Setelah 2 jam pasca operasi Jaemin sudah sadar. Dan di luar perkiraan kondisinya membaik dengan cepat, menunjukkan perubahan yang signifikan. Jaemin belum bicara apapun setelah ia bangun selain menjawab pertanyaan dari dokter yang memeriksanya tadi. Bukan tidak atau belum bisa bicara dengan lancar, tapi moodnya benar-benar hancur merasakan efek bius yang begitu menyiksa, menurutnya.
Jaemin menengok jam dinding yang baru menunjuk angka dua lalu menghembuskan nafas gusar di balik masker oksigen. Ya, Jaemin masih menggunakan alat itu untuk membantu pernapasannnya yang belum normal. Lalu ia melihat sekeliling yang hanya menyisahkan Jeno juga ayahnya sedang menikmati acara televisi yang menayangkan kisah kehidupan balita bersama sang ayah. The Return of Superman, cukup menarik karena sesekali ia melihat Chilhyun dan Jeno tertawa meski tidak begitu keras. Sungguh Jaemin tidak tahan dengan kondisinya saat ini.
"ayah" panggil Jaemin lirih, tak ada jawaban.
Tentu saja suaranya masih pelan dan terhalangi masker oksigen semakin membuat mood Jaemin hancur.
"Jeno" tak ada jawaban. "hyung!"
"ya?"
Bagus, Jeno menyadari panggilannya setelah ia berusaha mengeluarkan suaranya agar lebih keras.
"kenapa, Jaem?" tanya Jeno yang bersama Chilhyun mendekat ke arah Jaemin.
"aku memanggil sejak tadi" gerutu Jaemin.
"maaf kami tidak dengar, lagi pula ayah dan Jeno pikir kau sedang tidur" jelas Chilhyun sambil mengelus rambut Jaemin. "kenapa? ada yang sakit atau tidak nyaman?"
"Semuanya sakit, semuanya tidak nyaman!" runtuk Jaemin dalam hati. "haus"
"eh, tapi kata dokter kau belum boleh minum. Tunggu satu jam lagi" jelas Jeno sukses membuat Jaemin membulatkan matanya dan ingin mengerang jika keadaannya memungkinkan. Ia haus, ingin minum. Namun semuanya terasa sulit.
"tunggu sebentar, Ayah tanyakan dokter apa boleh kau minum sekarang"
Tak lama setelah Chilhyun keluar untuk bertanya pada dokter, pria itu kembali bersama dokter dan satu asisten dokter yang tersenyum ramah pada Jaemin dan Jeno.
"Jadi bayi nyonya Sunghee haus ya" canda Moon Taeil, asisten dokter.
"harusnya kau bersabar satu jam lagi" kata Dokter Cha yang justru memperburuk suasana hati Jaemin.
Ayolah anak itu hanya ingin minum.
"tapi kita coba sedikit dulu tidak masalah" sambung dokter Cha. "Jaemin masih terasa sangat sesak?" tanya dokter Cha yang dibalas gelengan pelan oleh Jaemin. "baiklah, dokter Moon tolong ganti dengan nasal kanula"
Chilhyun dan Jeno tersenyum lega melihat Taeil melaksanakan perintah dokter Cha yang mengganti masker oksigen dengan nasal kanula. Itu artinya keadaan Jaemin benar-benar membaik.
"tapi nanti jika sesak lagi kau harus bilang agar diganti dengan masker oksigen" ucap Taeil sembari memasang nasal kanula pada hidung Jaemin.
"iya" balas Jaemin.
Taeil menaikkan posisi ranjang Jaemin agar anak itu dalam posisi duduk untuk minum. Dokter Cha memberikan Jaemin air menggunakan sendok. Jaemin merasa sedikit lega merasakan sedikit air masuk dalam kerongkongannya yang kering.
"mual?" tanya dokter Cha.
"sedikit" jawab Jaemin.
Satu sendok lagi dokter Cha memberikan air pada Jaemin lalu menyudahinya membuat Jaemin nampak kesal.
"sedikit dulu, nanti kita coba lagi. Setelah tidak merasa mual baru boleh makan" jelas dokter Cha.
"terima kasih dokter" ucap Chilhyun sebelum dokter Cha dan Taeil keluar ruang rawat Jaemin.
Ternyata di ambang pintu tiga remaja tengah mengintip kegiatan dokter Cha dan Taeil yang merawat Jaemin. Bahkan sejak awal, sejak Taeil bercanda dengan menyebut Jaemin bayi nyonya Sunghee yang membuat ketiga remaja itu terkikik geli. Namun di balik semuanya, ketiga remaja itu, Renjun, Haechan, dan Hina merasa iba melihat keadaan Jaemin. Untuk minum saja harus menggunakan sendok. Miris sekali bukan?
