halooo
selamat malam
siapapun yang membaca ini, mohon kemurahan hatinya mendoakan ayah dan ibu ku cepat pulih dari sakitnya, aamiin
terima kasih:)
*
*
*
Hari berganti, Jaemin memilih berangkat sendiri sedangkan Jeno ingin diantar oleh Jaehyun. Lagipula Chilhyun juga tidak mengizinkan Jeno mengendarai motor sendiri karena baru saja ia sembuh dari reaksi alergi. Jeno sesekali melirik Jaehyun yang fokus menyetir.
"hyung... soal teror itu?"
"jangan membahasnya"
Jeno semakin lekat menatap kakaknya meminta penjelasan. Bagaimana bisa dengan mudah Jaehyun mengatakan itu, sedangkan Jeno sudah terlanjur tau. Dan yang pasti teror itu tidak main-main karena sampai membahayakan nyawanya.
Jeno tau itu karena tadi saat ia masuk ke kamar Jaehyun untuk meminta penjelasan, Jaehyun sedang mandi dan akhirnya dengan lancang Jeno membuka ponsel Jaehyun yang memang tidak disandi. Jeno membaca beberapa pesan dan yang terbaru dikirim tengah malam.
bagaimana kejutan dariku? ini hanya sebagian kecil. Kau akan mendapatkan kejutan yang lebih besar dari ini
Pesan itu dibalas oleh Jaehyun dengan memperingatkan untuk tidak mengusik apalagi menyentuh adik adiknya. Jeno tidak akan membiarkan Jaehyun menghadapi ini sendirian.
"aku sudah tau tentang teror itu, hyung. Berapa lama kau-"
"ku bilang jangan membahasnya, Jeno!"
"tapi aku sudah tau dan tidak akan membiarkanmu menghadapi sendirian!"
Jaehyun menepikan mobilnya setelah adegan saling menaikkan nada bicara antara dia dan Jeno. Jaehyun tidak berani membalas tatapan Jeno.
"mau sampai kapan kau begini terus? hubungan kita baru saja membaik, dan kau mau merusaknya lagi dengan memperlakukanku sebagai orang asing? aku ini adikmu, hyung. Aku juga ingin berjuang bersamamu" ujar Jeno dengan emosi yang tidak bisa ia tahan lagi. Jaehyun mendongak mulai membalas tatapan Jeno.
Hati Jaehyun meluluh "maafkan aku, Jeno"
"aku tidak butuh maafmu, aku butuh penjelasanmu"
"jangan beritahu Jaemin, janji?" Jeno mengangguk mantap.
"sudah beberapa bulan ini aku mendapatkan teror, entah dari siapa. Aku tidak ingat pernah memiliki musuh, teror itu juga tidak memberikan petunjuk apapun. Aku sudah beberapa kali mencoba melacaknya, tapi tidak bisa. Pelakunya sangat cerdik. Dan teror itu semakin menggila akhir akhir ini, hingga kemarin dia berani memasukkan kepiting ke makananmu. Itu artinya dia tau semua hal tentang aku dan keluargaku"
Jeno berusaha memahami setiap kata yang Jaehyun ucapkan. Penjelasan panjang yang cukup membuatnya gila hanya dengan mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Jaehyun? kakaknya itu telah menghadapi ini seorang diri.
"siapa yang tau menegenai ini hyung? apa hanya Doyoung hyung?"
"iya, dan sekarang kau juga tau"
"ayo kita hadapi bersama hyung"
Jaehyun merasakan sensasi hangat menyengat kulitnya saat Jeno meremas pelan tangan kanannya. Ia tersenyum membalas ketulusan Jeno sebagai seorang adik yang ingin berjuang bersama kakaknya. Jaehyun lantas mengelus surai Jeno dan mengucapkan terima kasih.
***
Irene meremas pakaiannya karena gugup. Sejak tiga puluh menit lalu ia duduk di bangku taman yang sudah lama tidak ia kunjungi. Taman itu cukup sepi apalagi tempat Irene duduk sekarang yang jauh dari orang berlalu lalang. Ia sudah lama menanti kesempatan ini, tapi juga bukan seperti ini yang dia inginkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
