Jaehyun mengusap wajahnya gusar. Belum selesai dengan maslaah keluarganya, Jaehyun mendapatkan masalah lagi. Sebenarnya ini sudah lama ia alami, yaitu sebuah teror pesan singkat yang tertuju padanya. Jaehyun tak begitu ambil pusing masalah ini, tapi semakin lama teror itu semakin menjadi.
"Jaehyun, maaf aku terlambat" kata Doyoung, teman sekelasnya di kampus.
"Eh, tak apa hyung" balas Jaehyun.
Mereka mulai mengerjakan tugas bersama dan masih berada di lingkungan kampus. Tapi selama mengerjakan tugas, Jaehyun sedikit tak fokus dan Doyoung menyadari itu.
"Kau kenapa? ada masalah?" tanya Doyoung.
"Tidak, hyung" jawab Jaehyun tentu saja berbohong.
Doyoung menghentikan aktivitasnya yang sedang mengetik sesuatu di PCnya. Ia memperhatikan Jaehyun yang membaca buku namun terlihat tak seratus persen fokus pada bacaannya.
"Bukan berarti kita berteman sejak masuk perguruan tinggi yang artinya masih sebentar, kau tidak bisa bercerita padaku. Kapanpun kau butuh teman cerita, aku siap mendengarkan. Ya walaupun tidak bisa memberikan solusi" ujar Doyoung, Jaehyun tersenyum.
"Terima kasih, hyung. Mungkin lain kali aku akan menceritakannya padamu, aku belum belum siap menceritakan itu sekarang" jelas Jaehyun, Doyoung tersenyum dan menepuk pundak Jaehyun.
"Iya aku tau. Kau sepertinya juga perlu istirahat, wajahmu pucat"
"Kau benar, aku butuh istirahat. Tidurku sangat terganggu beberapa hari ini"
"Kurasa mengkonsumsi obat tidur untuk keadaan darurat bukan masalah. Enam butir sekaligus misalnya"
"Kau mengajariku bunuh diri?"
"Hanya menyarankan"
Mereka pun tertawa. Candaan Doyoung berhasil membuat Jaehyun melupakan teror itu, walaupun sejenak.
***
Jaehyun merebahkan tubuhnya begitu ia sampai di kamar. Memijat sedikit pangkal hidungnya untuk menghilangkan rasa pening yang ia dapatkan setelah beberapa hari tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ponselnya berdering,
Apa kau sedang menungguku?
Pesan itu lagi. Jaehyun mengeram kesal. Sepertinya ia harus segera mencari tau siapa dalang dari teror yang ia dapatkan beberapa waktu ini.
Tok tok
"Masuk saja" kata Jaehyun yang masih dalam posisi berbaring.
Sunghee memperhatikan Jaehyun yang menutup matanya dan masih memijat pangkal hidungnya. Putra sulungnya itu nampak begitu lelah. Sunghee meletakkan secangkir teh hangat di nakas, kemudian melepas sepatu Jaehyun yang masih terpasang.
"Ibu" kaget Jaehyun. "Maaf" Jaehyun merasa tak enak karena Sunghee melepas sepatunya.
"Kau sakit?" Tanya Sunghee.
"Hanya sedikit pusing. Mungkin terlalu lelah" jawab Jaehyun diiringi senyum tipis.
Sunghee beralih pada space kosong di ranjang Jaehyun dan duduk di samping disana.
"Kemari" suruh Sunghee menepuk pahanya agar Jaehyun tidur dipangkuannya. "Biar ibu pijat"
Jaehyun menikmati pijatan Sunghee. Tiba-tiba saja ia meneteskan air mata, Jaehyun segera menghapusnya. Sunghee tau Jaehyun menangis tapi enggan untuk bertanya dan lebih memilih fokus memijat pelipis Jaehyun.
"Jaehyun rindu ibu"
Tak bisa dipungkiri sentuhan Sunghee mengingatkan Jaehyun pada mendiang ibu kandungnya. Menyisihkan sedikit pening yang sejak beberapa hari ia rasakan. Jaehyun lelah tapi selama ia mampu berdiri, ia tak akan pernah tumbang. Alasan Jaehyun kuat adalah Jaemin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crash | Book I (END)
FanfictionPersaudaraan yang penuh rintangan, apakah mampu Jaemin dan Jeno melaluinya? Bahaya apa yang melanda Jaehyun? apakah sad ending atau happy ending?
