Jaemin memulai lagi perjalanannya. Ia sengaja mematikan ponsel agar tidak ada yang menganggu rencananya hari ini. Langit menggelap, taksi yang ditumpangi Jaemin berhenti di suatu pertigaan gang kecil. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Jaemin melangkah menyusuri gang kecil itu.
Langkahnya terhenti pada suatu rumah sederhana yang jauh dari kata mewah. Jaemin menghela nafas berat. Tiba-tiba ia menyesal datang kemari karena jujur saja dia belum siap. Beberapa menit Jaemin bertahan diposisinya, berdiri di depan pintu. Tangannya bergetar tiap ia berniat mengetuk pintu kayu itu. Mendadak nafasnya sedikit sesak. Jaemin takut, sangat takut.
"kau?"
***
Kyunwoo dan sang istri tak melepas pandangannya pada remaja yang saat ini duduk di hadapannya. Remaja yang tidak pernah lagi ia temui selama setahun terakhir. Tidak, mereka juga bertemu dalam waktu dekat ini. Mendadak Kyunwoo merasa takut mengingat bagaimana pertemuan mereka saat itu.
Jaemin.
Tak sedikitpun ia berani menatap sepasang suami istri yang ada dihadapannya. Ia menyesal tidak langsung pergi tadi dan justru bertemu dengan nyonya si pemilik rumah kecil yang ia datangi.
"minumlah, Jaemin" tawar Sooyeon memecah keheningan.
"i-iya bibi" balas Jaemin lirih.
Sooyeon iba melihat Jaemin yang terlihat ketakutan. Anak itu, masih terlihat manis sama seperti setahun terakhir. Sooyeon merubah posisi duduknya yang tadi di samping Kyunwoo kini beralih di samping Jaemin. Sekali lagi Sooyeon menyodorkan gelas berisi teh hangat pada Jaemin.
"ayo minum sedikit" pinta Sooyeon.
Mau tak mau Jaemin menerima gelas itu dan meminum sedikit isinya. Sooyeon mengelus kepala Jaemin.
"lama tidak bertemu, kau semakin-"
"mau apa kau kemari?" tanya Kyunwoo memotong kalimat Sooyeon. "mau mengancamku dan melapor polisi? atau jangan jangan kau kemari bersama polisi?"
"t-tidak, paman. Bukan seperti itu" sergah Jaemin dengan gugup.
"yeobo!" erang Sooyeon yang tidak tega suaminya menghujani Jaemin dengan pertanyaan menohok seperti itu.
"Diam kau! jangan ikut campur!" sentak Kyunwoo.
Entah mengapa tiba-tiba pria paruh baya itu tersulut emosinya. Ia menarik lengan Jaemin hingga anak itu berdiri dan sedikit mengrenyit sakit saat lengannya ditarik paksa.
"yeobo! Dia baru sembuh!" erang Sooyeon lagi.
"ku bilang diam kau, jalang!" sentak Kyunwoo.
Jaemin terkejut saat Kyunwoo memanggil wanita yang ia kenal dengan baik itu 'jalang'. Seburuk ini kah keadaan keluarga sahabatnya?
"mau apa kau datang kemari? Jawab!"
"aku, aku ingin minta maaf" kata Jaemin.
Cengkraman Kyunwoo di lengan Jaemin mengendor setelah mendengar Jaemin yang justru meminta maaf. Setelah cengkraman itu benar-benar terlepas Jaemin berlutut dihadapan Kyunwoo, membiarkan air matanya lolos begitu saja.
"ini semua karenaku, paman. Aku menghancurkan semuanya. Aku menghancurkan keluarga ini, maafkan aku. Sekalipun dengan nyawaku, kesalahan ini tidak akan pernah terbayar. Maafkan aku telah merubah paman menjadi penjahat. Maaf, aku sungguh minta maaf"
Sooyeon menutup mulut berusaha meredam tangis. Wanita itu tak percaya Jaemin akan berbuat seperti ini. Hatinya seakan terkoyak, ikut merasakan sakit yang dirasakan Jaemin. Sooyeon lantas mendekati Jaemin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