"anyeong haseyo!Terima kasih sudah merawat Jaemin kami" Seru Haechan sambil menunduk saat dokter Cha dan Taeil keluar hingga membuat kedua dokter itu sedikit terkejut.
"Terima kasih dokter" sambung Renjun dan disusul Hina juga menunduk sopan.
Dokter Cha tertawa khas pria dewasa melihat perilaku menggemaskan tiga remaja di hadapannya. Ia mengangguk lalu pergi. Di dalam, perhatian Chilhyun dan kedua anaknya sudah tertuju pada Haechan, Renjun, dan Hina.
"wohooo bayiku!" seru Haechan yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"jangan teriak, bodoh!" tegur Jeno disusul dengan jitakan di kening Haechan membuat anak itu mengerang sakit.
Jaemin hanya menyaksikan adegan itu tanpa ada rasa ingin tertawa. Ditambah lagi Haechan masuk dan berseru 'bayiku'. Dokter sialan, mempermalukanku di depan sahabatku - batin Jaemin.
"bagaimana keadaanmu?" tanya Renjun.
"baik" jawab Jaemin singkat, tanpa senyum.
"dia berubah galak" sahut Jaehyun yang baru saja datang bersama Sunghee setelah mengantar Sunghee pulang mengambil keperluan Jaemin.
"ah betul, dia pemarah" tambah Jeno.
Jaemin tak menggubris sedikitpun perkataan Jaehyun dan Jeno yang membuat Renjun, Haechan, dan Hina tertawa. Sunghee dan Chilhyun memilih keluar untuk memberi waktu pada anak-anak.
"Hina-chan, kenapa diam saja?" tanya Jeno.
"eh, itu aku hanya ingin tau keadaan Jaemin dan Renjun sudah mewakilinya. Kurasa itu cukup, aku takut Jaemin sesak jika terlalu banyak bicara" jawab Hina malu-malu.
"coba tanya sekali lagi. Mungkin jawabannya akan berbeda jika seorang perempuan yang bertanya" usul Jaehyun.
blush...
Pipi Hina merona tanpa disadari yang lainnya. Ia menatap Jaemin yang juga menatapnya. Walaupun dengan tatapan yang datar tanpa ekspresi, Jaemin sukses membuat Hina lupa bagaimana cara bernafas.
"Mungkin jawabannya akan berubah, semuanya sakit, Hina. Tapi karena ada kau, aku baik-baik saja" goda Haechan membuat Hina semakin malu.
"Dasar gila" dengus Jaemin.
"Kenapa kau jadi pemarah sekali?" Tanya Renjun.
"Efek anestesi membuat dia pusing, mual, dan entahlah. Dia yang merasakan. Jadi moodnya berantakan" jelas Jaehyun.
"Maaf Hina. Kau dan yang lain datang kesini dan aku tidak memberikan kesan yang baik" kata Jaemin, akhirnya.
Mendengar penjelasan Jaehyun disusul dengan perkataan Jaemin tadi mengurungkan niat Haechan untuk menghibur atau menggoda Jaemin. Momentnya sungguh tidak tepat. Pasti sahabatnya itu sedang kesakitan sekarang.
"Jaemin, apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Hina. "Jangan hanya disimpan sendiri. Setidaknya kami tau apa yang kau rasakan sekarang agar kami tau bagaimana memperlakukanmu"
Jaemin terdiam mendengar itu. Benar juga kata Hina. Kasihan orang-orang yang saat ini ada menjaganya.
"Aku mual" ucap Jaemin.
"Ingin muntah?" Tanya Jaehyun yang berdiri bersiap mengambil baskom yang tersedia di toilet.
"Tidak bisa" kata Jaemin.
"Ya sudah tidur saja" saran Renjun yang selalu bijak dibanding Haechan.
"Kalau bisa, sejak tadi aku tidur" balas Jaemin.
"Astaga, kau benar-benar jadi bayi ya sekarang" gerutu Haechan yang membuat seisi ruang berdecak.
"Kau mau apa? Katakan, akan aku turuti. Ini juga sebagai permintaan maafku" tawar Jeno yang masih merasa bersalah.
"Tidak ada" jawab Jaemin.
Jaemin kemudian memilih memejamkan matanya setelah tau arah pembicaraan Jeno. Akhirnya mereka membiarkan Jaemin istirahat dan memilih untuk berbincang.
"Jeno, Lami menunggu kau membalas pesannya" kata Hina.
Baiklah, Jaemin mendengar itu.
*
*
*
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
