Besok aku mau ke dokter.
Kalo kamu tanya kenapa,
Ya aku bakal jawab kalo aku lagi sakit jantung gara-gara kamu!
-Gaska Gerald Agara
GASKA tak tau apa yang di lakukannya saat ini. Saat ia mendrible bola basket menuju ring, sebuah teriakan semangat diberikan oleh seorang gadis membuat Gaska kehilangan konsentrasi dan bola tersebut dapat dengan mudah diambil alih oleh lawan.
"Gaska! semangat!" sekali lagi, teriakan gadis yang tak lain adalah Asela membuat fokus Gaska pecah begitu saja.
Sekarang, mereka sedang menghabiskan class meeting mereka dengan mengadakan pertandingan basket antara kelas XI MIPA 1 yang dikaptenkan oleh Gaska melawan XI IPS 1 yang di kaptenkan olen Rangga.
Rangga adalah seorang siswa dari kelas XI IPS 1 yang terkenal dengan gaya cool yang keren abis dan Rangga juga termasuk ke dalam jajaran most wanted di SMA Permata ini, kedua setelah Gaska tentunya.
Karena walapun di juluki sebagai Pangerannya SMA Permata, sikap Rangga tidaklah seramah Gaska bahkan Rangga bisa dibilang orang yang acuh tak acuh terhadap sekitarnya alias masa bodoh.
Dan Gaska tidak akan membiarkan lawannya itu memenangkan pertandingan ini dengan mudah.
Prriiitt Prriiitt
Terdengar suara peluit dari Kenan yang bertugas sebagai wasit, pertanda waktu pertandingan telah habis dengan skor seri. Dengan serinya skor tersebut, kedua tim sepakat mengadakan babak final setelah jam istirahat.
Hari ini seluruh guru SMA Permata mengadakan rapat dadakan sehingga seluruh siswa siswi dibebaskan untuk melakukan apapun yang tidak berada diluar batas.
Gaska menghela napas lelah seraya mendudukan dirinya di bawah pohon rindang yang sedikit jauh dari lapangan. Diikuti oleh teman-temannya yang lain.
"Nih." ucap Asela memberikan sebotol air minum dan handuk kecil kepada Gaska.
Gaska menyerngit heran melihat ada namanya diujung handuk tersebut, tampak familiar dengan handuk itu.
"Darimana lo dapat handuk gue?" tanya Gaska setelah meneguk minumnya dan meraih handuk yang diberikan Asela.
Asela berdehem lalu duduk tepat disebelah Gaska, "Dari Arnan." jawab Asela riang.
"Hm," Gaska mengendus kesal, harusnya ia sudah bisa menebak siapa yang melakukan semua ini.
"Lo ngapain disini?" tanya Gaska meliahat Asela masih betah duduk nyaman disampingnya.
Asela dengan senyum cerahnya menolen kearah Gaska yang menatapnya bingung, "Ya, temenin lo lah ngapain lagi emang?" jawab Asela sok polos. Padahal ia tau itu sindiran untuknya pergi dari sini. Tapi bukan Asela namanya jika pergi begitu saja.
Gaska mengangguk paham, "Lo gak risih di lihatin anak-anak lain kayak gitu?" tanya Gaska menunjuk beberapa siswi yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan pandangan sinis.
"Bodo amat, yang penting gue bisa deket sama lo." Dan yah, sosok sejatinya Asela bangkit kembali. Masa bodoh dengan orang-orang itu.
"Mending lo pergi deh, disini cowok semua lo doang yang cewek."
"Suka-suka gue lah, mereka juga gak sewot."
Mendengar hal itu Gaska hanya bisa diam serta memutar bola matanya malas.
Asela terkekeh melehat respon lucu yang diberikan Gaska, "Hehe, lo mainya bagus banget tadi." ucap Asela dengan kekehannya.
"Pas gue main jangan teriak-teriak." ucap Gaska, menoleh dan menatap lekat pada Asela.
"Hah? kenapa? cewek-cewek lain juga gapapa, kenapa gue gak bole ?" tanya Asela bingung, pasalnya sedari tadi banyak siswi yang menyapa dan meneriaki nama Gaska.
Kenapa tidak dengan Asela?
"Gak apa, gak pake banget si lo." jawab Gaska berdecak sebal.
"Ha? gue gak peka?"
Gaska berdecak sebal sekali lagi ,kenapa gadis ini tak mengerti apa yang dimaksudkan nya. Gaska juga bingung cara menjelaskan hal rumit seperti ini, ia juga tak tau kenapa jantungya terasa berdebar-debar tadi.
"Kasian tenggorokan lo sakit nanti, gue kan khawatir." kata Gaska akhirnya memilih beralasan.
Aahh rasanya Asela ingin nyebur di comberan saja dari pada terbang tinggi terus jatuh lagi.
Entah kenapa mendengar pernyataan itu membuat hati Asela menghangat, seperti ada sengatan listrik dari hati ke hati secara tiba-tiba. Bahkan pipi Asela sekarang sudah merona dengan indahnya,.
"O-oh i-iya hemm gue gak bakal teriak lagi kok kalo Gaska khawatir." ucap Asela gugup, menunduk dalam. Sibuk menyembunyikan rasa senangnya.
"Iya makanya, diem aja." ujar Gaska sebal, kemudian menoleh ke samping. Melihat Asela masih memengang kedua pipinya yang tampak jelas berwarna pink.
"Sel,"
"Ka," ucap Asela dan Gaska bersamaa,membuat suasana diantara mereka jadi canggung.
"Lo duluan deh." Asela yang tak tahan dengan suasana seperti ini, segera mengangkat suaranya.
"Temen lo nungguin tuh." kata Gaska menunjuk Desla yang berada disebrang lapangan, sedang menatap kesal kearah Asela.
"Oh iya, gue pergi dulu. Bye! semangat lombanya!" kata Asela lalu berdiri dan segera pergi dari hadapan Gaska, membuat Gaska bernafas lega.
Seperti orang yang baru saja di ikat dengan erat dan ikatan baru akan terbuka dengan adanya kunci yang pas untuk gembok rantai tersebut.
Tapi kali ini bukanlah tubuh seseorang, melainkan hati seorang Gaska. Hati batu itu akhirnya merasakan kembali rasa hangat di dalam hati.
Holla !! Aing balik again dengan Gaska yang lagi salah tingkah gara-gara Asela..
Marah Gaska nya tuh..authornya gak becus bikin teenfic katanya..wkwk
Namanya juga perdana :v
Next => jangan lupa vote dan komen
KAMU SEDANG MEMBACA
GASKA ✓
Diversos‼️‼️‼️‼️‼️ INI MASIH DALAM TAHAP REVISI TANPA UNPUBLISH. JADI MAAF BANGET KALO ALUR AWAL SAMA PERTENGAHAN SAMPAI AKHIR GAK NYAMBUNG GITU. ‼️‼️‼️‼️‼️ Gaska gak pernah ketemu cewek kayak Asela sebelumnya. Cewek pecicilan yang ngejar-ngejar cowok tanpa...
