun dari tidurnya menghampiri Jeno yang sudah berdiri. Jaemin menggenggam tangan Jeno agar saudaranya itu tidak limbung dan jatuh.
"kenapa turun? istirahat saja" omel Jaemin.
Jeno mengrenyit saat merasakan suhu tubuh Jaemin yang hangat akibat tangan mereka bersentuhan. Ia juga melihat dengan jelas Jaemin berkeringat dingin.
"kau demam, Jaem"
"sudah ku bilang jangan pedulikan aku. Aku tidak apa-apa"
"bagaimana bisa aku istirahat melihatmu seperti ini. Pulanglah"
"ayah Junho belum datang"
"jika ayah datang kau harus pulang"
"sekarang berbaring saja disana"
"tidak, aku ingin duduk di sofa. Aku lelah"
Jaemin menurut saja, ia membiarkan Jeno duduk di sofa. Jaemin menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Sesekali memperhatikan Jeno yang sudah semakin membaik setiap harinya.
"hyung"
"hm?"
"kenapa tidak pernah cerita tentang kecelakaanmu?"
"ah, itu. Kalian sudah dengar ceritanya ya?" Jaemin mengangguk. "iya untuk apa diceritakan. Bukan perkara penting"
"tapi kau koma karena itu. Kau pernah cidera otak, itu sangat berbahaya asal kau tau"
Jeno tersenyum masam menanggapi omelan Jaemin.
"sama seperti mu, aku juga punya sesuatu yang tidak perlu untuk dibahas" sindir Jeno.
Jaemin tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendadak ia menyesal pernah bersikap demikian.
"aku dulu takut sekali mendengar suara ayah dan ibu ketika bertengkar. Jadi aku bermain di balkon agar tidak mendengar mereka. Saat itu seperti bukan keberuntunganku, jadi aku jatuh. Tapi aku senang karena saat aku bangun ayah sedang memeluk ibu. Walaupun pada akhirnya mereka berpisah juga" jelas Jeno.
"apa sampai sekarang kau menyesal?"
"sama sepertimu? apa kau menyesal ibuku menikah dengan ayahmu?"
"aku lebih menyesal memiliki saudara gila sepertimu"
Jeno menoyor kepala Jaemin yang kemudian mengundang tawa dari keduanya. Ya, kapan lagi mereka akan bercanda. Selama mereka menjadi saudara, moment ini sangatlah langka karena jarang terjadi.
"halo anak-anak!" seru Junho yang baru datang. Hari ini dia yang akan menjaga Jeno di rumah sakit.
"nah, ayah sudah datang. Sana pulang" usir Jeno sambil mendorong-dorong tubuh Jaemin.
Bukannya berdiri Jaemin malah kembali berbaring di sofa dengan kaki yang ia tumpangkan di paha Jeno membuat sang empu menatapnya tajam.
"Jaemin!" protes Jeno sambil menjauhkan kaki Jaemin dari pahanya. Jaemin hanya tersenyum usil melihat reaksi Jeno.
"Jeno kembali ke ranjang" kata Junho datar namun sudah terdengar seperti perintah.
Jaemin tersenyum penuh kemenangan sedangkan Jeno hanya mempoutkan bibirnya kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
