Jeno terbangun saat jam menunjukkan pukul dua siang. Tak ada siapapun di ruang rawatnya. Dengan usahanya sendiri ia berhasil duduk meski harus meringis merasakan tubuhnya yang kaku dan sakit di kepalanya. Jeno menatap ke jendela yang dibiarkan terbuka.
Ia tiba-tiba ingat kejadian di apartment Jaehyun. Melihat bagaimana Jaemin terkapar penuh luka. Dan saat ia bangun, Jaemin sudah baik-baik saja meski masih terdapat bekas-bekas luka dan memar di sekitar wajah dan bagian tubuh yang lain. Jeno juga melihat Jaemin masih mengkonsumsi obat-obatan. Tapi saat Jeno menatap Jaemin dengan raut khawatir dan sedih Jaemin hanya akan menghampirinya dan mengatakan dia sudah sehat.
"kenapa justru aku yang tidur lama, merepotkan sekali" lirih Jeno.
Dia sudah bisa bicara sekarang meski masih terdengar serak. Ia meraih ponsel di nakas sebelah brangkarnya. Ia mengendus sebal. Untuk bermain ponsel sebentar saja dia sudah pusing dan lelah. Jeno meletakkan kembali ponselnya lalu membenahi posisi duduk dengan menekan salah satu tombol di remote untuk menaikkan brangkarnya agar bisa bersandar.
Baru saja menutup matanya, Jeno mendengar suara geseran pintu. Ia kembali membuka matanya, melihat Jaehyun membawa kantung plastik besar yang ia yakin isinya adalah kudapan.
"sudah bangun?" ucap Jaehyun basa-basi. "mana ibu?"
"aku tidak tau" balas Jeno lirih.
"lalu kau sendiri yang merubah posisimu?" Jeno mengangguk menanggapi Jaehyun. "wah, aku yakin kau akan segera keluar dari rumah sakit. Mau puding?"
Lagi, Jeno hanya mengangguk. Jaehyun membuka puding yang tadi ia beli. Sudah akan menyuapi Jeno, tangannya tertahan.
"aku bisa makan sendiri, hyung"
"ei.. tidak apa. Aku suapi saja"
"hyuuung"
"ck, iya iya"
Jaehyun menata posisi duduk Jeno lalu memasangkan meja kecil yang ada brangkar khusus untuk makan ke depan Jeno. Ia hanya mengawasi Jeno yang mulai memakan sedikit pudingnya.
"Jeno?" lirih Jaehyun.
"hm?"
"terima kasih sudah menyelamatkan aku saat itu. Maaf membuatmu tidur terlalu lama"
"bukan salahmu, bukan salah Jaemin juga"
Jaehyun tertawa garing mendengar jawaban Jeno. Adiknya itu sama sekali tidak ambil pusing kejadian saat itu. Karena bagi Jeno mengetahui si pelaku diringkus polisi itu sudah lebih dari cukup.
"tapi hyung" Jaehyun mendongak menunggu Jeno melanjutkan kalimatnya. "siapa dia?"
Jaehyun terdiam. Sebenarnya Jeno sudah tau tapi dia ingin memastikan. Meski dalam benaknya juga menolak kenyataan yang ada. Merasa tak ada jawaban dari Jaehyun, Jeno mulai jengah. Ia menjauhkan puding di depannya.
"dia kakak Lami kan hyung? Dia menyebut nama Minhyung beberapa kali" kata Jeno. "hyung? kenapa diam? lalu dimana noona cantik itu? biasanya dia sangat perhatian denganmu dan Jaemin, kenapa aku tidak melihatnya sama sekali setelah hari itu? mungkin karena aku tidur terlalu lama? tapi- uhuk"
Jaehyun sigap mengambil botol mineral yang sudah diberi sedotan, menyodorkan ke arah Jeno dan memberikan usapan pelan di punggung adiknya. Batuk Jeno akhirnya reda setelah beberapa saat.
"jangan banyak bicara dulu" tegur Jaehyun.
"kau diam" protes Jeno lirih.
Jaehyun tersenyum lembut. Ia merapikan kembali sisa puding Jeno dan mengembalikan posisi meja. Ia lantas membantu Jeno berbaring karena Jeno sudah nampak lelah setelah tersedak dan batuk tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
