"Lami" panggil Jeno, Lami menoleh. "terima kasih sudah tersenyum malam ini"
"karenamu" balas Lami lirih. "Jeno"
"hm?"
"saranghae"
"aku lebih dari perasaanmu, Lami"
*
*
*
Jaehyun kembali menapakkan kakinya di ruang rawat Jaemin. Dilihatnya sang adik yang tidur dengan posisi miring membelakangi pintu. Ia menghela nafas sejenak sebelum kembali melangkah mendekati Jaemin. Jaehyun mengambil kursi dan duduk di samping katil.
"nyatanya aku tidak bisa tidak peduli padamu. Semua yang ku lakukan justru menyakiti diriku sendiri" ujar Jaehyun. "Jaemin, maaf"
Jaemin mengalihkan posisi tidurnya kini terlentang dan menoleh pada Jaehyun. Ia kemudian berusaha duduk yang akhirnya di bantu Jaehyun. Jaemin tersenyum kecut.
"kau benar, aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Aku butuh orang lain" kata Jaemin. "untuk duduk saja aku masih perlu bantuan"
Jaehyun tertawa renyah mendengar perkataan adiknya.
"hyung, maaf"
"tidak, kau tidak salah. Paman Junho dan Irene noona menyadarkanku atas sesuatu. Harusnya aku tidak menyerah pada keadaan. Harusnya aku tetap bersamamu apapun yang terjadi. Bukankah aku sudah berjanji atas itu? Bodohnya aku yang mengingkari janjiku sendiri"
"hampir" sahut Jaemin.
Ya, Jaehyun hampir saja mengingkari janjinya untuk tidak meninggalkan Jaemin sendiri. Tapi ia merasa bersyukur ada dua orang yang mengingatkannya akan hal itu. Junho dan Irene.
"hyung, aku tidak ingin mengatakan semuanya pada siapapun. Kau tau kenapa?" tanya Jaemin yang dibalas gelengan oleh Jaehyun.
"aku benjanji padamu untuk tidak terluka. Dengan melupakan semua yang terjadi aku berharap aku tidak akan terluka menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa aku bisa menyakiti orang lain dengan apa yang aku ketahui. Meski pada akhirnya kalian akan mengetahui apa yang sedang aku sembunyikan, entah kapan hari itu tiba. Aku takut, hyung"
Jaehyun menggenggam tangan Jaemin yang terasa dingin. Ia hanya diam dan ingin mendengar semua yang dikatakan Jaemin.
"kadang seseorang bisa terluka karena kebenaran, hyung. Sama seperti saat kau tau kebenaran kalau ibu meninggal karena aku"
"tidak, jangan berkata seperti itu. Itu semua takdir. Jaemin, aku dan ayah tidak pernah menganggapmu sebagai penyebab kematian ibu. Itu semua tidak benar"
"kau benar, hyung. Aku dihukum atas apa yang tidak pernah aku lakukan. Aku tidak pernah menginginkan kematian ibu dan aku tidak-"
"cukup. Itu semua bukan salahmu"
***
Jeno melangkah perlahan memasuki kediaman keluarga barunya. Pasalnya ini sudah cukup larut dan dia baru pulang dengan mengenakan seragam. Rumah tampak sepi, orang tuanya sedang di rumah sakit sedangkan Jaehyung mungkin tidur sekarang. Jeno menghela nafas lega, tak akan ada yang memarahinya.
"dari mana?"
"astaga!"
Jeno berjingkat kaget melihat kakaknya justru berjalan dari arah dapur membawa segelas air dan sudah berganti piama.
"itu, aku-"
"apa? Berkencan?"
"tidak"
Jaehyun menghela nafas sejenak. Entah apa yang sedang Jeno lakukan di luar sana hingga ia pulang larut seperti ini. Tidak mungkin Jeno bersama Junho karena pria itu sedang menangani kasus di luar kota. Jaehyun mendekat ke arah Jeno yang masih menunduk seakan takut menatap Jaehyun yang siap menerkamnya kapan saja. Jeno menutup matanya saat Jaehyun semakin mendekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
